Upaya Diplomatik Akhiri Perang Sudan Meningkat, PBB Dorong Pertukaran Tahanan
Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang saudara di Sudan semakin meningkat meskipun pertempuran masih berlangsung. Utusan pribadi Sekretaris Jenderal PBB untuk Sudan, Pekka Haavisto, menyampaikan hal tersebut Rabu, 21 Oktober 2026.

Jenewa – Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang saudara di Sudan semakin meningkat meskipun pertempuran masih berlangsung. Utusan pribadi Sekretaris Jenderal PBB untuk Sudan, Pekka Haavisto, menyampaikan hal tersebut Rabu, 21 Oktober 2026.
Melansir dari Anadolu, Kamis, 22 Oktober 2026, hal tersebut disampaikan setelah pertemuan konsultatif keenam mengenai Sudan di Jenewa. Pertemuan tersebut diselenggarakan bersama oleh PBB dan Swiss.
Haavisto mengatakan keterlibatan internasional dengan para aktor politik Sudan kini semakin intensif dibandingkan sebelumnya. Ia menyoroti kunjungannya ke Khartoum pada September yang mencakup pertemuan dengan kelompok politik serta perwakilan perempuan dan kaum muda.
Namun, ia memperingatkan bahwa sejumlah pihak di Sudan masih meyakini kemenangan militer dapat dicapai. Haavisto menegaskan bahwa konflik Sudan tidak dapat diselesaikan melalui jalur militer.
Ia menekankan pentingnya perundingan diplomatik untuk mengakhiri perang. PBB kini menjajaki dua langkah untuk membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang bertikai.
Langkah pertama mencakup kemungkinan pertukaran tawanan perang dan tahanan, baik warga sipil maupun tentara. Langkah kedua bertujuan memfasilitasi akses pelajar terhadap ujian tanpa memandang lokasi tempat tinggal mereka.
Haavisto menyebut kedua inisiatif tersebut sebagai langkah-langkah kecil jika dibandingkan dengan kehancuran akibat konflik. Pertemuan di Jenewa berlangsung selama dua hari dan dihadiri perwakilan dari 21 negara serta lima lembaga internasional.
Para peserta membahas pengaturan keamanan, gencatan senjata kemanusiaan, kemungkinan penghentian pertempuran, dan solusi politik. Haavisto juga menyoroti peningkatan koordinasi antara kelompok Quad dan Quintet.
Kelompok Quad terdiri atas Amerika Serikat, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Sementara itu, Quintet mencakup Uni Afrika, Otoritas Antarpemerintah untuk Pembangunan (IGAD), Liga Negara-Negara Arab, Uni Eropa, dan PBB.
Menurut Haavisto, peningkatan koordinasi kedua kelompok tersebut merupakan salah satu perkembangan terpenting dalam upaya perdamaian Sudan. Pembahasan juga diarahkan untuk menghubungkan perundingan keamanan dengan perencanaan politik setelah kemungkinan tercapainya gencatan senjata.
Duta Besar Swiss Tim Enderlin turut menekankan pentingnya koordinasi internasional untuk membangun proses perdamaian yang inklusif. Ia mengatakan proses tersebut harus melibatkan masyarakat Sudan, memastikan suara mereka didengar, serta dimiliki dan dipimpin oleh rakyat Sudan sendiri.
Enderlin memperingatkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan Sudan, tetapi juga negara-negara tetangganya. Ia menyebut sekitar 34 juta orang di Sudan bergantung pada bantuan kemanusiaan.
Sumber: RRI.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.