Trump Klaim Perang Iran Mendekati Akhir, Harga Minyak Berpotensi Turun
Donald Trump memprediksi perang AS-Iran segera berakhir dan harga minyak dunia turun tajam. Namun, kepastian penghentian konflik masih dinantikan.

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan perang dengan Iran akan segera berakhir. Ia juga memprediksi harga minyak dunia akan turun tajam setelah konflik tersebut berakhir.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Montana pada Rabu malam waktu setempat, 14 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.
“Perang dengan Iran akan segera berakhir. Mereka menginginkan perang ini berakhir. Mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan harga minyak akan anjlok drastis,” kata Trump, sebagaimana dilaporkan Anadolu dan dikutip ANTARA.
Pernyataan tersebut muncul ketika konflik AS-Iran masih membayangi pasokan energi global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama di jalur pelayaran strategis, turut memengaruhi kekhawatiran pasar terhadap distribusi minyak.
Dalam kampanye di Montana, Trump mengklaim operasi militer AS telah melemahkan kemampuan pertahanan Iran secara signifikan. Ia menyebut angkatan laut dan angkatan udara Iran tidak lagi memiliki kemampuan seperti sebelumnya.
Trump juga mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pejabat Iran yang akan menjadi mitra negosiasi dalam upaya mengakhiri konflik.
Ia menyatakan bahwa para pemimpin Iran telah kehilangan posisi mereka akibat operasi militer. Kondisi tersebut, menurut Trump, membuat proses negosiasi menjadi lebih rumit.
Meski menyampaikan optimisme bahwa perang segera berakhir, pernyataan Trump belum disertai kepastian mengenai jadwal penghentian pertempuran maupun kesepakatan damai antara kedua negara.
Pernyataan Trump mengenai kemungkinan berakhirnya perang menjadi perhatian pasar energi karena konflik berkepanjangan dapat mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah.
Jika ketegangan mereda dan jalur distribusi energi kembali berjalan lebih lancar, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berkurang. Namun, penurunan harga tidak hanya bergantung pada pernyataan politik, melainkan juga pada perkembangan keamanan, pasokan, permintaan, dan hasil diplomasi.
Karena itu, prediksi Trump bahwa harga minyak akan turun tajam masih perlu diuji oleh perkembangan situasi di lapangan.
Pasar energi global kini menanti langkah konkret Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik. Kepastian gencatan senjata atau kesepakatan diplomatik akan menjadi faktor penting bagi prospek harga minyak dalam waktu mendatang. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!Klik 👉 Channel TIMES IndonesiaPastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Sumber: TIMES Indonesia. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Industri Manufaktur Tumbuh 5,3 Persen, Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji ungkap industri manufaktur tumbuh 5,3% di 2025, lampaui ekonomi nasional. Momentum ini harus dijaga untuk dorong PDB.
Harga Minyak Melonjak di Tengah Ancaman Konflik Iran
Harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 2 persen pada Jumat, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat eskalasi konflik Iran.
Presiden Bolivia Tetapkan Darurat Nasional Imbas El Nino
Presiden Bolivia, Rodrigo Paz, menetapkan status darurat nasional untuk mengerahkan sumber daya dalam menangani dampak fenomena cuaca El Nino.
Antisipasi Kepadatan Apel Akbar Solidaritas Palestina Hari Ini, Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
Antisipasi Kepadatan Apel Akbar Solidaritas Palestina Hari Ini, Polda Metro Jaya Siapkan Rekayasa Lalu Lintas