Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Harga Minyak Melonjak di Tengah Ancaman Konflik Iran

Harga minyak Brent dan WTI melonjak lebih dari 2 persen pada Jumat, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat eskalasi konflik Iran.

Sumber foto: Suara Independent News

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia lebih dari 2 persen pada perdagangan Jumat (30/10/2026). Kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan akibat potensi eskalasi perang Iran membuat Brent dan West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup pada level tertinggi sejak akhir April, dilansir dari Idxchannel.

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Desember yang berakhir pada Jumat tercatat naik 2,4 persen menjadi USD117,64 per barel. Dalam perdagangan tersebut, harga Brent sempat menyentuh USD118 per barel.

Sementara itu, kontrak Brent untuk pengiriman Januari yang lebih aktif diperdagangkan menguat USD2,63 menjadi USD113,43 per barel. Adapun minyak mentah WTI Amerika Serikat naik 2,08 persen ke posisi USD104,12 per barel.

Meskipun mengalami lonjakan pada akhir pekan, penguatan harga minyak secara mingguan masih berada di bawah 1 persen. Brent mencatat kenaikan 0,79 persen, sedangkan WTI menguat 0,82 persen.

Jika dihitung secara bulanan, pergerakan kedua acuan minyak tersebut menunjukkan kenaikan lebih besar. Brent meningkat 13,6 persen, sementara WTI mencatat lonjakan mencapai 15,2 persen.

Ketidakpastian pasokan menjadi perhatian pelaku pasar setelah muncul ancaman peningkatan konflik Iran. Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz turut memperbesar risiko terganggunya distribusi minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Timur Tengah.

Senior Vice President Trading BOK Financial Dennis Kissler menilai perkembangan situasi keamanan kawasan tersebut masih menjadi perhatian utama pasar energi.

"Pelaku pasar akan tetap mencermati aliran minyak dari Timur Tengah dan kemungkinan eskalasi oleh pasukan Amerika Serikat serta sekutunya," ujar Dennis Kissler, Senior Vice President Trading BOK Financial, seperti dikutip Reuters.

Layanan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena perangkat peledak yang ditempelkan pada sebuah kapal kecil pada Jumat. Hingga laporan tersebut disampaikan, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk. Gangguan keamanan di perairan tersebut berpotensi menghambat kelancaran distribusi energi dari negara-negara produsen di Timur Tengah.

Sejumlah sumber maritim menyebut insiden tersebut sebagai aksi sukses pertama yang diketahui menggunakan ranjau limpet di jalur pelayaran tersebut sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai pada Februari.

Di tengah meningkatnya risiko keamanan, pemerintah Amerika Serikat juga mengambil langkah perlindungan terhadap personelnya di Arab Saudi. Pada Jumat, pemerintah memerintahkan pegawai non-darurat beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan negara tersebut mulai 23 Oktober.

Kedutaan Besar AS di Riyadh menjelaskan keputusan tersebut berkaitan dengan risiko keamanan, termasuk ancaman serangan kelompok Houthi terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya di Arab Saudi.

Pada Kamis, kelompok Houthi yang didukung Iran menyatakan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi strategis di Arab Saudi. Sasaran yang disebutkan mencakup kilang minyak Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas produksi Abqaiq milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco.

Sumber: Suara Independent News. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with