Rabu, 4 November 2026

DVP Berita

Terkini
Nasional

SD Muh 1 Solo Gelar Bulan Guru Nasional

Bulan Guru Nasional 2026 jadi momentum untuk menggaungkan kampanye Bangga Menjadi Guru sebagai upaya memperkuat kebanggaan terhadap profesi guru karyawan.

Sumber foto: RRI.co.id

RRI. CO. ID, Surakarta – Bulan Guru Nasional 2026 jadi momentum untuk menggaungkan kampanye Bangga Menjadi Guru sebagai upaya memperkuat kebanggaan terhadap profesi guru karyawan.

Hal itu disampaikan Sri Sayekti, Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo Jawa Tengah, dalam agenda peran satuan Pendidikan dalam kampanye bulan guru nasional di ruang siaran radio solo belajar, Selasa 03 November 2026.

Menurut Sayekti, Bulan Guru Nasional 2026 menjadi lebih dari sekadar rangkaian peringatan. Momentum ini adalah gerakan bersama untuk memperkuat penghormatan terhadap profesi guru, memperluas ruang berbagi praktik baik, membangun kolaborasi antarpemangku kepentingan.

“Guru hebat, Indonesia kuat,” ujarnya.

Ia menambahkan melalui semangat gelar bulan guru nasional, diharapkan semakin banyak guru yang termotivasi untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

“Alhamdulillah hari ini kita gelar salah satunya talk show peran strategis guru menuju Indonesia Emas 2045, serta nilai-nilai yang melandasi Bulan Guru Nasional. Menghadirkan dalang Muda Muhammadiyah seabrek prestasi Ki Agung Sudarwanto,” bebernya.

Agung Sudarwanto seorang pria kelahiran Desa Kauman, Nganjuk Jawa Timur pada 4 Agustus 1979 ini mengaku mulai mendalang sejak kelas lima SD tahun 1990.

“Saat itu bertepatan dengan hari Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) di Pendapa Kabupaten Nganjuk. Dalam pentas keliling Jawa Pos itu, saya sebatas ‘mucuki’ Ki Manteb Soedharsono tanggal 2 Agustus 1990,” ujar Agung, panggilan akrabnya.

Dia menjelaskan, mucuki adalah pergelaran ekstra (berupa fragmen) sebelum pergelaran wayang kulit inti dilakukan.

“Mucuki pada umumnya dilakukan oleh anak dalang dan cantrik yaitu murid dalang tersebut. Saat itu saya bukan anak seorang Dalang, tapi diberi kepercayaan untuk mucuki Ki Manteb Soedharsono pada waktu pementasan di Nganjuk,” ungkap alumnus Program Studi Pengkajian Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tahun 2009 ini.

Dalam paparannya, Agung menyoroti generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi dituntut tidak hanya menguasai teknologi dan bahasa asing, tetapi juga tetap mencintai bahasa daerah.

Salah satunya bahasa Jawa yang menjadi warisan budaya sekaligus sarana membangun karakter.

Bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya terkandung nilai unggah-ungguh, tata krama, dan penghormatan kepada sesama.

Melalui pembelajaran bahasa Jawa, anak-anak dikenalkan pada penggunaan bahasa ngoko dan krama sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, guru, maupun teman sebaya.

“Bocah-bocah jaman saiki pancen kudu mumpuni lan nresnani basa Jawa. Aja nganti amarga kepengin diarani modern, banjur lali marang basa lan budaya dhewe,” ungkapnya. (EP)

Sumber: RRI.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with