Harga Minyak WTI Melemah 7 Persen di Tengah Ketegangan AS Iran
Harga minyak WTI turun 7 persen dalam sepekan ke US$ 95,7 per barel akibat tekanan teknikal dan ketidakpastian hubungan AS-Iran.

Tekanan teknikal dan ketidakpastian hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran membuat harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak melemah. Kondisi pasar energi global ini dipengaruhi harapan tercapainya kesepakatan diplomatik serta risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah, dilansir dari Investasi pada Rabu (4/11/2026).
Data Trading Economics yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan harga WTI berada di US$ 95,7 per barel pada Rabu (4/11/2026) pukul 10.58 WIB. Angka tersebut mencerminkan penurunan 0,44% secara harian dan 7% selama sepekan terakhir.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai tekanan penurunan masih mendominasi pergerakan WTI berdasarkan grafik harian. Analisis teknikal memperlihatkan pola double top dan indikasi bearish divergence yang mencerminkan melemahnya momentum kenaikan harga.
Pola double top terbentuk ketika harga dua kali gagal melewati level puncak yang sama. Sementara itu, bearish divergence menunjukkan ketidaksesuaian antara pergerakan harga dan indikator teknikal yang mengindikasikan penurunan kekuatan momentum naik.
Geraldo memperkirakan harga WTI berpeluang melanjutkan koreksi menuju area support US$ 89,97-US$ 86,82 per barel dalam jangka pendek.
"Zona tersebut menjadi area teknikal yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah tekanan jual masih berlanjut atau mulai tertahan. Selama tren pelemahan belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat, peluang koreksi lebih dalam tetap perlu diwaspadai," ujar Geraldo Kofit dalam risetnya, Rabu (4/11/2026).
Dari sisi fundamental, perkembangan hubungan Washington dan Teheran menjadi faktor penting yang memengaruhi arah harga minyak. Harapan tercapainya kesepakatan diplomatik sebelumnya telah menekan harga karena mengurangi kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kesepakatan konkret antara kedua negara berpotensi mengurangi risiko gangguan distribusi minyak global. Situasi tersebut juga dapat menurunkan premi risiko geopolitik yang selama ini menjadi salah satu faktor penopang harga minyak mentah.
Sebaliknya, belum tercapainya kesepakatan membuat ketidakpastian diplomatik tetap membayangi pasar. Apabila hubungan kedua negara kembali memburuk dan konflik meningkat, kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga.
Perkembangan negosiasi AS-Iran masih menjadi perhatian pelaku pasar karena hasil diplomasi dapat memengaruhi persepsi risiko pasokan energi global. Harapan meredanya konflik memberikan tekanan terhadap harga, sedangkan potensi eskalasi menjadi faktor yang dapat menopangnya.
Sumber: Demokratis.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
26 provinsi dan kota akan secara proaktif menanggapi bencana alam dalam 10 hari ke depan.
(Inspeksi) - Komite Pengarah Nasional untuk Pertahanan Sipil telah mengeluarkan dokumen yang meminta 26 provinsi dan kota untuk secara proaktif menanggapi potensi bencana alam...
Saudi Berhasil Cegat Rudal yang Disebut Menuju Madinah, Begini Tanggapan Houthi
Koalisi pimpinan Arab Saudi mengumumkan pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang disebut...
Karhutla Kalimantan: Bencana Alam atau Kegagalan Tata Kelola? Halaman 1
Lebih dari 70 persen titik panas di Kalimantan berada di area konsesi. Apakah karhutla murni bencana alam, atau kegagalan tata kelola?
MotoGP Qatar 2026 Tetap Digelar di Tengah Konflik Timur Tengah
MotoGP Qatar tetap lanjut di tengah konflik Israel-Iran; jadwal dirombak akibat penundaan pembalap serta ancaman keamanan hotel.