Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Cara Gen Z Menyelamatkan Indonesia dari Perang Konten

Pernah tidak, Anda merasa lelah membaca berita yang isinya cuma perpecahan, saling cela antar-pemeluk agama, atau potongan video provokatif yang lalu-

Sumber foto: Kompasiana.com

Pernah tidak, Anda merasa lelah membaca berita yang isinya cuma perpecahan, saling cela antar-pemeluk agama, atau potongan video provokatif yang lalu-lalang di media sosial? Banyak orang tua dan pengamat sibuk mengkhawatirkan Gen Z. Katanya, generasi yang lahir di era scrolling ini paling rentan terpapar radikalisme digital, gampang diadu domba algoritma, dan mudah terbawa arus "ustaz instan".

Namun, tunggu dulu. Jika kita bersedia melihat lebih dekat ke ruang-ruang kreatif anak muda, ada realitas lain yang justru bikin adem. Di tengah riuhnya jualan kebencian berkedok agama, ternyata banyak anak muda Gen Z yang diam-diam sedang merajut ketahanan bangsa lewat aksi nyata. Mereka tidak sibuk berdebat di kolom komentar, melainkan langsung turun tangan membuktikan bahwa beragama dengan akal sehat itu bukan cuma mungkin, tapi juga keren.

Mari kita intip bagaimana potret nyata perjuangan Gen Z dalam membangun benteng pertahanan dari ekstremisme dan radikalisme digital hari ini. Coba bayangkan pemandangan ini: Saat bencana banjir atau erupsi gunung meletus menghantam sebuah daerah, di posko relawan tampak seorang pemuda berpeci, seorang pemudi berhijab, dan seorang anak muda berkalung salib sedang sibuk membagi tugas. Yang satu membungkus nasi kotak, yang lain mendata pengungsi, dan sisanya mendistribusikan obat-obatan.

Apakah di antara mereka ada perdebatan soal dalil atau agama siapa yang paling benar? Sama sekali tidak. Bagi Gen Z, kemanusiaan tidak punya warna paspor maupun identitas agama. Mereka paham betul bahwa ketika krisis terjadi, yang dibutuhkan adalah tangan yang mengulur bantuan, bukan mulut yang sibuk menghakimi. Aksi kolaborasi lintas iman dalam kegiatan sosial, lingkungan hidup, hingga tanggap bencana menjadi bukti nyata bahwa toleransi buat Gen Z bukan cuma slogan klise di buku pelajaran, melainkan praktik hidup sehari-hari.

Siapa bilang santri itu gagap teknologi? Hari ini, lorong-lorong pesantren tidak lagi cuma riuh oleh lantunan hafalan kitab kuning, tapi juga oleh diskusi kreatif produksi konten. Fenomena hadirnya para santri kreator adalah angin segar di tengah krisis otoritas agama di media sosial. Mereka paham betul bahwa jika ruang digital (FYP TikTok, Reels, Shorts) hanya diisi oleh narasi-narasi galak yang hobi mengafirkan orang, maka generasi muda yang sedang butuh pegangan hidup akan tersesat.

Dengan berbekal kedalaman ilmu syariat, sanad keilmuan yang jelas, dan kemampuan editing video yang kekinian, para santri ini turun ke gelanggang digital. Mereka mengemas ajaran agama yang luas dan penuh kasih sayang menjadi konten-konten pendek yang ringan, estetik, serta mudah dicerna. Mereka membuktikan bahwa dakwah tidak harus berapi-api atau menakut-nakuti, tapi bisa disampaikan dengan senyuman dan kedalaman nalar.

Bagi anak muda masa kini, makna "jihad" telah menemukan bentuk terbarunya yang paling relevan, jihad digital. Senjata utama mereka bukan lagi narasi konfrontatif, melainkan smartphone, kemampuan koding, serta kejelian literasi media. Ketika ada hoaks berbau SARA atau potongan video ceramah yang dipelintir demi memicu kerusuhan, anak-anak muda inilah yang berada di garis depan.

Lewat komunitas pembuat fakta (fact-checker), pembuat infografis edukatif, hingga gerakan cyber-tolerance, Gen Z secara aktif memproduksi konten penawar (counter-narrative). Mereka memakai tradisi tabayun—kebiasaan mengecek ulang dan menganalisis konteks—sebagai "sistem imun" untuk menyaring setiap informasi yang masuk sebelum ditekan tombol share.

Praktik-praktik nyata ini membuktikan satu hal, Gen Z tidak tinggal diam. Mereka paham bahwa cara terbaik menumbangkan narasi kebencian bukanlah dengan cara melarang atau memaki balik, melainkan dengan membanjiri ruang digital lewat narasi-narasi perdamaian dan karya nyata.

Moderasi beragama di tangan Gen Z tidak lagi terkesan kaku atau formalitas. Moderasi telah menjelma menjadi gaya hidup: berani beragama secara mendalam, cerdas memanfaatkan teknologi, terbuka pada perbedaan, serta teguh menjaga kemanusiaan. Sudah saatnya kita berhenti memandang sebelah mata generasi muda. Di tangan anak-anak muda yang jernih bernalar dan kaya karya inilah, masa depan Indonesia yang damai, toleran, dan berkeadaban sedang terus dijaga.

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with