Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

Ketika Pohon Zaitun Palestina Dirusak, Apa Akar Masalahnya? Halaman 1

Musim panen 2026 di tepi barat mencatat 200 insiden di kebun zaitun palestina, 1 warga meninggal, 120 terluka, 2500 pohon rusak.

Sumber foto: Kompasiana.com

Ketika Pohon Zaitun Palestina Dirusak, Apa Akar Masalahnya?

Pohon zaitun di Palestina bukan sekedar komoditas ekonomi. Ia adalah identitas, sejarah dan memori kolektif yang mengikat petani dengan tanahnya. Pohon yang usianya puluhan hingga ratusan tahun ini diwariskan lintas generasi, dari kakek kepada cucu. Ketika pohon zaitun dirusak, yang hilang bukan hanya hasil panen tahunan, tetapi juga sumber kehidupan, warisan keluarga dan simbol ketahanan sebuah komunitas yang hidup dari tanahnya.

Data lapangan menunjukkan, lebih dari 90.000 keluarga di Palestina menggantungkan ekonomi pada sektor zaitun. Sektor ini berkontribusi sekitar 8 persen terhadap perekonomian lokal dan menjadi penopang utama ekonomi pedesaan di Tepi Barat. Pada saat musim panen tiba, seluruh anggota keluarga turun ke kebun, mulai dari anak anak hingga lansia. Namun sektor vital yang menjadi tumpuan hidup puluhan ribu keluarga ini menghadapi tantangan yang sangat serius dari tahun ke tahun.Gangguan terhadap lahan zaitun telah terjadi cukup lama dan cenderung meningkat saat musim panen Oktober-November. Pada musim panen 2026, sejak awal Oktober tercatat sekitar 200 insiden di Tepi Barat yang berdampak langsung pada petani. Laporan dari Al Jazeera dan media lainnya menyebutkan 1 warga meninggal, lebih dari 120 orang terluka, dan lebih dari 2.500 pohon dilaporkan rusak dan tidak bisa dipanen. Angka ini belum termasuk pohon yang ditebang atau dibakar di luar periode pendataan, sehingga kerugian yang dialami petani diperkirakan jauh lebih besar.

Tidak hanya petani, jurnalis dan aktivis pendamping panen, termasuk warga negara asing dan diplomat, juga dilaporkan terdampak saat melakukan pemantauan di lapangan. Hal ini kemudian memicu perhatian internasional. Menteri luar negeri AS Marco Rubio dan duta besar AS untuk Israel Mike Huckabee menyampaikan keprihatinan atas insiden yang menimpa jurnalis AS dan meminta adanya penyelidikan yang transparan. Uni Eropa juga menyampaikan keprihatinan atas insiden yang menimpa diplomatnya saat mendampingi panen zaitun. Namun hingga kini pernyataan tersebut belum diikuti langkah konkret yang mampu memberikan rasa aman bagi petani di lapangan.

Apabila ditelaah lebih lanjut, rusaknya lahan zaitun berdampak langsung pada kondisi ekonomi dan sosial budaya petani. Ketika pohon yang baru bisa berbuah optimal setelah puluhan tahun dirusak dalam sehari, maka banyak keluarga terancam kehilangan mata pencaharian untuk tahun tahun berikutnya. Padahal sektor zaitun bukan hanya minyak, tetapi juga sabun, obat tradisional dan produk turunan yang menjadi sumber penghidupan perempuan pedesaan.Selain itu terhambatnya kerja jurnalis dan aktivis di lapangan berpotensi membuat informasi dari kebun zaitun tidak terliput secara utuh. Ketika akses jurnalis mendapat hambatan dan pendamping panen mengalami kesulitan di lapangan, maka suara petani di pelosok desa sulit terdengar oleh dunia internasional.

Di sisi lain perhatian internasional cenderung menguat ketika warga negaranya sendiri yang terdampak. Pernyataan dari AS dan Uni Eropa muncul setelah jurnalis dan diplomat mereka mengalami insiden. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme perlindungan internasional masih perlu diperkuat agar mampu memberikan perlindungan yang setara bagi petani lokal.Pada akhirnya berbagai pernyataan keprihatinan yang telah disampaikan sejauh ini belum mampu mencegah berulangnya insiden di musim panen. Dari tahun ke tahun pola yang sama terus berulang, petani panen dalam kondisi was was dan hasil panen tidak maksimal karena kekhawatiran akan keamanan.

Sementara itu di tengah meningkatnya simpati publik dunia terhadap Palestina, kondisi petani di lapangan masih membutuhkan perlindungan nyata, bukan sekedar pernyataan simpati. Petani membutuhkan jaminan keamanan saat memanen, akses pasar yang adil dan kepastian bahwa pohon yang mereka tanam akan tetap hidup hingga anak cucu.Bahkan di sisi lain, respons dari para pemimpin di dunia muslim, termasuk di kawasan Arab, dinilai belum optimal dan belum menunjukkan sikap kolektif yang kuat dan terukur untuk melindungi petani dan lahan zaitun sebagai sumber kehidupan rakyat Palestina.

Islam memandang tanah Palestina sebagai tanah yang diberkahi dan memiliki kedudukan yang istimewa dalam hati umat.

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Qs Al Isra ayat 1.

Ayat ini menegaskan bahwa tanah di sekitar Masjidil Aqsa adalah tanah yang diberkahi oleh Allah, sehingga menjaganya, merawat tanamannya dan melindungi penduduknya merupakan bagian dari kemuliaan yang harus dijaga oleh umat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Perumpamaan kaum muslimin seperti satu tubuh, jika satu anggota sakit maka seluruh tubuh ikut merasakan. Hr Muslim.

Hadits ini memberikan pedoman bahwa penderitaan petani zaitun di Palestina adalah penderitaan umat secara keseluruhan. Ketika 2.500 pohon dirusak, ketika 120 orang terluka dan ketika 90.000 keluarga terancam mata pencahariannya, maka umat di belahan dunia lain seharusnya ikut merasakan dan berupaya memberikan pertolongan sesuai kemampuan.

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with