AS Serang Sistem Pertahanan Udara Iran di Pulau Qeshm
Dua rudal menghantam Pulau Qeshm di Selat Hormuz saat Trump mengakui serangan terbatas AS dan Iran memperingatkan peningkatan kekuatan militernya.

Dua rudal menghantam wilayah Suza di Pulau Qeshm, Iran, pada Sabtu (7/11/2026), ketika Amerika Serikat kembali melancarkan operasi militer terbatas terhadap sistem pertahanan udara Teheran. Insiden di kawasan Selat Hormuz tersebut memperburuk ketegangan kedua negara setelah Presiden Donald Trump mengakui adanya serangan militer AS.
Kantor berita Tasnim dan IRNA melaporkan ledakan terjadi di Pulau Qeshm, pulau terbesar di Selat Hormuz. Reuters dan AFP turut mengutip laporan tersebut. Saksi mata mendengar suara pesawat sebelum dua ledakan terdengar di kawasan itu.
Hingga laporan diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi mengenai kerusakan maupun korban jiwa. Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menghancurkan sejumlah pesawat nirawak milik AS di sekitar pulau dan Selat Hormuz.
IRGC mengklaim berhasil mencegat drone MQ-1, dua drone pengintai MQM-170, serta sebuah drone MQ-9. Sementara itu, militer Iran juga melaporkan penghancuran sebuah drone Amerika Serikat yang terbang di atas Pulau Qeshm.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Florida pada Jumat (6/11), Trump mengakui militer AS melakukan operasi terbatas terhadap perangkat pertahanan udara Iran.
"Saya tidak ingin membahasnya. Kita memang melakukan serangan-serangan kecil," kata Trump.
Dia mengklaim kemampuan pertahanan udara Iran berhasil dilumpuhkan dalam waktu singkat.
"Mereka (Iran) membangun semacam perangkat antipesawat. Dan kita melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, mungkin lima menit," ujar Trump.
Dalam kesempatan lain, Trump juga menggambarkan operasi tersebut sebagai tindakan militer untuk menangani ancaman Iran.
"Mereka (Iran) membuat semacam alat antipesawat dan kami melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, mungkin lima menit," kata Trump.
Serangan tersebut bukan operasi pertama dalam pekan ini. Pada Senin (2/11), militer AS juga menyerang Pulau Qeshm dan Hengam. Seorang pejabat Washington sebelumnya menyebut operasi itu sebagai tindakan defensif, bukan awal dari operasi militer berskala besar.
Di pihak Iran, juru bicara militer Mohammad Akraminia menyatakan kemampuan angkatan bersenjata negaranya mengalami peningkatan sejak konflik dengan AS dan Israel dimulai pada akhir Februari 2026.
"Saat ini, Angkatan Bersenjata Republik Islam (Iran)… telah mendapatkan pengalaman dari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan rezim Israel, berada dalam tingkat kesiagaan yang lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan saat awal perang," ujar Akraminia dalam pernyataan yang dikutip IRNA.
Akraminia juga menegaskan bahwa Teheran masih mengendalikan Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global. Iran menyatakan penutupan jalur tersebut akan berlanjut sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutannya.
"Atas perintah Pemimpin Tertinggi, respons Angkatan Bersenjata akan bersifat segera, efektif, dan tanpa batasan geografis," tegas Akraminia.
Ancaman operasi lanjutan sebelumnya juga disampaikan Trump di Gedung Putih pada Kamis (5/11). Setelah bertemu para penasihat keamanan nasional, dia menyatakan masih menjalin komunikasi dengan perwakilan Iran, tetapi tidak menutup kemungkinan melanjutkan serangan.
"Saya sebenarnya tidak ingin menghancurkan sisa-sisa negara tersebut jika memungkinkan, tetapi mungkin saya harus melakukannya. Dan Anda akan segera mengetahuinya," ucap Trump.
Dalam pernyataan melalui Truth Social, Trump turut menghubungkan kebijakan militernya dengan ancaman program nuklir Iran.
"Tidak ingin diucapkan siapa pun, tetapi semua orang tahu itu benar," tulis Trump mengenai klaimnya bahwa Israel dan kawasan Timur Tengah tidak akan bertahan apabila dirinya tidak mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Trump juga menegaskan bahwa persoalan Iran masih menjadi perhatian pemerintahannya.
"Masalah Iran ini harus kita tangani, dan kita terus melakukannya," kata Trump kepada wartawan.
Selain ketegangan militer, konflik tersebut memunculkan tekanan politik domestik di Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menghadapi kritik setelah Partai Republik kehilangan kendali Kongres dalam pemilihan paruh waktu. Perang Iran dan dampaknya terhadap harga bahan bakar menjadi salah satu persoalan yang disorot.
Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa Hegseth tidak akan mundur menghadapi tekanan politik.
"Tidak akan mundur atau terhalang oleh politisi yang berupaya meraih keuntungan politik atau melancarkan penyelidikan palsu di mana tidak ada kesalahan yang terjadi," ujar Parnell.
Anggota DPR Jason Crow juga melontarkan kritik terhadap kepemimpinan Pentagon.
"Saya akan menindak Pete Hegseth. Dia bukan hanya tidak kompeten dan korup, tetapi juga merusak keamanan nasional kita dan keselamatan pasukan kita," kata Crow.
Sementara itu, anggota DPR Adam Smith mendorong pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dan lembaga pertahanan AS.
"Melakukan pengawasan ketat terhadap Departemen Pertahanan dan Pemerintahan Trump," ujar Smith mengenai prioritas utama yang perlu dijalankan.
Smith juga menyampaikan kritik terhadap operasi militer Washington di Iran.
Di tengah situasi tersebut, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan keamanan pada Jumat (6/11). Imbauan itu meminta warga Amerika di Timur Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman serangan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran serta potensi penargetan pejabat pemerintah AS.
"Warga Amerika yang saat ini berada di Timur Tengah harus meningkatkan kewaspadaan karena adanya peningkatan ancaman serangan bersenjata oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, dan upaya-upaya Iran untuk menargetkan pejabat pemerintah AS di kawasan tersebut," demikian bunyi peringatan Departemen Luar Negeri AS melalui media sosial X.
Otoritas AS juga mengingatkan kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan di kawasan Timur Tengah akibat perkembangan keamanan.
Dalam perkembangan diplomatik, Trump menolak kemungkinan Iran menjalankan inisiatif terkait program nuklir melalui mediator tanpa persetujuan langsung Washington. Pernyataan tersebut disampaikan ketika dia ditanya mengenai pembahasan usulan mediator tentang masa depan program nuklir Teheran.
"Mereka tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuan kami. Ingatlah apa yang saya katakan, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Mereka tidak akan melakukan apa pun tanpa persetujuan kami," kata Trump.
Dia menilai pembahasan para mediator tidak mengubah sikap pemerintahannya terhadap ambisi nuklir Iran.
"Tidak menjadi masalah apa yang mereka bahas. Mereka (Iran) tidak akan memiliki senjata nuklir. Mereka tahu itu. Saya pun tahu," ujar Trump.
Sumber: Demokratis.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Maskapai di Timur Tengah butuh 236 ribu pilot, awak kabin, dan teknisi pada 2045
Boeing memprediksi ada pengiriman 2.995 pesawat komersial baru kepada maskapai penerbangan di Timur Tengah antara 2026 dan 2045.
Menlu Irak Usulkan Komite Regional untuk Fasilitasi Perundingan Iran-AS
SURABAYA-KEMPALAN: Menteri Luar Negeri (Menlu) Irak Fuad Hussein pada Jumat (6/11) mengusulkan pembentukan komite menlu regional untuk melakukan kunjungan ke Teheran dan Washington guna...
Hasil Terkini Semifinal Kejuaraan Bola Voli Putra Nasional 2026: Tim Kepolisian Kota Ho Chi Minh bangkit kembali secara dramatis.
Memasuki pertandingan, Kepolisian Ho Chi Minh City bertekad meraih kemenangan guna membalas kekalahannya dari The Cong Tan Cang di babak semifinal tahun lalu dan...
35 Garage Racing Team, Depok : SINGGASANA BARU, TAMPIL MENGGEBRAK JAGAD DRAG RACE 2026 NASIONAL !
35 Garage Racing Team, Depok : SINGGASANA BARU, TAMPIL MENGGEBRAK JAGAD DRAG RACE 2026 NASIONAL !