Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

UN Peringatkan Scholasticide dan Penghapusan Sejarah Palestina di Gaza

Para pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan penghancuran sistematis sektor pendidikan dan media di Wilayah Pendudukan Palestina. Mereka menyebut praktik

Sumber foto: Adara Relief International

Para pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan penghancuran sistematis sektor pendidikan dan media di Wilayah Pendudukan Palestina. Mereka menyebut praktik tersebut sebagai scholasticide, yakni penghancuran sistematis terhadap sistem pendidikan yang berdampak pada keberlangsungan masyarakat Palestina.

Dalam pengarahan Komite Pelaksanaan Hak-Hak yang Tidak Dapat Dicabut dari Rakyat Palestina (UN Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People/CEIRPP) di Markas Besar PBB, New York, Kamis, 29 Oktober 2026, Pelapor Khusus PBB untuk Hak atas Pendidikan, Farida Shaheed, menyampaikan bahwa dampak penghancuran pendidikan di Gaza sangat parah.

Menurut Shaheed, 98 persen sekolah dan seluruh 13 universitas di Gaza telah hancur. Hampir 21.000 pelajar Palestina juga terbunuh selama perang. Ia menilai penghancuran tersebut tidak hanya merusak fasilitas pendidikan, tetapi juga mengancam fondasi masyarakat Palestina, menghapus sejarah, dan melemahkan identitas kolektif antargenerasi.

Selain lembaga pendidikan, 13 perpustakaan, pusat arsip Gaza yang mendokumentasikan arsip selama 150 tahun, 195 situs warisan budaya, 227 masjid, dan sedikitnya tiga gereja juga telah Israel hancurkan atau menjadi sasaran serangan.

Di Tepi Barat, Shaheed menyebut 10 dari 48 sekolah di Al-Quds bagian timur Israel hancurkan pada September lalu. Sejumlah sekolah juga terpaksa tutup karena tidak memperoleh izin. Persyaratan perizinan tersebut kerap mencakup perubahan kurikulum yang menghapus referensi sejarah dan budaya Palestina.

Pada paruh pertama tahun ini, tercatat 224 insiden keamanan yang berdampak pada 152 sekolah, 20.450 pelajar, dan sedikitnya 859 tenaga kependidikan. Kekerasan pemukim juga menyebabkan sedikitnya 1.700 anak kehilangan tempat tinggal dan akses sekolah.

Sementara itu, Pelapor Khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia di Wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967, Francesca Albanese, menyoroti pembungkaman terhadap media. Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh hampir 300 jurnalis dan pekerja media di Gaza.

Albanese mengatakan pembungkaman saksi tidak hanya menyembunyikan kejahatan, tetapi juga memungkinkan impunitas terus berlangsung. Ia juga menyebut lebih dari 74.500 warga Palestina telah terbunuh di Gaza. Wilayah tersebut mencatatkan rekor rasio per kapita tertinggi di dunia untuk kasus anak-anak yang kehilangan anggota tubuh (amputee).

Menurut Albanese, gencatan senjata yang berlaku tahun lalu belum menghentikan jatuhnya korban. Lebih dari 1.500 warga Palestina telah terbunuh sejak pengumuman gencatan senjata. Ia juga menyinggung pengungsian paksa ribuan warga Palestina dari Al-Khalil (Hebron), Tepi Barat, setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan menghancurkan lingkungan tempat tinggal pihak yang dituduh terlibat dalam serangan di pos pemeriksaan pada 23 Oktober.

Albanese mendesak negara-negara untuk menghentikan transfer senjata dan perdagangan yang menopang pendudukan ilegal serta genosida. Ia juga mendorong dunia internasional untuk mendanai dan melindungi UNRWA, serta menjamin keselamatan jurnalis. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak boleh hanya menjadi penonton ketika pelanggaran terus berlangsung.

Sumber: Adara Relief International. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with