Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Nasional

UMKM Daerah Madu Trigona Rambah Pasar Nasional dan Ekspor

Usaha madu yang dikembangkan pelaku usaha daerah mulai menjangkau pasar nasional hingga internasional. Budidaya lebah dan pengembangan jaringan distribusi menjadi kunci perluasan pasar.

Sumber foto: RRI.co.id

Jakarta – Usaha madu yang dikembangkan pelaku usaha daerah mulai menjangkau pasar nasional hingga internasional. Budidaya lebah dan pengembangan jaringan distribusi menjadi kunci perluasan pasar.

Sumitro Lopuo, pemilik Madu Suwawa di Gorontalo, membudidayakan lebah Trigona jenis biroi. Ia juga memiliki beberapa jenis lebah lain, seperti cerana, apis dorsata, dan apis mellifera.

Dalam proses pemasaran, Sumitro membangun jaringan reseller dan distributor di berbagai daerah Indonesia. Produknya dipasarkan ke sejumlah wilayah, terutama Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, hingga Jakarta.

"Saya menyuplai ke beberapa daerah, sampai ke Jakarta juga. Yang kita ternak sendiri adalah Trigona jenis biroi," ujarnya dalam perbincangan bersama RRI Pro3, Jakarta, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Jaringan pemasaran tersebut turut mendukung perluasan usaha Madu Suwawa hingga ke pasar internasional melalui ekspor ke Jepang. Sumitro juga menjalin kerja sama dengan sejumlah peternak lebah apis mellifera di Pulau Jawa.

"Selain reseller atau distributor, selebihnya kita supply dalam bentuk jerigen-jerigen. Paling banyak pesanan dari Sulawesi, lalu kita juga sudah ekspor ke Jepang," ucapnya.

Ia menyebut karakter rasa madu dapat bervariasi, tergantung pada jenis lebah dan nektar. Madu lebah Trigona biroi memiliki rasa asam manis, sedangkan madu lebah lainnya memiliki rasa manis dan sedikit pahit.

Sementara itu, pemilik Madu Kelulut Nazwa di Kalimantan Barat, Pinarta, mulai mengembangkan budidaya lebah Trigona itama sejak 2016. Ia mempelajari teknik budidaya lebah secara bertahap hingga mengelola 215 stup pada 2026.

"Madu Kelulut itu madu dari lebah Trigona, yang saya pelihara itu Trigona itama. Di 2016 saya belajar budidaya, lalu saya terapkan sampai sekarang," katanya dalam kesempatan yang sama.

Dalam kondisi normal, Pinarta mampu memanen sekitar 40 kilogram madu setiap bulan dari kegiatan budidayanya. Namun, hasil produksi bergantung pada musim sehingga cuaca ekstrem dapat menghambat waktu panen dan memengaruhi produktivitas lebah.

Untuk menjaga produktivitas koloni, Pinarta memperhatikan ketersediaan pakan sebagai kebutuhan utama dalam proses budidaya. Dari sisi pemasaran, ia telah menjangkau konsumen di tingkat kecamatan dan kabupaten.

"Untuk produktivitas kita jaga mulai dari menjaga pakan lebah-lebah itu. Kalau musim hujan kita bisa panen sebulan sekali, kalau musim ekstrem seperti sekarang agak sulit," katanya.

Pinarta masih berupaya memperluas pemasaran Madu Kelulut Nazwa. Ia berharap pengenalan produknya melalui media sosial dapat membantu menjangkau konsumen baru. (Shafa)

Sumber: RRI.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with