Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Trump Jadikan Nama Mohammad Bahan Lelucon dalam Kampanye di Georgia

Donald Trump melontarkan lelucon tentang nama Mohammad saat membahas kepresidenan Iran dalam kampanye Partai Republik di Georgia, memicu kritik atas retorikanya terhadap Muslim.

Sumber foto: bsinews.id

Jakarta, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan lelucon mengenai nama Mohammad ketika membahas kepemimpinan Iran dalam kampanye politik di Dalton, Georgia, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Di hadapan pendukung Partai Republik, ia menyebut nama tersebut sebagai pilihan yang menurutnya memiliki peluang 65 persen untuk benar ketika seseorang tidak mengetahui nama orang dari Timur Tengah.

Pidato itu berlangsung di Bandara Regional Dalton, tempat Trump berkampanye untuk mendukung para kandidat Partai Republik menjelang pemilihan umum sela Amerika Serikat pada 3 November 2026. Komentar mengenai nama Mohammad disampaikan saat ia menyindir jabatan presiden Iran dan kemudian berpura-pura menanyakan kepada beberapa orang bernama Mohammad apakah mereka menginginkan posisi tersebut.

Menurut laporan Reuters yang dikutip oleh Detik, CNN Indonesia, dan Republika, penonton yang hadir memberikan tanggapan dingin terhadap lelucon tersebut. Mohammad merupakan salah satu nama laki-laki yang umum digunakan di kalangan Muslim dan berasal dari nama Nabi Muhammad.

Dalam pidatonya, Trump mengemukakan anggapan bahwa nama tersebut dapat digunakan ketika seseorang tidak yakin dengan nama orang yang ditemuinya dari kawasan Timur Tengah.

"Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, sebut saja 'Mohammad'," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump kemudian menjelaskan perkiraan peluang yang ia gunakan dalam lelucon tersebut dan mengklaim telah melakukannya selama bertahun-tahun tanpa pernah salah.

"Kemungkinannya sekitar 65%. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukan ini selama bertahun-tahun, dan saya tidak pernah salah," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Setelah itu, Trump mengalihkan pembicaraan kepada situasi kepemimpinan Iran. Ia menggunakan jabatan presiden negara tersebut sebagai sasaran sindiran di hadapan para pendukungnya.

"Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada seorang pun yang ingin menjadi presiden," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Masoud Pezeshkian telah menjabat sebagai presiden Iran sejak 2024, menurut laporan Republika. Trump kemudian berpura-pura menanyakan kepada sejumlah orang bernama Mohammad apakah mereka berminat menduduki jabatan tersebut, sementara penonton tidak memberikan respons antusias terhadap leluconnya.

Aktivis hak asasi manusia dan kelompok advokasi Muslim berulang kali mengkritik retorika Trump yang dinilai menyinggung umat Islam, imigran, serta kelompok minoritas etnis. Kritik tersebut kembali mengemuka di tengah kampanye pemilu sela, ketika Trump meningkatkan pernyataan yang menyasar sejumlah kelompok minoritas di Amerika Serikat.

Di antara tokoh yang disebut dalam laporan tersebut adalah Abdul El-Sayed, kandidat Senat Amerika Serikat dari Partai Demokrat yang beragama Islam, serta Ilhan Omar, anggota DPR dari Partai Demokrat yang mewakili Minnesota. Omar datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi dari Somalia.

Laporan tahunan Council on American-Islamic Relations (CAIR), atau Dewan Hubungan Islam Amerika, yang diterbitkan pada awal 2026 mengaitkan peningkatan Islamofobia di Amerika Serikat dengan sejumlah kebijakan pemerintahan Trump. Menurut laporan tersebut, tindakan keras terhadap imigrasi dan aksi protes pro-Palestina selama masa jabatan keduanya turut berkontribusi terhadap situasi tersebut.

Sumber: bsinews.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with