Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Tiga Jalur Laut Tertekan — Diesel Ketat, Gandum RI Terancam

Kelompok Houthi di Yaman mengancam melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi, sehari setelah kantor pusat Saudi Aramco di Dhahr

Sumber foto: https://feedberry.com/

Kelompok Houthi di Yaman mengancam melanjutkan serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi, sehari setelah kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran mengalami kerusakan luas dan kebakaran di beberapa lantai. Ancaman itu menyusul serangan ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 10 Oktober 2026 yang menewaskan 13 orang. Eskalasi ini bukan insiden tunggal. Pada 14 Oktober 2026, International Energy Agency memperingatkan pasokan diesel dunia berpotensi tetap ketat hingga 2027, setelah ekspor dari Timur Tengah dan Rusia berkurang 1,3 juta barel per hari pada September 2026. Brent kini berada di US$109,86, naik 3,72%. Yang membuat situasi ini berbeda dari episode ketegangan sebelumnya adalah sifatnya yang simultan.

Artikel memetakan empat kawasan dengan fungsi ekonomi yang berbeda: Laut Merah dan Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman energi, Laut Hitam sebagai jalur distribusi minyak dan pangan, serta Laut Mati yang berperan melalui industri mineral dan pariwisata tanpa fungsi pelayaran internasional. Dari empat itu, tiga jalur dagang sedang tertekan bersamaan. Di Laut Hitam, sekitar 3,7 juta barel minyak per hari melintasi Selat Dardanella pada semester I-2025 menurut U.S. Energy Information Administration. Serangan drone terhadap kapal dagang dekat Bulgaria pada 13 Oktober 2026 menenggelamkan satu kapal dan menghilangkan 11 awak. Efeknya menjalar ke gandum: S&P Global Energy mencatat pembeli dari Mesir hingga Bangladesh menghadapi keterbatasan pasokan dan kenaikan biaya pengiriman.

Sejak gangguan meningkat pada Juli, biaya pembelian gandum dalam tender pemerintah naik — Arab Saudi sebesar US$63 per ton dan Yordania US$57 per ton. Bagi Indonesia, paparan terbesar justru tidak berada di Hormuz, melainkan di Laut Hitam. Pada 2024, 29,6% impor gandum Indonesia berasal dari Rusia dan Ukraina. Angka itu jauh di bawah Turki (97,6%), Mesir (82,2%), dan Kenya (81,5%), tetapi cukup besar untuk membuat biaya tepung, mi, dan roti bergerak mengikuti harga tender global. Sisi energi menekan lebih langsung. Indonesia mengimpor minyak mentah dan sebagian bahan bakar minyak, sehingga harga minyak tinggi memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi, tepat ketika rupiah berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS.

Pasar domestik sudah mencerminkan tekanan itu: IHSG berada di 5.185 setelah terkoreksi 11,57%. Yang janggal, AALI sebagai proksi CPO justru turun 9,54% ke 7.825 di tengah kenaikan minyak mentah — divergensi yang menunjukkan pasar sedang melikuidasi aset berisiko alih-alih menambah lindung nilai komoditas. Empat hal

Sumber: https://feedberry.com/. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with