Targetkan Zero Emisi 2060, Dewan Energi Nasional Dorong Sivitas UB Pahami Energi Alternatif
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Satya Widya Yudha, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan zero emisi pada 2060 dan mengajak sivitas akademika UB untuk mengurangi penggunaan energi...

MALANG – Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Satya Widya Yudha, M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan zero emisi pada 2060 dan mengajak sivitas akademika UB untuk mengurangi penggunaan energi fosil serta beralih menggunakan energi alternatif.
“Kita ingin mewujudkan zero emisi pada 2060, salah satu caranya dengan mengurangi penggunaan energi fosil menuju energi baru dan terbarukan,” ujarnya dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan Energi, Jumat (16/10/2026) di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Untuk mencapai target tersebut, saat ini pemerintah mengakselerasi program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) untuk mempercepat transisi energi dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil. Program ini diproyeksikan menghasilkan penghematan hingga Rp73,9 triliun per tahun serta mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 140 juta ton karbon dioksida (CO2).
Selain itu, ia menyampaikan target Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia sebesar 70 hingga 72 persen pada 2050. Dalam proyeksinya, energi surya diperkirakan berkontribusi sekitar 29,8–32 persen. Selanjutnya, energi nuklir ditargetkan berkontribusi sekitar 12,7 persen, disusul biomassa sebesar 12,2–13,4 persen. Indonesia juga akan mengembangkan berbagai sumber energi terbarukan lainnya.
“Banyak lagi energi terbarukan seperti geothermal, energi angin, dan hydropower, itu tentunya menjadi target dalam bauran energi kita supaya mengurangi daripada emisi karbon yang dihasilkan oleh fossil,” katanya.
Di sektor industri, Satya menambahkan pemerintah telah melakukan peralihan bahan bakar dari batu bara ke gas, biomassa, dan amonia.
Sementara itu, dari segi transportasi, pemerintah juga mengembangkan biodiesel B50 dan bioetanol menuju E50.
“B50 untuk menekan impor solar, dan E50 untuk menekan impor bensin,” jelasnya.
Kendati demikian, Satya mengatakan bahwa Indonesia masih memiliki sejumlah PR seperti ketergantungan terhadap energi fosil, kesenjangan kesiapan teknologi rendah karbon, serta keterbatasan infrastruktur transmisi dan penyimpanan energi.
“Kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan, paling tidak, ada beberapa tantangan yang kita jabarkan di dalam kebijakan energi nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor V UB, Prof. Unti Ludigdo., menjelaskan bahwa perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam menghasilkan pengetahuan inovasi serta mempersiapkan sumber daya yang kompeten sekaligus mendorong penelitian memiliki kontribusi dalam masyarakat.
“Dalam hal ini, UB berkomitmen untuk terus memperkuat kontribusi riset dan inovasi, termasuk pengembangan teknologi, efisiensi energi, energi terbarukan dan solusi atas berbagai tantangan sektor energi.” tambahnya dalam sambutan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!Klik 👉 Channel TIMES IndonesiaPastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Sumber: TIMES Indonesia. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...