Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

Sumud: Ketika Bertahan Hidup Menjadi Bentuk Perlawanan Perempuan Palestina

Perlawanan politik sering kali digambarkan melalui demonstrasi, aksi massa, atau perjuangan bersenjata. Namun, perlawanan juga bisa dilakukan melalui

Sumber foto: Kompasiana.com

Perlawanan politik sering kali digambarkan melalui demonstrasi, aksi massa, atau perjuangan bersenjata. Namun, perlawanan juga bisa dilakukan melalui kegiatan sehari-hari. Dalam konteks perjuangan masyarakat Palestina, terdapat sebuah konsep yang dinamakan sumud, yang berarti keteguhan untuk tetap bertahan ditengah kesulitan. Konsep tersebut menggambarkan usaha masyarakat Palestina untuk mempertahankan kehidupan, budaya, dan tanah air mereka ditengah pendudukan Israel. Menjaga rumah, melanjutkan pendidikan, dan mempertahankan tradisi dapat menjadi bagian dari perlawanan ketika kehidupan masyarakat terus menghadapi tekanan. Dalam kondisi tersebut, bertahan hidup juga dapat menjadi cara untuk mempertahankan identitas sebagai masyarakat Palestina (Ryan, 2015).

Perempuan Palestina memiliki peran penting dalam mempertahankan kehidupan masyarakatnya. Mereka merawat keluarga, menjaga hubungan antarwarga, dan membantu memastikan kehidupan komunitas tetap berjalan di tengah situasi yang sulit. Peran tersebut sudah terlihat sejak masa lalu. Dalam Pemberontakan Arab Palestina pada 1936–1939, perempuan membantu perjuangan dengan memasak untuk para pejuang, menyembunyikan orang-orang yang diburu, mengantarkan makanan dan pesan, serta merawat mereka yang terluka (Taha, 2025). Selain itu, perempuan juga terlibat dalam demonstrasi dan penggalangan dana sebagai bentuk keterlibatan mereka dalam perjuangan politik Palestina (Hardy & Coles, 2024). Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan dalam perjuangan Palestina berlangsung melalui tindakan sehari-hari maupun keterlibatan politik secara langsung. Perempuan tetap memiliki peran penting dalam perjuangan, meskipun mereka tidak selalu terlibat secara langsung di permukaan (Richter-Devroe, 2018).

Dari sudut pandang feminisme, hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan di rumah juga bisa menjadi bagian dari perjuangan. Merawat keluarga dan membantu komunitas memang tidak selalu dilakukan dengan tujuan melawan pendudukan. Namun, kegiatan tersebut dapat membantu masyarakat Palestina mempertahankan kehidupan dan identitas mereka. Tantangan yang dihadapi perempuan juga terlihat dalam kegiatan sehari-hari, seperti kesulitan berpergian akibat pos pemeriksaan. Dalam situasi tersebut, usaha untuk tetap bekerja dan menjalankan kehidupan sehari-hari dapat menjadi bentuk keteguhan dalam menghadapi pembatasan (Vasudevan, n.d.). Sehingga, perlawanan perempuan Palestina tidak selalu terlihat dalam aksi besar, tetapi juga dalam usaha menjaga kehidupan mereka dan komunitasnya.

Meskipun begitu, keteguhan perempuan Palestina perlu dilihat secara kritis. Perempuan tidak seharusnya dianggap selalu mampu bertahan atau harus menanggung sendiri tanggung jawab untuk menjaga keluarga dan komunitas. Menghargai perjuangan mereka juga berarti mengakui beban yang harus mereka hadapi. Nobel Women's Initiative (2025) menghubungkan sumud dengan perjuangan perempuan dalam mempertahankan kehidupan dan menghadapi penindasan. Namun, kemampuan perempuan untuk bertahan tidak boleh dijadikan alasan untuk menganggap penderitaan mereka sebagai sesuatu yang wajar. Mereka tetap berhak mendapatkan perlindungan, keadilan, dan kehidupan yang bebas dari penindasan.

Pada akhirnya, sumud menunjukkan bahwa perempuan Palestina turut melawan pendudukan melalui cara mereka mempertahankan kehidupan sehari-hari. Mereka tetap menjaga tradisi dan membantu komunitasnya meskipun menghadapi berbagai kesulitan akibat pendudukan. Peran ini memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan Palestina tidak terbatas pada aksi demonstrasi atau perlawanan secara langsung. Upaya mereka untuk mempertahankan kehidupan dan identitas Palestina juga merupakan bagian dari perjuangan melawan pendudukan.

Hardy, J., & Coles, K. (2024, October 29). Palestinian women's resistance: from the Great Revolt to the First Intifada (1936 to 1993) * International Socialism. International Socialism.

Palestinian women’s resistance: from the Great Revolt to the First Intifada (1936 to 1993)

Richter-Devroe, S. (2018). Women's Political Activism in Palestine: Peacebuilding, Resistance, and Survival. University of Illinois Press.

Ryan, C. (2015, December 7). Everyday Resilience as Resistance: Palestinian Women Practicing Sumu. International Political Sociology, 9(4), 299–315. https://doi.org/10.1111/ips.12099

Taha, M. (2025, September 23). Resistance behind closed doors: how Palestinian women fought empire from the home. The London School of Economics and Political Science. https://www.lse.ac.uk/research/research-for-the-world/society/palestinian-women-political-resistance

Vasudevan, R. (n.d.). Everyday Resistance through Women's Practices of Sumd in Palestine. Critical Perspective on International Planning. https://sites.utexas.edu/internationalplanning/case-study-7/

Yousef, R. (2025, June 16). Sumoud as a Feminist Tactic: Practicing Everyday Resistance. Nobel Women's Initiative.

https://www.nobelwomensinitiative.org/sumoudasatactic

Sumber: Kompasiana.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with