Serangan Houthi Tekan Saudi dan Perbesar Risiko Perang Regional
Serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi meningkatkan risiko perang regional, mengancam investasi Riyadh, dan menguji sikap Amerika Serikat serta Cina.

Eskalasi konflik Houthi dan Arab Saudi pada Oktober 2026 meningkatkan ancaman terhadap keamanan kawasan, investasi, serta jalur perdagangan internasional. Serangan terhadap infrastruktur Saudi, gangguan penerbangan di Riyadh, dan serangan ke kompleks istana kepresidenan di Aden pada 15 Oktober memperluas dampak konflik yang melibatkan kepentingan Iran, Amerika Serikat, dan Cina.
Menurut laporan CNBC Indonesia pada 16 Oktober 2026, serangan Houthi menyasar fasilitas strategis Arab Saudi dan mengganggu kegiatan investasi. Tekanan tersebut menghadapkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada pilihan sulit antara meningkatkan operasi militer dan menerima tuntutan kelompok yang telah lama berkonflik dengan Riyadh.
Serangan juga dilaporkan mengenai Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco, perusahaan yang menjadi tulang punggung perekonomian kerajaan. Kebakaran di fasilitas Aramco serta gangguan terhadap konferensi minyak dan forum investasi Future Investment Initiative mendorong sejumlah eksekutif membatalkan kehadiran, sementara penyelenggara menyediakan partisipasi jarak jauh.
Michael Knights dari lembaga penasihat strategis Horizon Engage menilai tekanan terhadap Saudi berkaitan dengan keterbatasan Iran menghadapi Washington secara langsung.
"Iran sedang berada dalam cengkeraman yang mencekik," kata Michael Knights.
Ia menjelaskan bahwa Teheran dan Houthi berupaya meningkatkan biaya kebijakan Amerika Serikat dengan menekan mitra regional Washington. Kerentanan ekonomi Saudi dan kepentingan kerajaan dalam menjaga stabilitas menjadi sasaran strategi tersebut.
"Karena tidak mampu memaksa Washington mengubah arah kebijakannya secara langsung, Teheran dan Houthi justru menghantam Arab Saudi, mereka menghantam titik lemahnya. Dengan memanfaatkan kerentanan ekonomi kerajaan tersebut dan keinginannya untuk menjaga stabilitas," tambah Michael Knights.
Namun, Houthi juga memiliki tuntutan tersendiri. Menurut sumber-sumber Saudi dan regional yang dikutip Reuters, kelompok itu menginginkan penghentian operasi militer Saudi, pelonggaran pembatasan pelabuhan dan bandara Yaman, penerbangan reguler ke Iran, pembayaran gaji pegawai negeri, kompensasi perang, serta penghentian dukungan Riyadh kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam membantah bahwa kelompoknya menjalankan perintah Iran. Ia menyatakan tuntutan mereka berpusat pada persoalan kemanusiaan dan pembatasan ekonomi yang berkaitan dengan Yaman.
"Tuntutan kemanusiaan kami tidak ada hubungannya dengan Iran atau pihak lain," ujar Mohammed Abdulsalam.
Seorang pejabat senior Iran, menurut laporan CNBC Indonesia yang mengutip Reuters, menyebut serangan Houthi sebagai bagian dari strategi lebih luas untuk mengubah keseimbangan kekuatan regional melalui tekanan terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran. Ia menilai Riyadh perlu mempertimbangkan negosiasi karena tidak dapat sepenuhnya mengandalkan perlindungan Amerika Serikat.
Di pihak Saudi, Ketua Gulf Research Center Abdulaziz Sager menggambarkan perubahan sikap para pemimpin kerajaan terhadap penyelesaian konflik. Menurutnya, mereka semakin mengutamakan tekanan militer setelah menghadapi serangan berulang.
"Mereka telah mencapai titik TIDAK ADA NEGOSIASI," ujar Abdulaziz Sager.
Ia menilai pilihan pemerintah Saudi semakin terbatas di tengah eskalasi yang berkelanjutan.
"Mereka tidak memiliki pilihan lain selain tindakan militer," ujar Abdulaziz Sager.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan kemungkinan membantu Saudi menyerang Houthi. Menurut laporan Kompas.id pada 18 Oktober 2026, Houthi mengancam akan menargetkan seluruh kepentingan Amerika Serikat di kawasan jika Washington terlibat langsung.
Laporan CNBC Indonesia menyebut Trump sebelumnya belum menyetujui serangan langsung Amerika Serikat. Washington disebut menawarkan bantuan penentuan target dan berbagi intelijen, sementara kemungkinan tindakan lebih lanjut masih dipertimbangkan.
Risiko konflik turut meningkat karena posisi geografis Yaman di dekat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan perdagangan internasional. Mantan negosiator Amerika Serikat Aaron David Miller menilai ketimpangan aset yang dipertaruhkan membuat Saudi lebih rentan terhadap serangan berkepanjangan.
"Infrastruktur Arab Saudi jauh lebih berharga dibandingkan infrastruktur Houthi," ujar Aaron David Miller.
Ia menjelaskan bahwa kerusakan terhadap fasilitas Saudi berpotensi menimbulkan konsekuensi ekonomi lebih besar dibandingkan kerugian yang dapat dialami Houthi.
"Mereka memiliki jauh lebih sedikit hal yang bisa hilang dibandingkan Arab Saudi," tambah Aaron David Miller.
Analis Yaman Farea al-Muslimi mengaitkan memburuknya situasi dengan kegagalan peta jalan perdamaian yang didukung Saudi pada 2023. Rencana tersebut mencakup bantuan Riyadh untuk membayar gaji pegawai sektor publik dan membiayai pembangunan kembali Yaman, tetapi konflik di Laut Merah menghambat proses itu.
"Kita sedang menuju hasil terburuk yang bisa dibayangkan," kata Farea al-Muslimi.
Di tengah eskalasi tersebut, Cina juga menghadapi tekanan diplomatik untuk menentukan perannya. Menurut laporan SINDOnews pada 18 Oktober 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Mao Ning mengecam serangan Houthi yang menimbulkan korban di Arab Saudi pada 12 Oktober dan menolak serangan terhadap warga sipil maupun infrastruktur sipil.
Sikap tersebut menempatkan Beijing di antara kepentingan strategisnya dengan Iran, kemitraan ekonominya dengan Arab Saudi, dan kebutuhan menjaga kelancaran pelayaran Laut Merah. Perkembangan konflik kini menguji ruang diplomasi Cina ketika Washington mempertimbangkan keterlibatan lebih jauh dan kedua pihak masih menghadapi perbedaan mendasar mengenai penyelesaian perang Yaman.
Sumber: Suara Independent News. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...