Serangan Houthi ke Arab Saudi Tunjukkan Peningkatan Kekuatan Militer Pemberontak Yaman
Kelompok Houthi tingkatkan serangan ke Arab Saudi dengan persenjataan canggih dan strategi baru yang ancam keamanan negara tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.TV – Kelompok pemberontak Houthi di Yaman menunjukkan peningkatan kemampuan militernya melalui serangkaian serangan ke Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir.
Kelompok yang didukung Iran itu berulang kali menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, yang berjarak ratusan kilometer dari Yaman. Houthi juga merebut wilayah di Yaman yang berada di dekat jalur pelayaran strategis.
Seperti dikutip dari The Associated Press (AP), Sabtu (17/10/2026), melaporkan bahwa peningkatan kemampuan militer Houthi menjadi tantangan bagi Arab Saudi. Padahal, kerajaan tersebut memiliki persenjataan canggih buatan Amerika Serikat (AS).
Seorang diplomat senior Arab Saudi mengatakan Iran mendorong eskalasi serangan Houthi. Ia juga menyebut kelompok tersebut menolak tawaran negosiasi yang diajukan pada musim panas lalu.
Houthi memiliki keunggulan geografis karena menguasai wilayah Yaman yang luas dan bergunung-gunung. Kondisi ini memungkinkan mereka menyebar pasukan dan infrastruktur militer, sekaligus mengancam fasilitas minyak serta jalur perdagangan penting.
Houthi memiliki beragam rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang sebagian menyerupai persenjataan Iran. Jangkauan senjata tersebut mencakup negara-negara Teluk hingga Israel.
Mereka juga menggunakan rudal antikapal dan drone laut untuk menyerang kapal-kapal di Laut Merah, jalur perdagangan penting dunia.
Menurut para ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pakar lainnya, Iran serta sekutunya di Lebanon dan Irak memberikan keahlian, pelatihan, dan persenjataan canggih kepada Houthi.
Laporan terbaru juga menemukan upaya Houthi memperoleh komponen dari pemasok China untuk membuat rudal balistik berpemandu presisi dengan jangkauan sekitar 2.000 kilometer.
Iran membantah mempersenjatai Houthi. Pengiriman senjata dari Iran ke Yaman akan melanggar embargo PBB. Meski demikian, sejumlah pengiriman senjata dan komponen yang diduga berasal dari Iran telah disita dalam perjalanan menuju Yaman.
Laporan para ahli PBB pada 2024 memperkirakan Houthi telah merekrut hingga 350.000 pejuang, meningkat tajam dibandingkan sekitar 30.000 orang pada 2015, ketika Arab Saudi mulai melakukan intervensi militer dalam perang saudara Yaman.
Selain memperoleh komponen canggih dari luar negeri, Houthi juga mampu memproduksi sebagian persenjataannya sendiri dengan biaya relatif rendah. Drone dan rudal murah tersebut dapat digunakan untuk menyerang fasilitas minyak maupun infrastruktur penting Arab Saudi.
Dalam beberapa hari terakhir, Houthi berulang kali menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga memicu pembatalan sejumlah penerbangan. Mereka juga menyerang markas perusahaan minyak nasional Arab Saudi, Saudi Aramco.
Serangan tersebut menunjukkan bahwa fasilitas strategis Arab Saudi tetap rentan meskipun negara itu memiliki sistem pertahanan udara canggih.
Sumber: Kompas.tv. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...