Presiden Iran Sebut Blokade AS Jadi yang Terberat Sejak Revolusi 1979, Tuduh Washington Picu Gejolak
Di tengah konflik tersebut, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.

POS BELITUNG — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tengah menghadapi tekanan berat akibat blokade, konflik bersenjata, dan kesulitan ekonomi. Ia menyebut situasi yang dihadapi Iran saat ini sebagai salah satu periode paling sulit sejak Revolusi Islam pada 1979.
Pezeshkian juga menuding Amerika Serikat (AS) berupaya memperburuk kondisi kehidupan masyarakat Iran untuk memicu ketidakpuasan dan gelombang protes terhadap pemerintah.
Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika serangan Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Di tengah konflik tersebut, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.
Langkah Washington mencakup pengalihan atau penghentian kapal yang berlayar menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran.
“Selama 48 tahun sejak Revolusi, kami belum pernah menghadapi blokade, perang, dan kesulitan seintens yang kami hadapi sekarang,” kata Pezeshkian dikutip dari Tribunnews, Sabtu (17/10/2026).
Pezeshkian Tuduh AS Ingin Memicu Kemarahan RakyatPezeshkian menilai tekanan yang diberikan Washington tidak hanya berkaitan dengan aspek militer dan perdagangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi sosial di dalam negeri.
Menurutnya, kesulitan yang dialami masyarakat dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketidakpuasan terhadap pemerintah Iran. Ia menuding AS sengaja mendorong situasi tersebut demi mencapai kepentingan politiknya.
Pezeshkian mengatakan AS memfokuskan upayanya untuk membuat “rakyat menjadi kesal dan menghadapi kesulitan, dan kemudian memunculkan protes sosial sehingga mereka dapat mencapai tujuan jahat mereka.”
Pemerintah Iran sebelumnya juga berulang kali menuduh AS dan Israel berupaya mengganggu stabilitas domestik. Dalam beberapa bulan terakhir, otoritas Iran dilaporkan mengeksekusi sejumlah warga yang dituduh bekerja sama dengan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh negara.
Tuduhan tersebut muncul di tengah situasi politik dan ekonomi Iran yang terus mendapat tekanan akibat konflik serta pembatasan terhadap aktivitas perdagangan.
Protes Biaya Hidup Meluas pada Akhir 2025
Sebelum eskalasi konflik terbaru, Iran telah menghadapi gelombang demonstrasi yang dipicu persoalan ekonomi.
Pada akhir Desember 2025, aksi protes terkait biaya hidup merebak di berbagai wilayah negara tersebut. Demonstrasi yang awalnya berkaitan dengan tekanan ekonomi kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas dan turut menyuarakan penolakan terhadap pemerintah.
Pihak berwenang Iran menyalahkan AS dan Israel atas kerusuhan tersebut. Namun, tuduhan mengenai keterlibatan kedua negara dalam memicu demonstrasi merupakan klaim pemerintah Iran yang perlu dibedakan dari fakta yang telah diverifikasi secara independen.
Sumber: Posbelitung.co. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.