Philip Morris Pangkas Ekspektasi Laba 2026, Konflik Timur Tengah Jadi Beban
Philip Morris memperkirakan laba per saham yang disesuaikan berada di rentang US$ 8,29 hingga US$ 8,44

Philip Morris International memperingatkan tekanan biaya akibat konflik di Timur Tengah dan Ukraina yang berpotensi menekan kinerja keuangan perusahaan.
Produsen rokok tersebut kini memperkirakan laba per saham yang disesuaikan sepanjang 2026 berada di kisaran tengah hingga bawah dari target yang telah ditetapkan.
Mengutip Reuters, Rabu (21/10/2026), Philip Morris memperkirakan laba per saham yang disesuaikan berada di rentang US$ 8,29 hingga US$ 8,44.
Perusahaan menilai, konflik geopolitik dan peningkatan investasi di Amerika Serikat (AS) akan membebani pencapaian laba. Saham Philip Morris pun turun sekitar 2% setelah pengumuman tersebut.
Tekanan biaya energi yang meningkat akibat perang Iran menjadi salah satu faktor yang membebani struktur biaya perusahaan. Dampaknya diperkirakan semakin terasa pada kuartal IV-2026.
Philip Morris menyebut situasi jangka panjang masih sulit diprediksi, termasuk dampaknya terhadap daya beli konsumen dan biaya operasional global. Meski demikian, perusahaan menilai dampak konflik sejauh ini masih dapat dikelola.
Perang di Ukraina juga mengganggu kegiatan operasional perusahaan. Philip Morris menyebut sejumlah gangguan terjadi, termasuk kerusakan infrastruktur akibat serangan. Tekanan tersebut diperkirakan masih memengaruhi pendapatan operasional sepanjang tahun ini.
Meski menghadapi tekanan biaya, Philip Morris membukukan penjualan dan laba kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi Wall Street.
Kinerja tersebut antara lain ditopang oleh bisnis rokok konvensional yang mencatatkan performa kuat, didukung permintaan di sejumlah pasar, termasuk Turki, serta kenaikan harga jual produk tembakau.
Di sisi lain, bisnis kantong nikotin Zyn di AS masih mencatatkan pertumbuhan pengiriman. Namun, kenaikan pengiriman sebesar 4,2% menunjukkan perlambatan dibandingkan tingkat pertumbuhan sebelumnya, di tengah persaingan yang semakin ketat, termasuk dari produk Velo milik British American Tobacco.
Untuk memperkuat bisnis Zyn, Philip Morris berencana meningkatkan investasi, termasuk menambah jumlah kantong nikotin dalam sebagian besar kemasan dari 15 menjadi 20 buah. Kebijakan tersebut diperkirakan menurunkan pendapatan per kantong sekitar 25%.
Analis Bernstein Callum Elliott menilai, bisnis rokok konvensional masih menjadi penopang utama kinerja perusahaan.
Menurut dia, pertumbuhan laba dari bisnis rokok konvensional saat ini lebih cepat dibandingkan bisnis produk bebas asap rokok yang menjadi bagian dari strategi jangka panjang Philip Morris.
Tekanan biaya juga berpotensi membatasi pertumbuhan laba perusahaan hingga akhir tahun. Dengan demikian, meskipun penjualan dan laba kuartalan melampaui ekspektasi pasar, konflik geopolitik dan kebutuhan investasi masih menjadi tantangan bagi prospek kinerja Philip Morris pada 2026.
Sumber: kontan.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.