Jumat, 6 November 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Perang Melawan Kejahatan Lintas Negara, Polri Andalkan Teknologi I-GHAS 24/7

Jakarta – Pengawasan terhadap buronan internasional dan jaringan kejahatan lintas negara memasuki babak baru. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama Direktorat Jenderal Imigrasi mulai memperkuat sistem deteksi melalui pemanfaatan teknologi...

Sumber foto: Poskota TV

Jakarta – Pengawasan terhadap buronan internasional dan jaringan kejahatan lintas negara memasuki babak baru. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama Direktorat Jenderal Imigrasi mulai memperkuat sistem deteksi melalui pemanfaatan teknologi digital yang terhubung dengan jaringan kepolisian internasional.

Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran aplikasi Interpol Global Hit Alert System (I-GHAS 24/7) oleh Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto di Rupattama Mabes Polri, Jakarta, Kamis (5/11/2026). Sistem ini dirancang untuk mempercepat identifikasi individu yang masuk dalam daftar buronan internasional ketika melintasi pintu masuk maupun keluar wilayah Indonesia.

Peluncuran tersebut turut dihadiri Kadivhubinter Polri Irjen Pol Untung Widyamoko dan Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko. Kapolri menegaskan, pengembangan I-GHAS 24/7 merupakan bentuk kolaborasi strategis antara Polri dan Imigrasi dalam menghadapi kejahatan yang semakin kompleks dan tidak lagi mengenal batas wilayah negara.

“Ini adalah terobosan yang dilakukan secara kolaboratif antara Polri dan Ditjen Imigrasi. Tentunya ini untuk memperkuat pengawasan buronan internasional dan juga pelaku lintas negara di pintu perlintasan Indonesia,” ujar Suyudi.

Salah satu keunggulan sistem I-GHAS 24/7 adalah konektivitasnya dengan jaringan Interpol yang menjangkau 196 negara. Melalui integrasi tersebut, petugas imigrasi dapat berkoordinasi dengan Divisi Hubungan Internasional Polri untuk melakukan verifikasi terhadap kecocokan data seseorang yang terindikasi masuk dalam daftar pencarian internasional.

Kecepatan pertukaran informasi menjadi faktor penting karena pelaku kejahatan lintas negara kerap memanfaatkan perbedaan sistem pengawasan, mobilitas internasional, serta celah koordinasi antarnegara untuk menghindari penegakan hukum.

Dengan sistem yang terintegrasi, proses identifikasi dan koordinasi diharapkan berlangsung lebih cepat, akurat, dan terukur. Namun, kecocokan data tetap harus ditindaklanjuti melalui verifikasi identitas dan prosedur hukum yang berlaku agar tidak terjadi kesalahan identifikasi terhadap penumpang atau pelintas batas.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolri juga menyinggung sejumlah keberhasilan penanganan kejahatan lintas negara melalui kerja sama internasional. Di antaranya penangkapan buronan Interpol terkait tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, penggagalan penyelundupan 1,6 ton ketamin, hingga pengungkapan laboratorium gelap. Berbagai kasus tersebut memperlihatkan bahwa ancaman kejahatan transnasional membutuhkan kemampuan pertukaran informasi yang cepat dan koordinasi lintas lembaga.

“Ini tentunya perlu kita perkuat dengan teknologi yang senantiasa lebih cepat, lebih tepat untuk identifikasi dan kecepatan dalam penanganannya,” tegas Kapolri.

Pengembangan I-GHAS 24/7 tidak berhenti pada peluncuran awal. Polri merencanakan penguatan sistem melalui pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) serta integrasi data biometrik pada 2027.

Teknologi tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan identifikasi dan memperkuat pengawasan terhadap pergerakan individu yang menjadi perhatian penegak hukum internasional. Kapolri meminta seluruh jajaran memastikan kesiapan personel, infrastruktur, dan keandalan sistem agar teknologi yang dibangun benar-benar dapat digunakan secara optimal.

Di sisi lain, penggunaan AI dan data biometrik juga membutuhkan pengamanan data yang kuat, pembatasan akses, serta mekanisme pengawasan untuk memastikan perlindungan privasi dan mencegah penyalahgunaan informasi.

Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko menyambut positif peluncuran I-GHAS 24/7. Menurutnya, integrasi informasi dan komunikasi digital menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi tantangan pengawasan perlintasan internasional. “Inisiasi dari Divhubinter untuk membuat I-GHAS 24/7 ini kami sambut dengan sangat baik. Bagaimana sebenarnya kolaborasi komunikasi yang telah terjalin, terutama di daerah-daerah perlintasan, akan terhubung melalui suatu sistem yang benar-benar lebih tepat, lebih cepat, lebih akurat,” kata Hendarsam.

Ia berharap kerja sama tersebut menjadi fondasi penguatan koordinasi antara Imigrasi dan Polri dalam menjaga kedaulatan serta keamanan negara. “Komitmen kami bersama, bagaimana kita mempunyai doktrin yang sama, berorientasi yang sama: Imigrasi untuk rakyat, polisi untuk masyarakat,” ujarnya.

Peluncuran I-GHAS 24/7 menjadi langkah penting dalam memperkuat pengawasan perbatasan Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan sistem berjalan konsisten di seluruh pintu perlintasan, didukung personel yang kompeten serta prosedur penindakan yang sesuai hukum.

Di tengah meningkatnya mobilitas internasional, Indonesia dituntut tidak hanya memperkuat pengawasan fisik perbatasan, tetapi juga membangun kemampuan deteksi digital agar tidak menjadi tempat persembunyian bagi buronan internasional maupun jaringan kejahatan transnasional.

Sumber: Poskota TV. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with