Perang Digital atas Masjid Al-Aqsa
Al-Azhar menyoroti ancaman penggunaan teknologi dan realitas virtual yang dinilai berupaya mengikis identitas keislaman Masjid Al-Aqsa.

Oleh Deni Rahman, Kaprodi Komunikasi Penyiaran Islam STAI Al-Fatah, Bogor
AWAL Oktober 2026, Al-Azhar Asy-Syarif mengeluarkan peringatan yang tidak biasa. Lembaga keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia itu mengecam penyerbuan pemukim dan menteri Israel ke halaman Masjid Al-Aqsa selama hari raya Sukkot. Namun Al-Azhar juga menyoroti ancaman penggunaan teknologi modern dan model realitas virtual untuk menghapus ciri-ciri keislaman kompleks Al-Aqsa.
Peringatan itu datang di tengah tekanan fisik yang terus meningkat. Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mencatat 26 kali penyerbuan ke Al-Aqsa sepanjang September 2026. Menjelang Yom Kippur, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyusuri jaringan terowongan galian di bawah kompleks masjid.
Yang membuat peringatan Al-Azhar penting adalah pengakuannya bahwa medan pertempuran telah meluas. Al-Aqsa kini tidak hanya diserbu di halamannya. Ia juga sedang diserbu di layar-layar kita.
Upaya menghadirkan Al-Aqsa dalam versi lain bukan hal baru. Di taman arkeologi yang membentang di sepanjang dinding selatan Al-Aqsa, di atas tanah wakaf yang diambil alih otoritas Israel, pengunjung disuguhi film dan simulasi komputer tentang Yerusalem era Romawi. Fokusnya adalah area Kuil, bukan masjid yang berdiri di sana hari ini.
Di internet, sejumlah situs dan konten edukasi menampilkan gambar kompleks tersebut dengan Kuil Ketiga berdiri di atasnya. Kubah Batu dan Masjid Al-Qibli tidak tampak sama sekali. Pembuatnya biasanya berdalih sedang “menyajikan sejarah”. Namun yang disajikan sesungguhnya adalah masa depan yang diinginkan.
Al-Azhar membaca tujuannya dengan jernih yaitu melegitimasi penyerbuan, membuka jalan bagi pembagian waktu dan tempat di Al-Aqsa, serta menghapus identitas Arab dan Islam Yerusalem. Dengan kata lain, sebelum sebuah bangunan dirobohkan secara fisik, ia lebih dulu dirobohkan dalam imajinasi.
Dalam ilmu komunikasi, fenomena ini bisa ditelaah dengan tiga konsep. Pertama, framing. Robert Entman (1993) menjelaskan bahwa media membingkai realitas dengan memilih aspek tertentu dan menonjolkannya, sambil mengabaikan aspek lain. Pilihan nama adalah bingkai paling dasar. Menyebut “Temple Mount” atau “situs yang disengketakan” alih-alih “Masjid Al-Aqsa” sudah merupakan keberpihakan.
Kedua, symbolic annihilation atau pemusnahan simbolik. Istilah yang dipopulerkan George Gerbner dan Gaye Tuchman ini menggambarkan bagaimana sebuah kelompok atau identitas dilenyapkan dari representasi media, tidak ditampilkan, diremehkan, atau digantikan. Model virtual yang menghapus Kubah Batu adalah contoh paling harfiah dari konsep ini.
Ketiga, teori kultivasi Gerbner. Paparan berulang terhadap gambaran tertentu perlahan membentuk persepsi publik tentang apa yang “nyata” dan “wajar”. Generasi yang lebih sering melihat simulasi Kuil daripada foto Al-Aqsa akan menganggap perubahan fisik di kemudian hari sebagai sesuatu yang alami.
Di sinilah bahayanya. Perubahan fakta di lapangan hampir selalu didahului oleh perubahan cara orang membayangkan tempat itu.
Al-Qur’an memberi landasan yang menarik untuk membaca persoalan ini. Allah berfirman dalam QS Al-Isra’ ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
Ada tiga pelajaran penting dari ayat ini. Pertama, Al-Qur’an sendiri yang menamai tempat itu al-Masjid al-Aqṣā. Identitasnya ditetapkan oleh wahyu, bukan oleh peta politik. Karena itu, menjaga nama berarti menjaga identitas.
Kedua, frasa bāraknā ḥaulahū menunjukkan bahwa keberkahan itu tidak terbatas pada bangunan masjid. Para mufasir, di antaranya Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa keberkahan itu meliputi kawasan sekitarnya, baik berkah duniawi berupa tanah yang subur maupun berkah agama sebagai negeri para nabi. Makna ini sejalan dengan QS Al-Anbiya’ ayat 71 yang menyebut negeri itu diberkahi “bagi seluruh alam”.
Ketiga, dan ini yang paling relevan, ayat tersebut ditutup dengan tujuan perjalanan Isra’, linuriyahū min āyātinā, “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami”. Dalam bahasa komunikasi, Al-Aqsa adalah sebuah tanda. Padahal Al-qsa tentunya bukan sekadar bangunan, melainkan simbol yang membawa makna tentang kesinambungan risalah para nabi. Maka, perang atas Al-Aqsa sejatinya adalah perang atas tanda. Siapa yang menguasai cara tanda itu ditampilkan dan dimaknai, dialah yang perlahan menguasai ingatan umat manusia tentangnya.
Tidak semua Muslim bisa hadir di halaman Al-Aqsa. Namun setiap Muslim kini berada di ruang tempat Al-Aqsa juga sedang diperebutkan, yaitu layar. Setidaknya ada empat langkah yang bisa dilakukan. Pertama, Disiplin penamaan. Media, khatib, dan pengguna media sosial perlu konsisten menyebut “Masjid Al-Aqsa” atau “Al-Haram Asy-Syarif”, serta menjelaskan istilah tandingan ketika terpaksa mengutipnya.
Kedua, Literasi visual umat. Di era gambar buatan AI dan simulasi 3D, umat perlu dibiasakan bertanya, siapa yang membuat gambar ini, apa yang ditampilkan, dan apa yang dihilangkan?
Ketiga, Dokumentasi digital tandingan. Lembaga wakaf, universitas atau kampus-kampus Islam, dan komunitas teknologi Muslim perlu membangun arsip digital dan tur virtual Al-Aqsa yang akurat. Gagasan ini sudah lama diusulkan kalangan akademisi, tetapi belum menjadi gerakan bersama.
Keempat, Peran media Islam. Media seperti MINA memikul amanah ganda, memberitakan peristiwa sekaligus merawat ingatan kolektif umat tentang Al-Aqsa sebagai tempat ibadah yang hidup, bukan reruntuhan sejarah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak dianjurkan bersusah payah melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menempatkan Al-Aqsa sebagai tujuan, sebagai tempat yang dirindukan dan didatangi.
Hari ini, kerinduan itu menghadapi ujian baru. Ada pihak yang berusaha agar dunia lebih akrab dengan gambar Al-Aqsa yang telah lenyap daripada Al-Aqsa yang masih berdiri. Barangkali tidak semua dari kita akan sempat bersujud di sana. Tetapi kita semua bisa memastikan satu hal. Al-Aqsa tidak hilang dari layar, apalagi dari ingatan. []
Sumber: Minanews.net. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...