Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

Mengapa Masa Panen Buah Zaitun Penting di Palestina?

Kian terdesak serangan pemukim Israel dan pembatasan akses ke lahan, warga Palestina di Tepi Barat kini terancam kehilangan kebun zaitun yang jadi tumpuan hidup.

Sumber foto: Kompas.id

Musim panen buah zaitun di Palestina bukan sekadar urusan pertanian. Periode ini ditandai dengan serangan besar-besaran pemukim ilegal Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Dijajah Israel sejak 1997, Tepi Barat masih ditinggali para petani zaitun Palestina. Setiap kali menjelang dan saat panen zaitun, para petani itu diserang. Hasil panen mereka dicuri. Akses ke kebun yang diwariskan turun-temurun juga dibatasi.

Kekerasan yang meningkat setiap musim panen berkaitan dengan persoalan yang lebih besar, yaitu perebutan kendali atas tanah Palestina di tengah perluasan permukiman Israel.

Pasukan Israel menahan Brad Lander, kandidat anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Lander ditangkap karena ia membantu petani memanen zaitun di Desa Nahalin, selatan Bethlehem, Rabu (21/10/2026).

Lander lalu dibebaskan beberapa jam kemudian. Ia termasuk salah satu dari 80 sukarelawan yang mendampingi petani sebagai bentuk kehadiran untuk mengurangi risiko kekerasan dan mendokumentasikan kejadian di lapangan.

Militer Israel, Tzahal, mengaku kegiatan itu tidak dikoordinasikan terlebih dahulu. Tzahal mengklaim, kegiatan Lander dan sukarelawan lain menimbulkan risiko keamanan.

Alasannya, lokasi kegiatan Lander dan kawan-kawan dekat dengan permukiman ilegal. Menurut hukum internasional, permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal.

Kementerian Luar Negeri Israel menuduh Lander memancing keributan. Sementara Lander menyatakan hanya karena mau menyoroti kesulitan rakyat Palestina untuk mencapai kebunnya dan bertahan di tanah mereka sendiri.

Israel praktis hanya menawarkan satu opsi bagi warga Palestina di Tepi Barat: pasrah saja menerima aneka kekerasan dari aparat dan pemukim ilegal Israel. Kalau melawan, risikonya mati.

Pada Jumat (23/10/2026), militer Israel, Tzahal, menembak mati dua warga Palestina di Hebron, Tepi Barat. Korban dicap sebagai teroris karena terlibat baku tembak dengan pihak yang tidak diidentifikasi Tzahal.

Standard pernyataan Israel memang selalu memberi cap teroris kepada warga Palestina yang menyerang orang Yahudi. Kalau tidak ditembak mati ditempat, sanksinya adalah siksaan dan penjara lama.

Sementara bagi pemukim ilegal Yahudi yang menyerang warga Palestina di Tepi Barat, hanya disebut sebagai pelaku kekerasan. Meski hampir setiap hari ada serangan, nyaris tak ada pemukim ilegal Yahudi ditangkap apalagi dihukum. Kalaupun dihukum, kerap kali amat ringan.

Situs Al Jazeera, Minggu (18/10/2026), menyebutkan, kekerasan selama musim panen zaitun ini sudah lama terjadi. Padahal, zaitun merupakan sumber pangan dan pendapatan bagi 80.000-100.000 keluarga Palestina di Tepi Barat. Buahnya diolah menjadi minyak zaitun dan produk pangan lain untuk dikonsumsi ataupun dijual.

Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut pohon zaitun sebagai bagian dari kehidupan, tradisi, dan ketahanan pangan masyarakat Palestina. Mereka memperingatkan, kekerasan dan pembatasan akses lahan mengancam penghidupan dan sistem pangan masyarakat.

Musim panen, terutama pada Oktober hingga November, juga menjadi tradisi keluarga yang menghubungkan generasi. Nilai pohon zaitun melampaui hasil satu musim. Kebun yang dirawat selama bertahun-tahun menjadi warisan keluarga sekaligus sumber penghidupan jangka panjang.

Karena pohon butuh waktu lama untuk tumbuh dan jadi produktif, kehilangan tanaman matang dapat mengurangi hasil panen selama bertahun-tahun. Masalahnya, banyak permukiman dan pos Israel dibangun secara ilegal di dekat kebun zaitun Palestina.

Semakin banyak lahan pertanian yang perlu koordinasi terlebih dahulu dengan militer Israel. Kelompok pemantau permukiman, Peace Now, menyebut luas lahan yang butuh persetujuan sebelumnya meningkat 30 persen, menjadi 88 kilometer persegi.

Ini yang membuat petani susah tidak hanya ketika panen. Petani juga kesulitan ketika merawat pohon dan mengelola kebun sepanjang tahun.

Analis politik Palestina, Ahmed Najar, kepada Al Jazeera menjelaskan, kekerasan membuat warga Palestina semakin sulit mencapai dan bertahan di tanah mereka sendiri. Sasaran serangannya bukan semata-mata hasil panen. Serangan juga mengganggu hubungan masyarakat Palestina dengan tanah leluhur. Al Jazeera mengaitkan meningkatnya keberanian para pemukim dengan situasi politik menjelang pemilihan umum Israel dan dukungan kelompok sayap kanan terhadap perluasan permukiman.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat 199 serangan pemukim terkait panen zaitun antara 1 September dan 12 Oktober 2026. Serangan itu menyebabkan 1 warga Palestina tewas, 124 terluka, dan sedikitnya 2.500 pohon dan bibit rusak.

Selama musim panen 2025, terjadi 178 serangan. Insiden itu berdampak pada 88 komunitas Palestina dan merusak 6.000 pohon dan bibit zaitun.

Kekerasan juga menyasar wartawan. Pada 16 Oktober 2026, fotografer lepas harian The Washington Post, Heidi Levine (63), diserang saat meliput petani di daerah Abu Falah. Perempuan itu dipukul dan alat kerjanya dirampas meski ia pakai rompi bertuliskan ”Pers”. Dampak serangan itu, sejumlah tulang Levine retak dan patah.

Sebelum serangan terjadi, pria bertopeng datang dari sejumlah permukiman ilegal Yahudi di sekitar lokasi serangan. Regu patroli aparat Israel melewati mereka dan lokasi serangan. Walakin, regu itu tidak berhenti sama sekali.

Setelah regu patroli pergi, serangan dimulai. Berdasarkan sejumlah rekaman, Al Jazeera menemukan bukti rombongan pemukim itu membakar pohon-pohon zaitun. Lalu, mereka menyerang warga Palestina.

Di tengah serangan itu, Levine dipukuli. Ia bisa diselamatkan setelah para pemuda Palestina melempari penyerang dengan batu.

Sementara dari arah penyerang terdengar beberapa kali letusan senjata api. Di masa pemerintahan Benjamin Netanyahu memang ada kebijakan membagikan aneka senjata, termasuk peluncur roket, kepada pemukim Yahudi di Tepi Barat.

Sehari-hari, warga Yahudi Israel terbiasa menyandang senapan atau pistol sembari membawa peluru cadangan dan granat. Kecuali sekelompok kecil Yahudi Ultra-Ortodoks, semua warga Israel berusia 18-40 tahun berstatus tentara baik aktif maupun cadangan.

Perempuan harus melakoni wajib militer dua tahun, sedangkan laki-laki tiga tahun. Setelah itu, mereka menjadi pasukan cadangan sampai usia 40 tahun. Pada pangkat dan tugas tertentu, usia wajib menjadi pasukan cadangan ditingkatkan.

Bukan hanya warga Palestina dan jurnalis yang diserang, pejabat asing juga diserang kala berkunjung ke Tepi Barat. Hal itu, antara lain, dialami Bernard Baudoux, Wali Kota Aulnoye-Aymeries di Perancis. Ia diserang saat berkunjung ke Desa Taybeh.

Ia datang bersama rombongan yang terdiri dari diplomat Eropa dan perwakilan gereja. Para pemukim bertopeng mengepung kendaraan rombongan dan memecahkan kaca kendaraan milik konsulat Belgia.

Militer Israel mengaku sudah menyelidiki insiden itu. Tzahal menyatakan, prajuritnya tidak berada di lokasi saat rombongan diplomat diserang.

Serangan-serangan ini memicu kecaman Uni Eropa dan negara-negara anggotanya. UE menuntut pertanggungjawaban dan pencegahan kekerasan terhadap warga Palestina. Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noël Barrot mendesak Israel menangkap pemukim yang menyerang Baudoux dan menjamin keselamatan warga sipil.

Najar menilai kecaman saja tak cukup. Pemerintah-pemerintah Barat tidak bisa mengklaim menentang kekerasan pemukim sembari terus memberi dukungan militer, pendanaan, dan perlindungan diplomatik kepada Israel.

Mantan perwakilan UE untuk Tepi Barat dan Gaza, Sven Kuhn von Burgsdorff, juga mengkritik ketiadaan langkah hukum yang nyata. Menurut dia, negara-negara anggota UE belum mencapai kesepakatan mengenai sanksi terhadap pemukim yang melakukan kekerasan ataupun pihak-pihak yang mendukung perluasan permukiman.

Gangguan produksi zaitun juga terjadi di Jalur Gaza meski dalam konteks berbeda. Jika petani di Tepi Barat menghadapi kekerasan pemukim dan pembatasan akses, perang di Gaza telah merusak lahan pertanian. Petani juga tak bisa menjangkau kebun dan mengolah hasil panen.

Dalam laporan situasi kemanusiaan pada 15 Oktober 2026, OCHA menyebut, kerusakan lahan dan kebun zaitun, pembatasan akses terutama di luar wilayah yang dikenal sebagai ”Garis Kuning”, serta keterbatasan pasokan pertanian menghambat panen dan pengoperasian tempat pemerasan minyak zaitun yang masih tersisa.

Di tengah pembatasan akses dan serangan terhadap petani, produksi minyak zaitun Palestina sebenarnya berpotensi pulih. Kementerian Pertanian Palestina memperkirakan produksinya dapat mencapai 21.000 ton pada 2026, meningkat dibandingkan 7.000 ton tahun lalu. Namun, target ini bergantung pada kemampuan petani mengakses kebun dan memanen buah zaitun. (REUTERS/AFP/AP)

Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with