Mahasiswa di Semarang Demo, Tuntut Karhutla Ditetapkan Sebagai Bencana Nasional
Mahasiswa di Semarang menggelar aksi demonstrasi. Mereka menuntut pemerintah agar menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.

Azmi mengutip kajian Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menyebut 99 persen kejadian karhutla disebabkan aktivitas manusia yang melakukan pembukaan lahan dan pertambangan.
Mahasiswa juga menuntut pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang dinilai gagal melakukan pencegahan karhutla. Terutama di kawasan lahan gambut yang rentan terbakar.
Ia menilai, pengawasan terhadap kawasan rawan karhutla perlu diperketat.
Selain itu, mahasiswa meminta pemerintah membuka transparansi hak guna usaha (HGU) agar masyarakat dapat mengawasi legalitas penggunaan lahan dan memastikan aktivitas pembukaan lahan tidak merusak ekosistem.
“Kami menginginkan transparansi HGU. Apakah semuanya resmi atau ada beberapa yang secara administrasi belum tuntas. Dengan transparansi, kita bisa melakukan pengawasan bersama,” tuturnya.
Azmi mengaku prihatin dengan dampak karhutla yang dirasakan masyarakat. Mahasiswa Unissula yang berasal dari Kalimantan juga merasakan dampak tersebut.
Azmi menyebut sejumlah keluarga mereka mengalami kesulitan mencari nafkah akibat keterbatasan jarak pandang dan kualitas udara yang buruk.
Pihaknya berencana menggalang dana untuk membantu mahasiswa asal daerah terdampak
“Jujur, kami merasa miris. Ini masalah yang terus berulang setiap tahun, tetapi seolah-olah pemerintah baru bergerak setelah kebakaran terjadi. Kenapa tidak dicegah terlebih dahulu ?,” katanya.
Azmi juga mendukung keterlibatan negara lain dalam membantu penanganan karhutla apabila diperlukan.
Menurutnya, dampak asap yang melintasi batas negara menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menjadi masalah Indonesia.
“Kalau bangsa kita tidak bisa mengatasinya sendiri, mau bagaimana lagi ? Ketika ada negara lain yang mau membantu penyelidikan maupun memadamkan api, menurut saya itu tindakan yang bagus,” ungkapnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Sumber: Kompas.com. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...