Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Nasional

Mahasiswa di Semarang Demo, Tuntut Karhutla Ditetapkan Sebagai Bencana Nasional

Mahasiswa di Semarang menggelar aksi demonstrasi. Mereka menuntut pemerintah agar menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.

Sumber foto: Kompas.com

Azmi mengutip kajian Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menyebut 99 persen kejadian karhutla disebabkan aktivitas manusia yang melakukan pembukaan lahan dan pertambangan.

Mahasiswa juga menuntut pencopotan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang dinilai gagal melakukan pencegahan karhutla. Terutama di kawasan lahan gambut yang rentan terbakar.

Ia menilai, pengawasan terhadap kawasan rawan karhutla perlu diperketat.

Selain itu, mahasiswa meminta pemerintah membuka transparansi hak guna usaha (HGU) agar masyarakat dapat mengawasi legalitas penggunaan lahan dan memastikan aktivitas pembukaan lahan tidak merusak ekosistem.

“Kami menginginkan transparansi HGU. Apakah semuanya resmi atau ada beberapa yang secara administrasi belum tuntas. Dengan transparansi, kita bisa melakukan pengawasan bersama,” tuturnya.

Azmi mengaku prihatin dengan dampak karhutla yang dirasakan masyarakat. Mahasiswa Unissula yang berasal dari Kalimantan juga merasakan dampak tersebut.

Azmi menyebut sejumlah keluarga mereka mengalami kesulitan mencari nafkah akibat keterbatasan jarak pandang dan kualitas udara yang buruk.

Pihaknya berencana menggalang dana untuk membantu mahasiswa asal daerah terdampak

“Jujur, kami merasa miris. Ini masalah yang terus berulang setiap tahun, tetapi seolah-olah pemerintah baru bergerak setelah kebakaran terjadi. Kenapa tidak dicegah terlebih dahulu ?,” katanya.

Azmi juga mendukung keterlibatan negara lain dalam membantu penanganan karhutla apabila diperlukan.

Menurutnya, dampak asap yang melintasi batas negara menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menjadi masalah Indonesia.

“Kalau bangsa kita tidak bisa mengatasinya sendiri, mau bagaimana lagi ? Ketika ada negara lain yang mau membantu penyelidikan maupun memadamkan api, menurut saya itu tindakan yang bagus,” ungkapnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Sumber: Kompas.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with