Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Palestina

Kisah Bendera Palestina di Jalanan Seoul

Pernah melihat beberapa video viral seperti susunan sepatu yang menggambarkan korban anak yang tewas di Gaza? Atau para aktivis yang tiduran di jalan dekat Kedutaan Israel sambil membawa bendera Palestina?...

Sumber foto: Acehkini.ID

Pernah melihat beberapa video viral seperti susunan sepatu yang menggambarkan korban anak yang tewas di Gaza? Atau para aktivis yang tiduran di jalan dekat Kedutaan Israel sambil membawa bendera Palestina? Atau video kampanye yang dilakukan oleh aktivis Korea Selatan yang memakai keffiyeh berpose sebagai Yahya Sinwar, tanda perlawanan sampai akhir?? Ini cerita pro-Palestina dari negeri gingseng.

Hampir setiap Sabtu siang, bendera Palestina dikibarkan di salah satu sudut kota Seoul, kadang-kadang yang membawanya sedikit, di lain kesempatan riuh dan ramai. Terkadang dekat Gwanghwamun station, lain kesempatan di sekitar Jonggak Station yang tidak jauh dari Kedutaan Israel. Terkadang ada yang membaca puisi, memukul alat musik tradisional, melakukan aksi teaterikal sambil menyerukan penghentian serangan terhadap Gaza yang terus dilakukan Israel.

Mereka tidak pernah berhenti bergerak selama tiga tahun terakhir sejak Oktober 2023, saat Israel menyerang Gaza dalam skala besar sampai terjadi genosida. Walaupun musim berganti. panas, dingin maupun hujan tetap berkumpul bersama, berteriak, mengibarkan bendera dan membuat poster berisi protes. Acehkini beberapa kali melihat mereka melakukan protes saat berada di pusat kota Seoul.

Tidak hanya di jalanan. Para aktivis juga mengelar acara membaca sastra dan buku tentang Palestina, penayangan film dokumenter yang mengungkap bagaimana kehidupan di bawah penjajahan Israel, menyelenggarakan pertemuan dengan pengungsi Palestina bahkan mempelajari budaya Palestina. Hal ini dilakukan untuk lebih mengerti berbagai masalah yang terjadi di sana.

Kalau demo pada hari Sabtu diikuti oleh banyak orang, ada aksi harian yang dilakukan setiap harinya oleh seorang aktivis yang berdiri di depan kedutaan Israel di Kawasan Jongno, Seoul sambil memengang plakat bertuliskan “Hentikan genosida terhadap Palestina.” Pada setiap siang seseorang akan datang, terkadang pekerja kantoran, mahasiswa bahkan penyair. Menurut para aktivis, protes ini walaupun kecil namun juga bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa suara-suara yang menentang perang dan kekerasan juga ada di Korea Selatan.

Gerakan ini awalnya kecil yang digagas oleh beberapa aktivis pro-Palestina, kini sudah diikuti oleh lebih dari 300 kelompok masyarakat sipil untuk solidaritas terhadap Palestina. Bahkan beberapa kampus besar di Korea juga memiliki organisasi mahasiswa yang juga melakukan kampanye untuk menambah wawasan tentang penjajahan terhadap Palestina.

Di Seoul aksi dipimpin oleh koalisi masyarakat sipil, jaringan mahasiswa, dan organisasi hak asasi manusia yang tergabung dalam Palestine Peace Solidarity (PPS) atau dikenal sebagai BDS (Boycott, Divestment, and Sanctions) Korea. BDS Korea sendiri menurut websitenya terbentuk sejak 2003.

Saat itu Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Irak. Organisasi ini juga melakukan upaya untuk mendorong Korea Selatan untuk memberlakukan embargo militer terhadap Israel, hingga memboikot produk-produk Israel, dan memutuskan hubungan akademis dan bisnis Korea dengan Israel. Walaupun Korea Selatan dan Palestina berjauhan namun kedua negara sama-sama merasakan kekejaman penjajahan. Korea Selatan sendiri memilki hubungan Diplomatik dengan Israel.

Dua pekan lalu, para aktivis PSP juga melakukan aksi besar dengan lebih ratusan orang turun kejalan memperingati 3 tahun genosida di Gaza. Aksi dilakukan dengan melakukan long march di depan kedutaan besar Amerika dan Israel setelah aksi protes yang dipusatkan di taman dekat station Anguk. Aksi para demonstran juga dengan berbaring berjajar di atas jalan di sekitar Kedutaan Besar Israel sebagai simbol korban konflik di Gaza.

Berbagai kampanye yang dilakukan merubah pergerakan yang dulunya menjadi isu kecil di Korea menjadi hal dinamis dengan mengabungkan beberapa upaya advokasi dan kreativitas dalam mengelar aksi.

Media sosial mempunyai peran penting dalam hal ini. Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Hankook Research menemukan bahwa 62 persen respondennya merasa lebih bersimpati terhadap perjuangan Palestina. Di sisi lain, dukungan untuk Israel telah menurun daripada sebelumnya. []

Sumber: Acehkini.ID. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with