Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Ketegangan Timur Tengah Dorong Harga Minyak dan Batubara Naik

Ketegangan AS, Israel, dan Iran mengangkat harga minyak dan batubara, sementara pasokan gas alam yang melimpah menekan harga hingga akhir 2026.

Sumber foto: Cirebon Times

Ketegangan militer di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global menjelang akhir 2026. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mendorong kenaikan harga minyak mentah serta batubara, sementara gas alam bergerak berlawanan akibat melimpahnya pasokan di AS. Kondisi ini memengaruhi prospek pasar komoditas energi internasional.

Dilansir dari Investasi, berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (22/10/2026) pukul 17.05 WIB, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$ 99,7 per barel, naik 8% dalam sebulan. Minyak Brent meningkat 8,88% menjadi US$ 111,7 per barel dalam periode yang sama.

Harga batubara turut menguat 3,5% dalam sebulan menjadi US$ 150,5 per ton. Sebaliknya, harga gas alam turun 8,6% menjadi US$ 2,7 per MMBtu, mencerminkan perbedaan kondisi pasokan dan permintaan di pasar energi.

Analis komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai pengerahan tambahan kekuatan militer AS ke Timur Tengah, ancaman terhadap fasilitas energi, serta meningkatnya ketegangan Iran dan Israel menjadi pendorong utama kenaikan premi risiko.

"Secara umum, tren kenaikan harga energi fosil cair dan padat masih memiliki peluang besar untuk berlanjut akibat dominasi premi risiko perang, sementara gas alam mengalami dinamika pasokan yang terpisah," ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Wahyu memperkirakan harga Brent bergerak pada kisaran US$ 90-US$ 120 per barel hingga akhir 2026. Sementara itu, WTI diproyeksikan berada di rentang US$ 85-US$ 115 per barel.

Risiko kenaikan semakin besar jika konflik berkembang menjadi bentrokan militer langsung yang mengganggu produksi dan distribusi energi. Serangan terhadap fasilitas minyak Shaybah milik Saudi Aramco turut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah.

Menurut Wahyu, faktor geopolitik saat ini lebih dominan memengaruhi harga energi dalam jangka pendek dibandingkan permintaan global. Ancaman gangguan pasokan juga mendorong negara importir, khususnya di Asia, mengamankan kebutuhan energi untuk mengantisipasi kemungkinan kelangkaan.

Meski demikian, harga minyak tetap menghadapi risiko koreksi jika kenaikan biaya energi menekan konsumsi bahan bakar industri, terutama di China dan negara berkembang.

"Namun, dalam jangka pendek, kepanikan defisit pasokan fisik mengesampingkan kekhawatiran pelemahan permintaan tersebut," ujar Wahyu.

Untuk batubara, Wahyu memperkirakan harga acuan Newcastle berada di kisaran US$ 145-US$ 165 per ton hingga akhir 2026. Permintaan untuk mengamankan pasokan menjelang musim dingin di Asia Timur dan Eropa menjadi salah satu faktor pendukung, selain kemungkinan peralihan sebagian industri dan pembangkit listrik dari minyak ke batubara.

Pergerakan harga batubara juga menjadi perhatian bagi investor saham domestik yang menilai prospek emiten pertambangan. Namun, dampaknya terhadap kinerja masing-masing perusahaan bergantung pada biaya produksi, volume penjualan, dan realisasi harga jual batubara.

Berbeda dengan minyak dan batubara, gas alam di pasar AS diperkirakan bergerak konsolidatif pada rentang US$ 2-US$ 4 per MMBtu hingga akhir 2026. Wahyu mengaitkan tekanan harga dengan tingginya produksi gas serpih atau shale gas serta kesiapan penyimpanan gas di Eropa menjelang musim dingin.

Harga gas alam masih berpeluang menguat apabila konflik Timur Tengah mengganggu ekspor gas alam cair atau LNG dari kawasan Teluk Persia. Permintaan untuk pemanas yang meningkat akibat cuaca lebih dingin dari perkiraan juga dapat mendukung harga.

Wahyu menilai Brent menarik dicermati karena sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan gangguan distribusi energi global. Sementara itu, batubara menjadi salah satu komoditas yang relevan bagi investor saham domestik dalam menilai prospek perusahaan pertambangan.

Volatilitas pasar energi masih dipengaruhi perkembangan diplomasi, keputusan produksi negara produsen, kondisi permintaan global, dan pergerakan nilai tukar. Perubahan pada faktor-faktor tersebut dapat mengubah arah harga komoditas dalam waktu singkat.

Sumber: Cirebon Times. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with