Jelang Pemilu, Militer Israel Mengganas Di Tepi Barat
Israel mengusir 2.000 warga Palestina dari rumahnya di Hebron, Tepi Barat. Hampir sepekan menjelang pemilu Israel, serangan besar-besaran dilancarkan ke Tepi Barat.

HEBRON, MINGGU — Menjelang pemilu, militer Israel semakin ganas dan membesarkan operasi di Tepi Barat. Di wilayah yang dijajah Israel sejak 1967 itu, 2.000 warga Palestina diusir dari rumahnya.
Dalam pernyataan pada Minggu (25/10/2026), militer Israel atau Tzahal, mengumumkan penutupan semua pos pemeriksaan di Tepi Barat. Penutupan diberlakukan pada Selasa (27/10/2026), hari pemungutan suara pemilu Israel.
Israel sudah bertahun-tahun menyekat Tepi Barat. Warga Palestina harus melewati berbagai pos pemeriksaan untuk bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain di Tepi Barat.
Pengumuman itu disampaikan tak lama selepas Menteri Pertahanan Israel Katz mengumumkan pengusiran 2.000 warga Palestina dari Hebron. ”Mereka tidak boleh kembali,” kata Katz.
Pengusiran berlangsung sejak Jumat (23/10/2026). Sebagian warga diusir tengah malam dari rumah-rumah mereka.
Salah satu pemimpin komunitas yang diusir, Higazi Shawer al-Tamimi (70), mengungkapkan bahwa rumahnya digedor pada pukul 01.00 dini hari. Ia diminta segera keluar rumah. Militer Israel tak peduli kondisi penghuni rumah. Tua dan sakit sekalipun harus segera keluar.
Politisi sayap kanan yang juga Menteri Keuangan Israel sekaligus Pengawas Hubungan Sipil Tepi Barat pada Kemenhan Israel, Bezalel Smotrich, mendukung penghancuran rumah warga-warga Palestina. Ia menuding rumah-rumah itu dibangun secara ilegal.
Hebron adalah tempat Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub dimakamkan. Kota Tua Hebron dan Masjid Ibrahimi telah masuk daftar Warisan Dunia versi UNESCO. Sejak pembantaian 29 anggota jemaah Masjid Ibrahimi oleh teroris Yahudi berkewarganegaraan Amerika Serikat pada 1994, secara bertahap Masjid Ibrahimi dikontrol penuh oleh Tzahal.
Dalam laporan TRT World disebutkan pada tahun 1997 Hebron dibagi dalam wilayah H1 di bawah Otoritas Palestina, sedangkan wilayah H2 dikendalikan Israel. H2 termasuk Masjid Ibrahimi.
Sepanjang 2025-2026, Israel memperkuat cengkeraman atas Masjid Ibrahimi dan sekitarnya. Kendali atas lokasi tersebut diserahkan kepada pemukim liar zionis di Kiryat Arba dan akses bagi Muslim sangat dibatasi dan sering ditutup.
Di rumah-rumah yang dikosongkan itu segera dikibarkan bendera Israel. Sejak dulu, salah satu modus Israel adalah mengosongkan rumah dan lahan milik warga Palestina.
Setelah pengosongan, para pemukim ilegal Yahudi mendudukinya. Meski memiliki bukti kepemilikan yang diakui hukum Israel sekalipun, nyaris mustahil bagi warga Palestina mengambil lagi properti mereka yang telah dirampas pemukim ilegal Yahudi.
Di Amerika Serikat dan sejumlah negara kerap ada lelang terbuka atas aset-aset itu. Pembelinya adalah siapa pun yang mengidentifikasi diri sebagai pemeluk Yahudi.
Katz dan Tzahal menuding, ada anggota Hamas dan sejumlah kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina di Hebron. Oleh karena itu, 2.000 orang diusir sebagai hukuman atas keberadaan para pejuang itu.
Gubernur Hebron Khaled Dudin menyebut pengusiran itu sebagai hukuman kolektif. Israel sejak lama memberlakukan hukuman kolektif terhadap setiap upaya perjuangan kemerdekaan Palestina. Jika mengidentifikasi di satu rumah ada pejuang kemerdekaan, kompleks perumahan akan dikosongkan atau dihancurkan.
Pengusiran Jumat-Sabtu adalah reaksi Israel atas baku tembak antara warga Palestina dan aparat Israel di Hebron. Israel sigap dan keras jika ada perlawanan dan tuduhan kekerasan oleh warga Palestina.
Sementara jika pelakunya pemukim ilegal Yahudi, hampir tidak ada penangkapan. Kalaupun ada penangkapan, hukumannya kerap kali hanya kurungan kurang dari sebulan.
Padahal, setiap minggu selalu ada serangan pemukim ilegal Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Sebagian pemukim itu menembakkan senapan atau pistol. Kelompok pemantau HAM Israel, Yesh Din, mencatat 672 serangan dalam 26 hari terakhir saja.
Warga Palestina tidak boleh melawan, sekalipun membalas dengan lemparan batu. Kalau melawan, aparat Israel akan menangkap warga Palestina itu. Dalam Konvensi Geneva dan Aturan Den Haag, warga di daerah pendudukan dibenarkan untuk melawan pasukan penjajah atau pendudukan.
Baku tembak itu jadi alasan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan besar-besaran ke Tepi Barat. Ia menyebutkan, operasi kali ini tidak pernah terjadi sejak Israel menjajah Tepi Barat. Modal politik utama Netanyahu adalah citra sebagai politisi yang keras kepada Palestina dan tidak akan mengizinkan Solusi Dua Negara terwujud.
Tzahal menyebutkan, operasi di Tepi Barat akan berlangsung beberapa hari. Sebaliknya, Netanyahu menyatakan tindakan lebih besar akan segera diluncurkan. ”Kami mengubah Timur Tengah,” ujarnya.
Higazi Shawer al-Tamimi mengatakan, pengusiran dan serangan ke Tepi Barat terjadi karena Netanyahu hanya bisa menang jika menyiksa orang Palestina. ”Saya hidup di seluruh tahapan pendudukan dan saya akan mati di sini,” ujarnya.
Otoritas Palestina meminta dunia internasional bertindak. Bukan sekadar mengecam. Menurut hukum dan kesepakatan komunitas internasional, Tepi Barat adalah wilayah Palestina, Israel menjajahnya, dan setiap permukiman Israel dipandang ilegal.
Khaled Shawer al-Tamimi mengaku terkejut kala mendengar letusan senjata di sekitar permukiman mereka. Komunitas itu terdiri dari warga kelas menengah yang taat hukum. ”Kami tak pernah melihat atau mendengar tembakan,” katanya.
Sementara itu, di Tel Aviv pada Sabtu malam kembali digelar protes terhadap pemerintahan Netanyahu. Digelar Dewan Oktober, kelompok yang dibentuk keluarga korban serangan 7 Oktober 2023, unjuk rasa menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kegagalan mencegah serangan itu.
Mantan Panglima Tzahal yang kini menjadi tokoh utama oposisi Israel, Gadi Eisenkot, ikut unjuk rasa itu. Dalam jajak pendapat yang disiarkan KAN, 52 dari 120 kursi parlemen Israel berpeluang dimenangi koalisi Eisenkot.
Sementara koalisi Netanyahu diproyeksi akan meraih 50 kursi. Sisanya akan dimenangi partai-partai yang belum berkoalisi dengan kelompok mana pun. Netanyahu bisa kembali jadi PM selepas pemilu 2022 setelah merangkul kelompok ekstrem kanan. ”Israel tidak pernah dalam kondisi seburuk sekarang,” kata salah satu pengunjuk rasa, Hadas Feuershtein (68).
Salah satu pemilih mula, Naama Bitterman (18), mengaku ingin koalisi Netanyahu kalah. Sebab, ia ingin perubahan dan perbaikan citra Israel yang hancur akibat serangan ke Lebanon, Gaza, Iran, dan beberapa negara lain di kawasan.
Sejumlah negara menyanksi produk buatan dari penjajahan di Tepi Barat. Menanggapi itu, Netanyahu mengusulkan sistem alternatif. Oposisi menyebut Netanyahu mau mengisolasi Israel. ”Israel akan terputus dari ekonomi global, tidak ada belanja daring, tidak ada investasi pada teknologi tinggi,” kata Eisenkot.
Dewan Oktober antara lain mendesak pembentukan komite penyelidik independen atas serangan 7 Oktober 2023. Selain pembiaran, ada dugaan sebagian korban tewas akibat senjata Tzahal.
Para komandan dan prajurit di lapangan diperintahkan menembak siapa saja di lokasi baku tembak. Rekaman foto dan video di lokasi mengindikasikan, korban dan aneka benda tidak diserang dengan senjata yang dimiliki para pejuang Palestina.
Pemerintahan Netanyahu menolak membentuk komite penyelidikan itu. Ia memilih komite politik yang ditunjuk oleh parlemen. Kubu oposisi menolak bergabung dengan komite itu. (AP/AFP/REUTERS)
Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...