Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

IRGC Singgung Tujuh Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz

IRGC Iran mengisyaratkan target dan senjata baru di tengah konflik dengan AS, termasuk menyinggung tujuh kabel internet bawah laut di Selat Hormuz.

Sumber foto: Koridor.co.id

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengisyaratkan kemungkinan munculnya target dan persenjataan baru dalam konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS). Dalam pernyataan di Teheran pada Selasa, 20 Oktober 2026, juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menyoroti tujuh kabel internet bawah laut yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis bagi lalu lintas data dan perdagangan.

Menurut laporan Anadolu Agency, Mohebbi menyebut keberadaan kabel-kabel tersebut dalam sebuah acara di Museum Pertahanan Suci di Teheran. Namun, ia tidak secara tegas menyatakan bahwa infrastruktur telekomunikasi bawah laut itu akan menjadi sasaran serangan Iran.

Dalam pernyataannya, Mohebbi menyampaikan bahwa Iran berencana mengungkap sasaran dan memperkenalkan persenjataan baru.

"Kami hanya ingin mereka mengetahui bahwa target-target baru akan diungkap. Senjata-senjata baru pun akan diperkenalkan," ujar juru bicara IRGC Hossein Mohebbi.

Menurut laporan lembaga penyiaran Iran, IRIB, Mohebbi juga menegaskan tekad negaranya untuk menyingkirkan apa yang disebutnya sebagai sisa-sisa kekuatan AS dari kawasan tersebut. Pernyataan itu tidak disertai penjelasan mengenai sasaran spesifik yang akan dipilih.

Isu kabel internet bawah laut sebelumnya juga muncul dalam pernyataan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Awal Oktober 2026, Rezaei mengatakan kepada media Press TV bahwa Teheran dapat mempertimbangkan infrastruktur digital yang berkaitan dengan AS sebagai sasaran apabila perang berskala besar kembali terjadi.

Rezaei menyatakan bahwa aset-aset tersebut belum dimasukkan ke dalam daftar sasaran Iran, tetapi memperingatkan kemungkinan penghancurannya jika konflik kembali pecah.

"Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam daftar target kami," ujar Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei.

Selain kabel internet bawah laut, Rezaei menyebut pusat data dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) yang terkait dengan AS sebagai infrastruktur yang berpotensi menjadi sasaran. Pernyataannya disampaikan dalam konteks kemungkinan berlanjutnya perang berskala besar.

Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran. Gencatan senjata sempat tercapai pada April, kemudian disusul nota kesepahaman antara Washington dan Teheran pada Juni.

Namun, pelaksanaan nota kesepahaman tersebut terhambat oleh ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz. Jalur perairan ini memiliki peran penting bagi pasokan minyak dan gas global.

Iran bersikeras mengklaim kendali atas Selat Hormuz dan kerap menargetkan kapal yang dianggap melintas tanpa izin. Sebaliknya, AS mempertahankan tuntutan agar pelayaran di jalur tersebut tetap bebas serta memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sumber: Koridor.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with