IRGC Singgung Tujuh Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz
IRGC Iran mengisyaratkan target dan senjata baru di tengah konflik dengan AS, termasuk menyinggung tujuh kabel internet bawah laut di Selat Hormuz.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengisyaratkan kemungkinan munculnya target dan persenjataan baru dalam konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS). Dalam pernyataan di Teheran pada Selasa, 20 Oktober 2026, juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menyoroti tujuh kabel internet bawah laut yang melintasi Selat Hormuz, jalur strategis bagi lalu lintas data dan perdagangan.
Menurut laporan Anadolu Agency, Mohebbi menyebut keberadaan kabel-kabel tersebut dalam sebuah acara di Museum Pertahanan Suci di Teheran. Namun, ia tidak secara tegas menyatakan bahwa infrastruktur telekomunikasi bawah laut itu akan menjadi sasaran serangan Iran.
Dalam pernyataannya, Mohebbi menyampaikan bahwa Iran berencana mengungkap sasaran dan memperkenalkan persenjataan baru.
"Kami hanya ingin mereka mengetahui bahwa target-target baru akan diungkap. Senjata-senjata baru pun akan diperkenalkan," ujar juru bicara IRGC Hossein Mohebbi.
Menurut laporan lembaga penyiaran Iran, IRIB, Mohebbi juga menegaskan tekad negaranya untuk menyingkirkan apa yang disebutnya sebagai sisa-sisa kekuatan AS dari kawasan tersebut. Pernyataan itu tidak disertai penjelasan mengenai sasaran spesifik yang akan dipilih.
Isu kabel internet bawah laut sebelumnya juga muncul dalam pernyataan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Awal Oktober 2026, Rezaei mengatakan kepada media Press TV bahwa Teheran dapat mempertimbangkan infrastruktur digital yang berkaitan dengan AS sebagai sasaran apabila perang berskala besar kembali terjadi.
Rezaei menyatakan bahwa aset-aset tersebut belum dimasukkan ke dalam daftar sasaran Iran, tetapi memperingatkan kemungkinan penghancurannya jika konflik kembali pecah.
"Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam daftar target kami," ujar Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei.
Selain kabel internet bawah laut, Rezaei menyebut pusat data dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) yang terkait dengan AS sebagai infrastruktur yang berpotensi menjadi sasaran. Pernyataannya disampaikan dalam konteks kemungkinan berlanjutnya perang berskala besar.
Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran. Gencatan senjata sempat tercapai pada April, kemudian disusul nota kesepahaman antara Washington dan Teheran pada Juni.
Namun, pelaksanaan nota kesepahaman tersebut terhambat oleh ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz. Jalur perairan ini memiliki peran penting bagi pasokan minyak dan gas global.
Iran bersikeras mengklaim kendali atas Selat Hormuz dan kerap menargetkan kapal yang dianggap melintas tanpa izin. Sebaliknya, AS mempertahankan tuntutan agar pelayaran di jalur tersebut tetap bebas serta memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sumber: Koridor.co.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.