Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Iran

Iran Tampilkan Pabrik Bawah Tanah Drone Arash dan Perkuat Pertahanan

Iran menampilkan fasilitas produksi bawah tanah drone Arash, mengembangkan hulu ledak 100 kilogram, dan meningkatkan kesiapan militer di tengah ketegangan dengan AS.

Sumber foto: Demokratis.co.id

Ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat meningkat setelah Teheran mengumumkan pengembangan drone serang Arash dan menembak jatuh sebuah drone AS di Bandar Abbas, Iran selatan. Perkembangan ini berlangsung pada 22–25 Oktober 2026, ketika Presiden Donald Trump membuka kemungkinan serangan baru terhadap Iran, sementara militer Iran menyatakan kesiapan menghadapi konflik.

Kantor berita Tasnim melaporkan pada Minggu, 25 Oktober 2026, bahwa drone yang ditembak jatuh di Bandar Abbas merupakan jenis LUCAS buatan Amerika Serikat. Insiden tersebut terjadi di tengah kekhawatiran akan meluasnya konflik di Timur Tengah. Belum ada keterangan dalam laporan sumber mengenai kerusakan atau korban akibat insiden itu.

Sehari sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Washington dapat melancarkan serangan terhadap Iran dalam waktu dekat atau memilih jalur kesepakatan. Menurut laporan Al Jazeera dan Anadolu Agency, pernyataan itu disampaikan kepada wartawan pada Sabtu, 24 Oktober, waktu AS.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan, Trump menjawab, "Kami sedang mempertimbangkan untuk melakukannya, mungkin besok."

Trump juga menolak memberikan kepastian mengenai waktu tindakan militer. Ia menyatakan bahwa Iran masih memiliki peluang mencapai kesepakatan dengan Washington, tetapi mempertanyakan apakah Teheran akan mematuhinya.

Dalam menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan serangan, Trump mengatakan, "Apakah Anda benar-benar berpikir saya akan memberi tahu Anda jika saya akan melakukannya?"

Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip dalam pemberitaan, pesawat-pesawat dari gugus tempur kapal induk USS George Washington telah disiagakan. Sementara itu, Trump menyebut kesepakatan sebagai salah satu pilihan yang masih tersedia bagi Iran.

Di tengah perkembangan tersebut, militer Iran memperlihatkan fasilitas produksi bawah tanah untuk drone serang satu arah Arash. Pada 22 Oktober, militer merilis video yang menampilkan puluhan pesawat nirawak di dalam fasilitas itu saat dikunjungi Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami.

Menurut laporan Vietnam.vn pada 23 Oktober, rekaman tersebut digambarkan media Iran sebagai penayangan publik pertama yang memperlihatkan fasilitas produksi dan drone canggih buatan dalam negeri itu. Namun, militer Iran belum mengungkap lokasi fasilitas maupun kapasitas produksinya.

Hatami mengatakan bahwa program drone Iran telah berkembang dari kerja sama dengan Kementerian Pertahanan menjadi kegiatan industri yang melibatkan perguruan tinggi, peneliti, dan perusahaan berbasis teknologi. Pengembangan tersebut mencakup produksi, pemeliharaan, distribusi, serta pelatihan personel untuk mengoperasikan sistem nirawak.

Dalam kunjungan ke fasilitas produksi pada 23 Oktober, Hatami menilai kemampuan Iran dalam teknologi nirawak telah mencapai tahap kematangan yang baik.

"Kami dapat mengatakan bahwa kami telah mencapai tingkat kematangan yang baik dalam bidang drone dan sistem nirawak secara umum," ujar Hatami.

Ia mengakui bahwa sejumlah peralatan dan infrastruktur militer Iran mengalami kerusakan dalam konflik sebelumnya. Namun, menurut Hatami, Angkatan Darat Iran menyiapkan kemampuan untuk menghadapi perang asimetris, yang mengandalkan pendekatan dan peralatan berbeda dari peperangan konvensional.

Hatami juga menyatakan bahwa kesiapan pasukan dan peralatan Iran meningkat dari segi jumlah maupun kualitas. Ia menegaskan bahwa militernya terus mempersiapkan respons terhadap ancaman yang diperkirakan dapat muncul.

"Musuh tidak memahami bahasa selain bahasa paksaan dan kekuatan. Setiap bentuk kelonggaran dianggap sebagai kemunduran, lalu mereka melangkah maju satu langkah," ujar Hatami.

Selain pengembangan drone, Hatami menyoroti kehadiran Angkatan Laut Angkatan Darat Iran di kawasan pesisir dan perairan sebelah timur Selat Hormuz. Ia mengatakan pasukannya memantau aktivitas di Laut Oman dan menganggap blokade laut sebagai bagian dari peperangan.

Hatami memperingatkan bahwa kapal musuh yang memasuki kawasan yang diklaim berada dalam pengawasan Iran dapat menjadi sasaran. Ia juga menyebut penggunaan berbagai perangkat untuk mengatur lalu lintas maritim di Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Laut Oman, termasuk ranjau laut serta sistem kendali otomatis.

Secara terpisah, laporan Pars Today pada 24 Oktober menyebut Iran memperkenalkan versi terbaru drone serang Arash dengan hulu ledak yang diklaim meningkat dari 50 kilogram menjadi 100 kilogram. Pengembangan tersebut disebut sebagai perubahan besar dalam kemampuan serang keluarga drone itu.

Menurut Pars Today, peningkatan bobot hulu ledak memungkinkan drone dirancang untuk menyerang sasaran yang lebih besar, termasuk bangunan kokoh, tangki bahan bakar, hanggar pesawat, dan infrastruktur pangkalan. Klaim tersebut berasal dari media Iran dan belum disertai verifikasi independen dalam bahan laporan yang tersedia.

Versi Arash-2 sebelumnya dilaporkan menggunakan navigasi inersial, GPS, dan pencari radar pasif. Versi terbaru diklaim memanfaatkan kecerdasan buatan serta pencari sasaran termal dan optik untuk meningkatkan ketepatan serangan ketika sinyal satelit terganggu atau komunikasi terputus.

Pengembangan lainnya mencakup pilihan sistem penggerak. Varian bermesin piston MD-550 ditujukan untuk penerbangan jarak jauh, sedangkan varian bermesin mikrojet dikembangkan untuk mencapai kecepatan lebih tinggi. Model Arash-2 yang lebih lama dilaporkan memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer.

Pars Today juga menyebut drone Arash dapat diluncurkan menggunakan peluncur bergerak berbentuk kontainer. Media tersebut menilai kombinasi jangkauan, hulu ledak lebih berat, dan sistem pemandu baru dapat meningkatkan kemampuan serang Iran, meskipun kinerja operasional versi terbaru belum diverifikasi secara independen.

Pengungkapan fasilitas bawah tanah dan pengembangan Arash berlangsung ketika Iran berupaya mempertahankan produksi persenjataan dalam negeri di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Sementara itu, pernyataan Trump mengenai kemungkinan serangan baru belum menetapkan keputusan final mengenai waktu maupun bentuk tindakan Washington.

Sumber: Demokratis.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with