Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Arab Saudi

Iran Membantah Terlibat dalam Serangan Houthi ke Arab Saudi

Serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi semakin meningkat akhir-akhir ini. Arab Saudi menuding Iran berperan dalam serangan-serangan Houthi itu.

Sumber foto: Kompas.id

TEHERAN, SABTU — Iran membantah tuduhan Arab Saudi bahwa Teheran terlibat dalam serangkaian serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi. Iran menyatakan tuduhan itu tak berdasar. Iran justru menawarkan diri sebagai mediator antara Houthi-Arab Saudi.

Bantahan Iran itu disampaikan pada Jumat (16/10/2026). ”Republik Islam Iran menolak klaim apa pun bahwa Iran berperan dalam operasi Yaman (Houthi),” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP.

Tudingan Arab Saudi itu terkait makin agresif dan meningkatnya serangan Houthi ke Arab Saudi dan Yaman, akhir-akhir ini. Serangan Houthi antara lain menyasar Bandar Udara Internasional King Khalid Riyadh.

Serangan pada Kamis (8/10/2026) itu menewaskan seorang pilot dan dua warga negara Saudi lainnya serta melukai sejumlah orang. Serangan ke bandara yang sama pada Sabtu (10/10/2026) menewaskan 13 orang dan melukai 300 orang. Selain itu, Houthi juga menyerang sejumlah wilayah di Arab Saudi dan infrastruktur energi negeri itu.

Houthi juga menyerang sejumlah infrastruktur yang dikelola Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Pada Jumat (16/10/2026), koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan, dua rudal menghantam Bandara Internasional Aden di Yaman selatan.

Kementerian Informasi Yaman melalui pernyataan resmi mengatakan, penerbangan Yemenia Airways dari Aden ke Kairo mengalami kerusakan parah setelah terkena serangan.

”Pesawat itu sedang bersiap untuk lepas landas ketika Houthi menargetkan bandara dengan dua rudal yang mendarat sekitar 500 meter dari pesawat dan sekitar 100 meter dari tengah landasan pacu,” demikian bunyi pernyataan itu.

Kementerian Informasi Yaman juga menyatakan, ”Apa yang terjadi bukanlah sekadar serangan terhadap bandara sipil, tetapi ancaman langsung terhadap nyawa penumpang dan awak penerbangan, terhadap keselamatan penerbangan, dan pelanggaran serius terhadap hukum dan norma internasional.”

Koalisi militer juga mencegat rudal balistik yang menuju kota Yanbu di Laut Merah, pusat minyak utama Saudi. Infrastruktur energi itu merupakan pintu ekspor minyak mentah Arab Saudi.

Adapun dua rudal jelajah di atas Laut Merah, serta tiga drone di wilayah selatan dan Riyadh di Arab Saudi, berhasil dihancurkan oleh Koalisi Militer. Namun, koalisi tidak mengidentifikasi pihak yang berada di balik serangan tersebut.

Pada Kamis (15/10/2026), Houthi melancarkan serangan mematikan terhadap istana presiden di Aden, ibu kota sementara Yaman. Menteri Kesehatan Yaman menyatakan, serangan itu menewaskan lima orang dan melukai 16 orang.

Perdana Menteri Yaman Shaya al-Zindani menyatakan, tindakan itu ”pengecut”. Ia menyebutnya sebagai ”kelanjutan dari pola kriminal (Houthi)”.

Meningkatnya serangan-serangan Houthi mendorong Arab Saudi menyatakan bahwa Iran berada di balik sikap agresif Houthi. Pernyataan Arab Saudi inilah yang kemudian dibantah Teheran.

Menurut Baqaei, militer Houthi bertindak sesuai kepentingan dan penilaian mereka sendiri. ”Klaim (keterlibatan Iran) tidak kredibel bagi mereka yang memahami hubungan antara Iran dan sekutunya. Meski demikian, Iran tidak menganggap peningkatan ketegangan sebagai kepentingan pihak mana pun,” imbuh Baqaei dalam pernyataannya.

Dengan ketegangan Houthi-Arab Saudi, Baqaei kembali menawarkan kesediaan Iran menjadi penengah di antara kedua belah pihak. ”Teheran selalu siap menggunakan jasa baiknya untuk membantu mengakhiri permusuhan,” ujar Baqaei.

Tawaran sebagai mediator sebelumnya sudah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dilansir dari The Jerusalem Post, Araghchi menawarkan kesediaan untuk memfasilitasi pembicaraan antara Arab Saudi dan Houthi yang bersekutu dengan Iran di tengah permusuhan mereka.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah di media percakapan Telegran, Araghchi menyampaikan tawaran itu dalam percakapan teleponnya dengan Menteri Luar Negeri Saudi Faisal bin Farhan, Minggu (11/10/2026). Araghchi juga menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya ketegangan.

Ia memperingatkan bahwa aksi militer yang berkelanjutan sambil mengabaikan solusi diplomatik akan semakin memperumit situasi. Araghchi menekankan, krisis yang sedang berlangsung di kawasan itu tidak dapat diselesaikan secara militer. Ia lantas menawarkan bantuan Iran dalam memulai dialog antara Arab Saudi dan Yaman untuk membantu mencapai solusi politik.

Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi Rayed Krimly mengatakan, untuk dialog itu, Houthi menolak tawaran untuk bertemu di Oman setelah.

Meningkatnya pertempuran antara Houthi dan Pemerintah Yaman meningkatkan kekhawatiran tentang krisis kemanusian. Ketegangan diyakini membuat krisis kemanusiaan di negara itu memburuk. Lembaga-lembaga bantuan memperingatkan bahwa kondisi dapat memburuk dengan cepat.

Konflik Yaman antara Houthi dan Yaman merupakan konflik lama. Konflik keduanya sempat mereda melalui gencatan senjata. Namun, kemudian berkobar lagi pada bulan Juli, dampak dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada bulan Februari.

Houthi sudah berulang kali meluncurkan rudal dan drone ke Arab Saudi sejak konflik kembali berkobar. Houthi menargetkan bandara, fasilitas minyak, dan infrastruktur lainnya.

Dalam beberapa hari terakhir, kelompok tersebut juga menargetkan lokasi di wilayah Yaman yang dikuasai pemerintah, termasuk bandara Aden dan istana presiden di ibu kota sementara.

Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara mengecam serangan Houthi yang meningkat. Dalam pernyataan bersama pada hari Kamis, DK PBB mengecam meningkatnya serangan Houthi yang didukung Iran di Arab Saudi, termasuk "serangan sembrono" di bandara Riyadh.

Bandara internasional ibu kota Saudi telah menjadi sasaran serangan sebanyak 20 kali sejak awal bulan, dengan serangan akhir pekan lalu menewaskan 13 orang dan menjadikan total korban mendekati 300.

Presiden DK PBB Evangelos Sekeris dari Yunani menyatakan, “DK PBB mengecam dengan keras serangan Houthi yang terus berlanjut dan meningkat terhadap Kerajaan Arab Saudi, serta serangan dan ancaman Houthi yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial di Laut Merah dan Bab al-Mandab (Selat)."

Pernyataan tersebut juga "menegaskan hak inheren Kerajaan Arab Saudi untuk membela diri sesuai dengan hukum internasional. (AP/AFP/REUTERS)

Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with