Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Investasi Berpotensi Kabur dari Teluk, Indonesia Harus Tangkap Peluang

Ketegangan militer berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi mendorong perpindahan modal dari negara-negara Teluk ke kawasan lain yang dinilai lebih aman.

Ketegangan militer berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi mendorong perpindahan modal dari negara-negara Teluk ke kawasan lain yang dinilai lebih aman. Indonesia dinilai perlu menangkap peluang tersebut untuk menarik investasi asing dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengamat ekonomi syariah Universitas Paramadina sekaligus peneliti junior Center for Sharia Economic Development (CSED) Indef, Imas Damayanti, mengatakan konflik di Timur Tengah, khususnya wilayah Teluk (Gulf States), dapat berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Namun, di tengah risiko tersebut, terdapat peluang bagi Indonesia untuk menarik modal yang keluar dari kawasan itu.

"Terlepas dari dampak yang bertubi-tubi dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah, Indonesia harus menyambut peluang dari kondisi ini. Capital flight dari Gulf States yang selama ini dianggap sebagai safe heaven oleh para investor, harus berhasil kita relokasi masuk ke Indonesia," kata Imas di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Menurut Imas, ketegangan di Timur Tengah dan wilayah Teluk belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang konkret. Kondisi tersebut berisiko mengganggu keberlanjutan investasi dan aktivitas ekonomi negara-negara di kawasan itu.

Ketidakpastian keamanan juga dapat menghambat upaya negara-negara Teluk untuk mendiversifikasi perekonomian dan mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak dan gas (migas). Padahal, sejumlah negara di kawasan tersebut tengah mengembangkan sektor lain, termasuk pariwisata, properti, dan ekonomi digital.

Penutupan ruang udara dan laut di wilayah Teluk menjadi salah satu gambaran risiko yang dihadapi investor. Imas menyebut, penutupan ruang udara berpotensi menyebabkan hilangnya pendapatan dari belanja wisatawan internasional hingga US$ 58 miliar. Sementara itu, sejumlah proyek strategis di sektor properti dan digital, termasuk di Dubai dan Doha, terancam terhambat.

"Tidak ada upaya konkret dari pemimpin negara di wilayah Teluk untuk menyelesaikan konflik ini. Pastinya ini membuat investor tidak lagi percaya untuk berinvestasi di Teluk," tegasnya.

Imas juga menyoroti persoalan keamanan di Arab Saudi setelah serangan rudal ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangan tersebut menyebabkan ratusan jemaah umrah terluka dan belasan lainnya meninggal dunia.

Menurut Imas, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk menarik investasi asing di tengah tantangan ekonomi nasional. Masuknya modal dari luar negeri diharapkan dapat mendorong aktivitas usaha, memperluas pasar, serta mendukung pembangunan.

Ia mengatakan sejumlah perusahaan multinasional yang sebelumnya berencana mendirikan kantor pusat regional (regional headquarters) di Riyadh dan Dubai mulai mempertimbangkan lokasi alternatif yang dinilai lebih aman, termasuk di Asia Tenggara.

"Dalam hal ini, kita boleh percaya diri karena Indonesia pun termasuk negara di ASEAN yang relatif aman dan terhindar dari konflik maritim maupun udara," ujarnya.

Imas mendorong pemerintah bergerak cepat untuk memanfaatkan peluang relokasi investasi tersebut. Menurut dia, Indonesia perlu memastikan iklim investasi tetap menarik agar tidak kehilangan kesempatan memperoleh aliran modal asing (capital inflow).

Aliran modal asing tersebut diharapkan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat aktivitas pasar, dan menjadi stimulus bagi pembangunan nasional.

Sumber: BeritaSatu.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with