Indonesia Bisa Satu Kategori dengan Zimbabwe dan Palestina jika Usulan MSCI Berlaku – Detik 60
Pasar saham Indonesia berpotensi masuk kategori yang sama dengan Argentina, Nigeria, hingga Zimbabwe dalam klasifikasi MSCI

Pasar saham Indonesia berpotensi masuk kategori yang sama dengan Argentina, Nigeria, hingga Zimbabwe dalam klasifikasi MSCI apabila usulan perubahan status dari emerging market menjadi standalone market diterapkan.
Usulan tersebut tercantum dalam rilis MSCI bertanggal Kamis, 15 Oktober 2026. Penyedia indeks dan analisis investasi global itu membuka konsultasi sebelum mengumumkan keputusan paling lambat 30 Juni 2027. Artinya, Indonesia belum resmi berpindah kategori.
Berdasarkan dokumen MSCI Global Investable Market Indexes Methodology edisi Mei 2026, terdapat 13 negara atau pasar dalam tabel Eligible Markets (Standalone Markets).
Daftar tersebut mencakup Argentina, Bosnia dan Herzegovina, Botswana, Bulgaria, Jamaika, Lebanon, Malta, Nigeria, Palestina, Panama, Trinidad dan Tobago, Ukraina, serta Zimbabwe. Daftar ini merujuk pada edisi Mei 2026, sehingga tidak otomatis mencerminkan perubahan setelah penerbitannya.
Argentina Pernah Berstatus Emerging Market
Dokumen tersebut mencatat Argentina direklasifikasi dari emerging market menjadi standalone market pada November 2021. Sementara itu, Nigeria berpindah dari frontier market ke standalone market pada Februari 2024.
MSCI menjelaskan kategori standalone dapat mencakup pasar yang baru memenuhi kelayakan untuk dicakup indeks maupun pasar yang sebelumnya berada dalam kategori lain. Karena itu, berada dalam kelompok yang sama tidak berarti seluruh negara tersebut memiliki kondisi ekonomi atau persoalan yang identik.
Konsekuensi pentingnya terletak pada cakupan indeks. MSCI menyatakan indeks pasar standalone tidak termasuk dalam MSCI Emerging Markets Index maupun MSCI Frontier Markets Index, yang menjadi acuan investasi sejumlah pengelola dana.
Dalam rilisnya, MSCI menyoroti ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum terlihatnya bukti penegakan aturan yang bermakna.
MSCI mengakui reformasi yang diumumkan otoritas Indonesia, termasuk keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen dan peta jalan minimum free float 15 persen. Namun, investor institusional masih membutuhkan pelaksanaan konsisten dan bukti dampak perbaikan berkelanjutan.
Menurut MSCI, masukan pelaku pasar menunjukkan bahwa pemindahan ke frontier market pun belum cukup mencerminkan kedalaman persoalan pasar Indonesia. Karena itu, konsultasi diarahkan pada kategori standalone.
Sumber: Detik 60. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...