Hubungan AS-Israel: Siapa yang Menanggung Biaya Perang?
Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan 11 miliar dolar AS dari uang pajak warga negaranya selama tiga ta...

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan 11 miliar dolar AS dari uang pajak warga negaranya selama tiga tahun terakhir untuk pertahanan rudal Israel.
Menurut laporan Pars Today, Menteri Luar Negeri Iran, Sayid Abbas Araghchi, mengatakan, “Amerika Serikat telah meluncurkan lebih banyak rudal pencegat untuk membela Israel daripada yang diluncurkan Israel sendiri.” Ia menyebut hubungan tersebut bukanlah hubungan yang didasarkan pada kepentingan bersama, melainkan hubungan yang bersifat parasitis dan berjalan satu arah.
Berdasarkan perkiraan Steven Semler, analis kebijakan luar negeri AS, militer Amerika Serikat telah meluncurkan sekitar 609 rudal pencegat untuk melindungi Israel antara Oktober 2023 dan September 2026, dengan nilai sekitar 11 miliar dolar AS. Perhitungan ini tidak mencakup rudal yang digunakan untuk melindungi pasukan Amerika di kawasan tersebut. Dengan demikian, angka yang disebutkan hanya menggambarkan sebagian dari biaya militer langsung yang dikeluarkan Washington untuk mendukung Tel Aviv.
Besarnya pengeluaran ini semakin terlihat jika ditempatkan dalam konteks bantuan militer Amerika Serikat kepada rezim Israel. Berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 2016, Washington berkomitmen memberikan bantuan militer sebesar 3,3 miliar dolar AS setiap tahun, ditambah alokasi 500 juta dolar AS untuk program pertahanan rudal. Komitmen tersebut belum mencakup biaya operasi militer langsung maupun pengadaan kembali amunisi yang telah digunakan.
Artinya, dukungan AS terhadap rezim Israel tidak terbatas pada bantuan tahunan. Dalam situasi krisis, Washington juga mengerahkan kekuatan militernya dan menggunakan persediaan persenjataan sendiri untuk melindungi rezim tersebut.
Namun, persoalan utamanya bukan hanya uang dan rudal, melainkan hubungan antara biaya yang ditanggung Amerika Serikat dan tujuan yang ingin dicapai rezim Israel. Kontradiksi ini terlihat dalam dua perang terhadap Iran.
Pada Juni 2025, rezim Israel melancarkan serangan militer ketika perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung. Washington kemudian terlibat langsung dalam perang dengan menyerang fasilitas nuklir Iran.
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan rezim Israel kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran. Dampak perang ini tidak terbatas pada medan pertempuran, tetapi juga menimbulkan beban besar bagi persediaan persenjataan dan posisi regional Washington, serta pasar energi di Amerika Serikat dan dunia.
Dalam kedua peristiwa tersebut, peran Benjamin Netanyahu dalam mendorong Donald Trump memilih opsi militer menjadi pokok pembahasan dalam berbagai laporan dan analisis media. Netanyahu menggambarkan serangan terhadap Iran sebagai jalan untuk mencapai tujuan strategis Israel dan berupaya memperoleh dukungan langsung Amerika Serikat guna mewujudkan tujuan tersebut.
Kini, upaya untuk kembali memilih opsi militer meningkatkan risiko terulangnya kesalahan perhitungan yang sama. Anggapan bahwa kekuatan tembak Amerika Serikat dapat digunakan untuk memaksa Iran mundur sekaligus mengendalikan dampak lanjutan ternyata tidak sejalan dengan pengalaman dua perang tersebut. Pengalaman itu menunjukkan bahwa keterlibatan dalam konfrontasi semacam ini dapat menimbulkan konsekuensi yang jauh melampaui perkiraan awal para perancangnya.
Situasi ini menciptakan kontradiksi strategis bagi Washington. Di satu sisi, pemerintah AS mengusung slogan America First atau “Amerika yang Utama”, dengan janji mengutamakan penggunaan sumber daya negara demi kepentingan langsung rakyat Amerika. Di sisi lain, Washington menghabiskan miliaran dolar untuk mempertahankan Israel dan menekan persediaan rudalnya sendiri dengan terlibat dalam perang.
Laporan Congressional Research Service atau Layanan Riset Kongres AS pada Oktober 2026 juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan amunisi serta lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengganti sejumlah jenis rudal pencegat. Menurut analisis berbagai lembaga pemikir dan media Amerika, pengeluaran ini bukan sekadar persoalan anggaran. Dampaknya juga dapat dirasakan pada kesiapan militer AS di kawasan lain, termasuk Indo-Pasifik.
Di dalam negeri Amerika Serikat, dukungan tanpa syarat terhadap Israel juga semakin menjadi bahan perdebatan. Meningkatnya kritik terhadap kebijakan Tel Aviv telah memperbesar biaya politik yang harus ditanggung pemerintah AS akibat hubungan tersebut.
Dalam situasi seperti ini, pertanyaan mengenai manfaat nyata aliansi Washington dengan Israel bukan lagi sekadar tuntutan para pengkritik dari luar negeri. Persoalan itu kini berkaitan langsung dengan pengeluaran pertahanan, prioritas militer, dan perpecahan politik di masyarakat Amerika. Karena itu, kebutuhan untuk meninjau kembali batasan dan konsekuensi aliansi tersebut semakin mengemuka.
Dari sudut pandang ini, pernyataan Araghchi memberikan gambaran yang jelas mengenai sebagian biaya militer dari hubungan Amerika Serikat dan Israel. Dalam hubungan tersebut, keputusan yang diambil Tel Aviv dapat membebankan biaya langsung maupun tidak langsung kepada Washington.
Pertanyaan akhirnya adalah: apakah melanjutkan kebijakan ini sejalan dengan klaim Amerika Serikat yang mengutamakan kepentingan nasionalnya sendiri? Ataukah Washington sekali lagi harus menanggung biaya dari kegagalan strategi yang ditempuh Netanyahu demi mencapai tujuan rezim Zionis Israel?(Sail)
Sumber: Pars Today. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.