Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Arab Saudi

Houthi dan Arab Saudi Memanas, Harga Minyak Dunia Ditutup Bervariasi

Kelompok Houthi Yaman mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah melakukan serangan terhadap target energi, bandara, dan militer Arab Saudi.

Sumber foto: KabarBursa.com

Harga minyak mentah dunia ditutup bervariasi pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026 di tengah serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi, bandara, dan militer di Arab Saudi.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup turun tipis 0,3 persen menjadi USD109,55 per barel, setelah sebelumnya jatuh lebih dari USD3 di awal sesi perdagangan.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 2,2 persen ke level USD103,66 per barel, penutupan tertinggi sejak 15 September 2025.

Masih merujuk Reuters, kelompok Houthi Yaman mengatakan pada hari Senin bahwa mereka telah melakukan serangan terhadap target energi, bandara, dan militer Arab Saudi, termasuk fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, dan bandara Abha. Namun, Otoritas Saudi tidak mengkonfirmasi klaim tersebut.

Secara terpisah, Garda Revolusi Iran menyampaikan sebuah kapal tanker minyak terbakar dan meledak setelah menabrak ranjau laut di Selat Hormuz selatan pada hari Minggu lalu.

Akibatnya, aliran minyak mentah melalui wilayah tersebut turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari pekan lalu, menyusut lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Menurut perusahaan analisis Kpler, hal ini terjadi karena meningkatnya ancaman terhadap pelayaran komersial.

Kpler melaporkan setidaknya ada 10 insiden yang dikonfirmasi melibatkan kapal komersial selama pekan tersebut.

Analis SEB, Bjarne Schieldrop, memperkirakan peningkatan volume ekspor melalui Hormuz mungkin hanya bersifat sementara karena Iran dapat meningkatkan serangan menjelang pemilihan umum Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2026.

Presiden AS Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mencabut beberapa sanksi dan tarif terkait ekspor energi Rusia. Hal ini pun menuai kritik dari lawan politik maupun sekutu, karena ia berupaya menurunkan harga energi menjelang pemilihan November.

"Pengecualian tersebut meningkatkan prospek ekspor bahan bakar Rusia tambahan, tetapi ketidakpastian mengenai implementasi dan durasinya membatasi keyakinan akan peningkatan pasokan yang berkelanjutan," tulis Gelber and Associates dalam sebuah catatan.

Priyanka Sachdeva, kepala analisis pasar di Phillip Nova, mengatakan bahwa dispensasi tersebut tidak banyak membantu mengatasi gangguan pasokan fisik di Selat Hormuz di tengah serangan terhadap kapal tanker minyak terus berlanjut.

Terlepas dari upaya internasional untuk mengekang aliran energi dari Iran dan Rusia, kedua negara tersebut terus mengekspor bahan bakar, yang membatasi dampak gangguan pasokan pada pasar global.

Di sisi lain survei Reuters menyebut, produksi minyak dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkat pada bulan September 2026, dipimpin oleh peningkatan di Arab Saudi dan Irak.

Sebelumnya diberitakan, kebijakan Washington menjadi perhatian pasar minyak karena berpotensi memengaruhi ketersediaan pasokan dari Rusia.

Penangguhan sanksi dan pembatalan rencana tarif terhadap negara pengimpor minyak Rusia membuka kemungkinan perubahan arus perdagangan minyak, meskipun sumber yang tersedia belum merinci volume pasokan yang dapat kembali mengalir ke pasar.

Trump menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil demi kepentingan nasional Amerika Serikat. Langkah itu diambil ketika pemerintahannya menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan bakar yang berlangsung selama beberapa bulan.

Sekitar sepekan sebelum menerbitkan kebijakan terbaru tersebut, Trump menandatangani kesepakatan impor diesel dengan Rusia. Ia juga menyalahkan Ukraina karena mendorong kenaikan harga bahan bakar global melalui serangan terhadap fasilitas energi Rusia.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan energi Washington menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar ketika menilai prospek pasokan.

Namun, dampak pelonggaran sanksi terhadap volume minyak yang benar-benar masuk ke pasar belum dapat dipastikan hanya berdasarkan pengumuman kebijakan tersebut.

Ukraina sendiri mengisyaratkan pada akhir pekan sebelumnya bahwa serangan terhadap infrastruktur Rusia akan berlanjut. Kyiv juga menyampaikan keberatan terhadap semakin banyaknya kesepakatan antara Washington dan Moskow.

Keputusan Trump turut menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat, baik dari Partai Republik maupun Partai Demokrat. Di sisi lain, kenaikan biaya bahan bakar selama beberapa bulan terakhir menjadi persoalan bagi pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections.

Kebijakan tersebut juga menempatkan pasokan minyak Rusia sebagai salah satu variabel yang perlu dicermati pelaku pasar. Jika pelonggaran sanksi memungkinkan perdagangan minyak Rusia berlangsung lebih leluasa, perubahan arus pasokan dapat memengaruhi keseimbangan pasar global. Namun, laporan yang tersedia belum menyebutkan volume ekspor tambahan yang berpotensi kembali mengalir maupun negara tujuan yang akan menerima pasokan tersebut.

Selain itu, penangguhan sanksi tidak serta-merta menghilangkan risiko pasokan dari kawasan lain. Pasar masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan gangguan terhadap infrastruktur energi. Karena itu, penurunan harga pada awal perdagangan Senin perlu dibaca dalam konteks perubahan ekspektasi pasokan, bukan sebagai bukti bahwa tekanan terhadap pasar minyak global telah berakhir. (*)

Sumber: KabarBursa.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with