Harga Minyak WTI Menguat 2,6 Persen di Tengah Risiko Pasokan
Harga minyak WTI naik 2,6 persen ke US$ 99,7 per barel, didukung risiko gangguan pasokan Timur Tengah dan penurunan stok minyak AS.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpeluang melanjutkan kenaikan setelah menyentuh US$ 99,7 per barel pada Kamis (22/10) pukul 16.45 WIB. Dilansir dari Investasi, penguatan ini didukung kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah serta penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Trading Economics yang dikutip dalam laporan tersebut, harga WTI naik 2,6% secara harian dan menguat 1,63% selama sepekan terakhir. Pergerakan harga selanjutnya dipengaruhi oleh kondisi teknikal, perkembangan geopolitik, dan keseimbangan pasokan serta permintaan global.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai tren kenaikan WTI masih berpotensi berlanjut selama harga bertahan di atas zona support US$ 95,22 hingga US$ 96,78 per barel. Apabila momentum penguatan terjaga, minyak berpeluang menguji resistance US$ 101,28 hingga US$ 103,35 per barel dalam jangka pendek.
Geraldo menjelaskan bahwa harga telah menembus area resistance sebelumnya, yang kini berpotensi menjadi penopang pergerakan berikutnya.
"Perubahan fungsi resistance menjadi support memberikan sinyal penting bagi prospek pergerakan minyak mentah. Setelah berhasil melewati area resistance sebelumnya, harga kini berpeluang menguji kembali zona tersebut sebelum melanjutkan tren kenaikan," ujar Geraldo Kofit dalam risetnya, Kamis (22/10/2026).
Dari sisi fundamental, risiko gangguan pasokan di Timur Tengah turut menopang harga minyak. Eskalasi konflik dan serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah target di Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak, meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur energi serta kelancaran distribusi minyak di kawasan Teluk.
Gangguan terhadap fasilitas produksi dan jalur distribusi berpotensi mengurangi pasokan yang tersedia di pasar global. Situasi tersebut juga dapat meningkatkan premi risiko geopolitik yang tercermin dalam harga minyak mentah.
Faktor lain yang mendukung harga adalah penurunan persediaan minyak mentah AS. Berkurangnya stok dapat mengindikasikan pengetatan pasokan dalam jangka pendek, meskipun pengaruhnya terhadap harga tetap bergantung pada keseimbangan permintaan dan penawaran secara keseluruhan.
Perkembangan konflik di Timur Tengah dan upaya diplomasi tetap menjadi faktor yang memengaruhi prospek WTI. Meredanya ketegangan berpotensi mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini mendukung harga minyak.
Sumber: SuaraGarut.ID. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.