Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Harga Minyak Turun saat Pasokan Timur Tengah Terancam

Harga minyak Brent dan WTI melemah pada Jumat, tetapi tetap menguat mingguan akibat gangguan pasokan Timur Tengah dan penurunan stok AS.

Sumber foto: Cirebon Times

Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat (16/10/2026), meskipun masih mencatatkan kenaikan mingguan. Ketidakpastian pasokan akibat meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz dan penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar, dilansir dari Internasional.

Harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun 71 sen atau 0,67% menjadi US$ 105,21 per barel pada pukul 03.52 GMT. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 77 sen atau 0,79% menjadi US$ 97,20 per barel, berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (16/10/2026).

Meski terkoreksi, Brent masih menguat 0,44% sepanjang pekan, sedangkan WTI mencatatkan kenaikan 5,81%. Pada Kamis (15/10/2026), harga WTI ditutup melonjak lebih dari 3% setelah persediaan minyak mentah AS turun signifikan di tengah penghentian sementara produksi akibat dampak badai.

Analis ING menilai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan risiko terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.

"Ketidakpastian di Timur Tengah dan kekhawatiran mengenai keberlanjutan aliran minyak melalui Selat Hormuz membuat pasar memperhitungkan premi risiko yang signifikan," tulis analis ING dalam catatan pada Jumat.

Analis tersebut menambahkan bahwa kesepakatan antara AS dan Iran diperlukan untuk meningkatkan keyakinan pasar terhadap keberlanjutan arus pengiriman minyak dari kawasan tersebut.

Tekanan pasokan meningkat setelah serangan di sekitar Selat Hormuz melonjak selama 10 hari terakhir. Iran menyatakan meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS terhadap pelabuhannya serta pengetatan sanksi pada bulan sebelumnya.

Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan rata-rata volume minyak yang melintasi Selat Hormuz selama tujuh hari hingga 13 Oktober mencapai 11,62 juta barel per hari. Angka tersebut setara dengan sekitar 68% dari volume dasar sebesar 17,15 juta barel per hari.

Analis Kpler mengaitkan penurunan arus pengiriman minyak dari kawasan Teluk dengan meningkatnya serangan Iran.

"Peningkatan serangan Iran mendorong penurunan tajam aliran minyak mentah dari kawasan Teluk," kata analis Kpler dalam laporan pada Kamis (15/10/2026).

Kpler memperkirakan pemulihan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz akan berjalan lebih lambat dan tidak merata jika tidak ada kesepakatan politik yang menyeluruh.

Konflik regional juga meluas ke Yaman dan Arab Saudi. Kelompok Houthi meluncurkan rudal ke kompleks istana kepresidenan di Aden, Yaman selatan, pada Kamis dan menewaskan dua penjaga. Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman juga melaporkan puluhan serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi di tengah eskalasi konflik.

Untuk mengatasi tekanan pasokan, Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) menyepakati pelepasan lebih dari 20 juta barel solar ke pasar pada Kamis. Lembaga tersebut juga akan menyalurkan sisa minyak dari pelepasan cadangan darurat dalam jumlah rekor yang dijanjikan pada Maret.

Namun, langkah penambahan pasokan itu belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Haitong Futures menilai kenaikan harga minyak pada sesi sebelumnya menunjukkan bahwa upaya penanganan gangguan pasokan belum memberikan kepastian yang cukup bagi investor.

"Yang benar-benar dapat meredakan pasar minyak adalah meredanya ketegangan di Timur Tengah," tulis Haitong Futures dalam catatan pada Jumat.

Di sisi lain, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap sejumlah kapal yang dikenal sebagai armada bayangan. Kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut minyak dan produk minyak bumi dari sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela.

Seorang pejabat AS pada Rabu (14/10/2026) menyatakan opsi tersebut sedang dipertimbangkan untuk menekan tarif angkutan laut global yang telah mencapai rekor tertinggi. Pembahasan berlangsung beberapa hari setelah Trump mencabut sementara sanksi terhadap bahan bakar diesel Rusia.

Kebijakan tersebut menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, sejumlah negara Eropa, serta beberapa anggota Partai Republik yang merupakan rekan politik Trump.

Sumber: Cirebon Times. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with