Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Harga Minyak Menguat di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Harga Brent naik ke US$ 110,10 per barel dan WTI mencapai US$ 103,91 seiring meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran pasokan global.

Sumber foto: Cirebon Times

Harga minyak mentah dunia menguat pada Selasa (20/10/2026) di tengah meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi dan laporan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk mendorong investor memperhitungkan risiko gangguan pasokan energi global, dilansir dari Investasi.

Pada pukul 11.00 WIB, minyak Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 naik 55 sen atau 0,50% menjadi US$ 110,10 per barel. Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh US$ 110,70 per barel, level tertinggi sejak 20 Mei.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November 2026 naik 0,24% menjadi US$ 103,91 per barel. Sementara itu, kontrak Desember 2026 yang lebih aktif diperdagangkan meningkat 39 sen atau 0,40% menjadi US$ 98,93 per barel.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai WTI masih memiliki peluang melanjutkan penguatan setelah berhasil menembus level resistensi minor pada grafik mingguan. Namun, pergerakan harga menunjukkan koreksi setelah pembukaan yang lebih rendah usai minyak tersebut menyentuh US$ 104 per barel.

Koreksi itu membawa harga kembali menguji area US$ 96,54, yang sebelumnya menjadi resistensi dan kini berpotensi berfungsi sebagai level dukungan. Geraldo menjelaskan bahwa keberlanjutan tren naik bergantung pada kemampuan harga mempertahankan posisi di atas level tersebut.

"Jika harga mampu bertahan di sekitar level US$ 96,54 dan kembali memperoleh dorongan beli dari pelaku pasar, WTI berpeluang melanjutkan kenaikan menuju resistensi berikutnya di US$ 106,61," ujar Geraldo dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

Selain faktor teknikal, prospek harga minyak turut dipengaruhi perkembangan kebijakan energi internasional. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah wacana pelonggaran sanksi Amerika Serikat terhadap ekspor energi Rusia, yang berpotensi menambah pasokan minyak di pasar global.

Tambahan pasokan dari Rusia dapat mengubah keseimbangan permintaan dan penawaran serta meningkatkan tekanan jual. Geraldo memperingatkan bahwa penembusan level dukungan US$ 96,54 dapat melemahkan prospek kenaikan WTI yang terbentuk setelah penembusan resistensi sebelumnya.

"Apabila tekanan jual meningkat dan harga menembus ke bawah level US$ 96,54, prospek bullish perlu dievaluasi kembali karena penembusan resistensi yang terjadi sebelumnya berisiko kehilangan kekuatannya," terang Geraldo.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang berpotensi menahan penurunan harga minyak lebih dalam. Kekhawatiran terhadap gangguan jalur distribusi energi akibat konflik dapat kembali menopang harga WTI di tengah ketidakpastian pasokan global.

Sumber: Cirebon Times. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with