Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Houthi

Harga Minyak Brent Tembus 116,72 Dolar AS Akibat Konflik

Harga minyak Brent naik 6 persen sepekan ke 116,72 dolar AS per barel akibat serangan Houthi di Arab Saudi dan kekhawatiran gangguan pasokan.

Sumber foto: Lensa Hukum

Ketegangan keamanan di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia menguat sepanjang pekan yang berakhir Jumat, 23 Oktober 2026. Menurut laporan Reuters yang dilansir dari Money, serangan kelompok Houthi di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mengangkat harga minyak mentah Brent serta West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat, harga Brent naik 3,55 dolar AS atau 3,14 persen menjadi 116,72 dolar AS per barel. Menurut data perdagangan yang dikutip Reuters, harga tersebut merupakan level tertinggi sejak 29 April 2026.

Dalam perhitungan mingguan, Brent menguat 6 persen, sedangkan WTI naik 2,3 persen. Pada penutupan Jumat, harga WTI bertambah 3,80 dolar AS atau 3,8 persen menjadi 103,27 dolar AS per barel.

Kepala Strategi Lintas Aset LPL Financial, Adam Turnquist, mengaitkan penguatan harga dengan risiko gangguan pasokan setelah serangkaian serangan terhadap wilayah Arab Saudi, termasuk fasilitas energi.

"Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mendorong kenaikan harga setelah kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran melancarkan serangkaian serangan di berbagai wilayah Arab Saudi, termasuk terhadap infrastruktur energi," ujar Adam Turnquist, Kepala Strategi Lintas Aset LPL Financial.

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, kawasan Teluk yang terletak dekat Bahrain. Bentrokan antara Arab Saudi, eksportir minyak mentah terbesar dunia, dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman juga semakin intensif.

Ancaman terhadap jalur pelayaran turut membebani pasar. Pada 9 Oktober 2026, sumber pelayaran melaporkan kapal tanker superbesar Gem No. 2 terkena proyektil yang belum teridentifikasi sekitar 13 mil laut atau 24 kilometer di sebelah barat Al Jazeera, Uni Emirat Arab (UEA).

Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menyoroti risiko serangan terhadap kapal tanker dan ketidakpastian pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

"Pasar mengkhawatirkan serangan Iran yang berkelanjutan terhadap kapal-kapal tanker, yang meningkat selama sepekan terakhir. Meskipun volume minyak yang melewati Selat Hormuz meningkat, situasi itu dapat berubah kapan saja," ujar Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Otoritas UEA juga melaporkan tumpahan minyak dari sebuah kapal tanker di lepas pantai Umm Al Quwain. Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan UEA belum menjelaskan penyebab kejadian tersebut, sementara identitas kapal yang terlibat belum diketahui.

Konflik antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman terus berlangsung. Ketegangan meningkat sejak kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran bergerak menuju Selat Bab el-Mandeb pada bulan sebelumnya. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran strategis di pintu masuk Laut Merah, sedangkan Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak dunia.

Di tengah ketegangan itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat menyatakan perang dengan Iran dapat diakhiri dengan cepat. Namun, ia juga menyebut Washington mungkin perlu membiarkan konflik mereda secara bertahap.

Dari sisi pasokan, Departemen Energi AS mengizinkan pertukaran darurat hingga 400.000 barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis atau Strategic Petroleum Reserve. Menurut departemen tersebut, langkah ini ditujukan untuk mengatasi gangguan pasokan yang memengaruhi kilang minyak Lake Charles milik Phillips 66 di Louisiana.

Data pelacakan kapal juga menunjukkan pengiriman solar Rusia pertama ke AS sejak Moskwa dan Washington mencapai kesepakatan ekspor sedang berlangsung menggunakan kapal tanker menuju New York. Trump mengumumkan kesepakatan tersebut pada Oktober sebagai bagian dari upaya menurunkan harga solar menjelang pemilihan paruh waktu AS pada 3 November 2026.

Sementara itu, Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak dan gas di AS bertahan di angka 603 pada pekan yang berakhir 23 Oktober 2026. Jumlah rig pengeboran menjadi salah satu indikator awal untuk memperkirakan tingkat produksi energi pada periode mendatang.

Sumber: Lensa Hukum. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with