Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Timur Tengah

Harga Emas Dunia Berpotensi Anjlok di Bawah USD 4.000 per Ons

Gejolak geopolitik berdampak pada harga emas dunia, yang diperkirakan akan terus terkoreksi hingga di bawah USD 4.000 per troy ons.

Sumber foto: Batam Pos

batampos – Panasnya gejolak geopolitik global di Eropa Timur dan Timur Tengah berdampak pada harga emas dunia, yang diperkirakan akan terus terkoreksi hingga di bawah USD 4.000 per troy ons.

Kondisi ini bisa berdampak pada harga emas di Indonesia, yang berpotensi ikut turun seiring anjloknya harga emas global.

Pengamat Ekonomi dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan konflik yang terjadi di Eropa Timur dan Timur Tengah membuat harga minyak dunia menguat cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini membuat harga emas global terus tertekan, dan investor bisa beralih instrumen investasi.

“Dalam hitungan minggu ini sampai Sabtu, ada kemungkinan besar harga emas dunia masih akan terus terkoreksi. Ada kemungkinan besar di bawah USD 4.000, di USD 3.976,” ujar Ibrahim kepada JawaPos.com, Jumat (23/10).

Ibrahim mengatakan, jika harga emas dunia turun ke level tersebut, harga logam mulia di dalam negeri juga berpotensi ikut melemah.

“Kalau harga emas dunia di 3.976 berarti logam mulia itu juga kemungkinan besar turun. Dalam perdagangan besok dari Sabtu pagi bisa saja logam mulia itu akan turun Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per gramnya,” ujarnya.

Melonjaknya harga minyak dunia dan tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor yang menekan harga emas.

Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari gangguan produksi di Libya hingga meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman.

“Ini banyak sekali permasalahan, terutama adanya sabotase di Libya. Sehingga produksi minyak di sana terganggu. Libya merupakan salah satu penghasil minyak Brent terbaik,” ucapnya.

Selain itu, ketegangan di Timur Tengah yang semakin meningkat turut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah kembali menguat.

Kenaikan harga minyak berpotensi memicu tekanan inflasi di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Meski The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, Ibrahim melihat adanya potensi kenaikan suku bunga pada November atau Desember mendatang.

Ekspektasi tersebut turut diperkuat oleh data inflasi konsumen dan produsen AS yang menunjukkan tekanan harga lebih tinggi.

“Sehingga ada harapan bahwa pada November atau Desember, The Fed akan menaikkan suku bunga lagi,” jelasnya.

Di sisi lain, tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor yang menekan harga emas.

Investor berpotensi mengalihkan investasinya dari emas ke instrumen obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

“Yield obligasi di AS tinggi. Sehingga orang beralih dari emas ke yield obligasi. Obligasi AS lebih menarik,” imbuhnya.

Ibrahim menambahkan, penguatan indeks dolar AS turut memberikan tekanan terhadap harga emas dunia.

Indeks dolar AS disebut kembali menguat ke level 101,80 dan berpotensi bergerak menuju level 102.

Kombinasi kenaikan harga minyak, ekspektasi suku bunga tinggi, imbal hasil obligasi yang meningkat, serta penguatan dolar AS tersebut membuat prospek harga emas masih rentan mengalami koreksi. (*)

Sumber: Batam Pos. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with