Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Arab Saudi

Hakim AS Tolak Jaminan Konsulat Saudi untuk Engineer OpenAI

Hakim federal AS menolak tawaran jaminan Konsulat Arab Saudi untuk Abdulrahman Alfozan, yang diduga memasang alat penyadap di kantor OpenAI.

Sumber foto: Demokratis.co.id

Risiko tersangka melarikan diri ke luar negeri menjadi pertimbangan utama Pengadilan Federal San Francisco, Amerika Serikat, dalam menolak tawaran jaminan bagi Abdulrahman Alfozan (35), engineer OpenAI asal Arab Saudi yang diduga terlibat dalam kasus mata-mata industri. Dilansir dari Detik iNET, Hakim Federal Alex Tse memutuskan Alfozan tetap ditahan tanpa jaminan meskipun Konsulat Arab Saudi di Los Angeles bersedia membayar berapa pun jumlah yang ditetapkan. Alfozan menghadapi dugaan pemasangan perangkat penyadap suara tersembunyi di ruang rapat eksekutif kantor pusat OpenAI.

Kasus tersebut menjadi perhatian karena ruangan itu digunakan untuk membahas informasi teknis, penelitian berhak cipta, strategi perusahaan, hingga pertemuan rahasia dengan pejabat tinggi pemerintah AS. Berdasarkan dokumen dakwaan jaksa penuntut umum AS, perangkat penyadap diduga dipasang pada 28 September 2026. Alat tersebut ditempatkan pada port USB di bagian belakang televisi yang berada di ruang rapat eksekutif OpenAI di San Francisco.

Keberadaan perangkat asing itu diketahui oleh tim internal OpenAI pada 30 September 2026. Penemuan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam penyelidikan terhadap dugaan aktivitas penyadapan di lingkungan perusahaan teknologi tersebut.

Penyidik menangkap Alfozan pada 9 Oktober. Dalam proses penangkapan dan penggeledahan, mereka menemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas tersebut, termasuk foto panel elektronik dari ruangan lain yang tersimpan di ponsel tersangka. Selain foto, penyidik menemukan perangkat penyadap tambahan yang tertinggal di ruang pencetak atau printer room. Komponen elektronik serupa juga ditemukan di kediaman Alfozan, sementara ponselnya memuat catatan tautan pembelian sejumlah perangkat perekam tersembunyi dari pabrikan Seeed Studio.

Penyelidikan juga menyoroti komunikasi Alfozan dengan seorang anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi. Menurut bukti yang dipaparkan jaksa, keduanya berkomunikasi secara intensif melalui WhatsApp sepanjang 2025 hingga 2026. Dalam percakapan tersebut, anggota keluarga kerajaan itu berulang kali berupaya merekrut Alfozan untuk memimpin inisiatif kecerdasan buatan nasional di Arab Saudi. Salah satu pesan yang disebut dalam persidangan dikirim pada Mei 2026.

Dalam pesan tersebut, sang pangeran menulis, "Saudi membutuhkanmu lebih dari AS!" Alfozan kemudian menjawab, "100%." Perhatian penyidik juga tertuju pada keberangkatan keluarga Alfozan dari Amerika Serikat. Sehari setelah penangkapannya, istri dan bayi Alfozan yang berusia 3 bulan diterbangkan ke Qatar menggunakan penerbangan kelas bisnis yang didanai oleh anggota militer Arab Saudi.

Dalam persidangan, Konsulat Arab Saudi menyatakan kesediaannya menjamin Alfozan dan menanggung seluruh biaya jaminan yang ditetapkan pengadilan. Namun, Hakim Alex Tse menilai tawaran tersebut belum cukup untuk memastikan tersangka tetap berada dalam jangkauan hukum Amerika Serikat.

Tse menggambarkan tawaran itu sebagai "cek kosong" karena, menurut pertimbangannya, kesanggupan membayar tidak otomatis menjamin tersangka tidak melarikan diri. Ketiadaan perjanjian ekstradisi antara Amerika Serikat dan Arab Saudi turut menjadi perhatian dalam keputusan tersebut. Hakim Tse mempertanyakan kepastian pengawasan yang dijanjikan pihak Saudi dalam persidangan.

"Pemerintah Arab Saudi menyatakan akan mengawasi dan membayar jaminan… Namun kepercayaan apa yang saya miliki bahwa mereka akan melindungi kepentingan pemerintah AS agar dia tidak melarikan diri?" tegas Hakim Tse.

Kasus ini juga berdampak langsung terhadap karier Alfozan di OpenAI. Sebelum diberhentikan, ia dilaporkan menerima gaji USD 385.000 (sekitar Rp 6 miliar) per tahun serta dana hibah saham senilai USD 2,2 juta. OpenAI telah resmi memecatnya setelah kasus tersebut mencuat.

Jika terbukti bersalah atas dugaan intersepsi komunikasi secara ilegal, Alfozan menghadapi ancaman hukuman maksimum 5 tahun penjara. Kemungkinan munculnya dakwaan yang lebih berat masih terbuka seiring berlanjutnya penyelidikan terkait ancaman terhadap keamanan nasional.

Penahanan tanpa jaminan menunjukkan bahwa pengadilan belum menganggap tawaran pembayaran dari Konsulat Arab Saudi cukup untuk mengatasi risiko pelarian yang dinilai tinggi. Perkara ini masih berkaitan dengan dugaan penyadapan, bukti elektronik yang ditemukan penyidik, serta penyelidikan lanjutan terhadap kemungkinan ancaman keamanan nasional.

Sumber: Demokratis.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with