Gangguan Pasokan Energi Ancam Ketahanan Ekonomi Nasional
Gangguan Pasokan Energi Ancam Ketahanan Ekonomi Nasional - Pemerintah perlu memperkuat diversifikasi energi, cadangan strategis, dan kemandirian pasokan guna mengatasi tersendatnya pasokan energi global dan domestik, ditambah ketergantungan impor serta...

JAKARTA – Tersendatnya pasokan energi global dan domestik menjadi ancaman serius bagi ketahanan ekonomi regional maupun nasional, sebagaimana diperingatkan Dana Moneter Internasional (IMF). Kebergantungan pada impor dan terbatasnya cadangan energi domestik mempersempit ruang mitigasi ketika gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan.
Jika krisis semakin parah, tekanan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi, memicu inflasi, dan menekan daya beli masyarakat. Kondisi ini menuntut pemerintah memperkuat diversifikasi sumber energi, menjaga kecukupan cadangan strategis, serta mengurangi ketergantungan impor agar stabilitas ekonomi tidak mudah terguncang oleh gejolak eksternal.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menyarankan empat strategi untuk mengantisipasi kekurangan pasokan energi. Pertama, mengoptimalkan produksi domestik melalui peningkatan lifting minyak dan gas bumi serta pemaksimalan kapasitas kilang dalam negeri.
Kedua, mengurangi ketergantungan impor dengan memperluas penggunaan energi terbarukan. Ketiga, mempercepat pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), meliputi tenaga surya, angin, air, bioenergi, dan panas bumi.
“Keempat, menerapkan kebijakan darurat dan penghematan, termasuk pengaturan mobilitas serta kebijakan bekerja dari rumah (WFH) ketika terjadi krisis pasokan energi global secara mendadak,” ujar Esther, Rabu (21/10).
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai Indonesia berpotensi menghadapi dampak guncangan energi lebih berat dibandingkan negara lain karena masih bergantung pada impor minyak dan gas. Menurutnya, persoalan utama bukan hanya kenaikan harga yang memicu inflasi, tetapi juga terbatasnya stok energi domestik yang membuat perekonomian rentan terhadap gangguan pasokan global.
“Gejolak di Timur Tengah telah mengganggu stok BBM di sejumlah daerah dan mendorong kenaikan harga barang, sehingga berisiko meningkatkan inflasi serta menekan daya beli masyarakat,” jelasnya.
Dalam laporan Regional Economic Outlook Asia-Pasifik di sela Pertemuan Tahunan IMF dan World Bank Group 2026 di Bangkok, Thailand, IMF memperingatkan pertumbuhan Asia akan melambat akibat guncangan energi yang dipicu perang Iran.
Wakil Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, Thomas Helbling kepada Xinhua mengatakan penyangga persediaan (inventory buffer) dan langkah seperti subsidi energi atau pengurangan pajak memang telah membatasi dampak guncangan. Namun, kata Helbling, langkah itu sulit dipertahankan lama.
"Penyangga tidaklah tanpa batas. Jika guncangan berlangsung lebih lama atau semakin parah, negara-negara akan kehabisan persediaan sehingga dampak penuh kenaikan harga akan dirasakan lebih parah. Ia pun menyarankan negara-negara membangun kembali penyangga untuk memastikan kesiapan merespons guncangan lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, pemerintah menaikkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Bali dari 11 hari menjadi 15 hari untuk mempercepat pemulihan pasokan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut cadangan Bali sempat turun menjadi 3–4 hari akibat keterlambatan kapal pengangkut dari Jawa, tetapi kini telah pulih menjadi 11–12 hari.
Untuk memperlancar distribusi, tujuh kapal dikerahkan memasok Fuel Terminal Sanggaran dan Terminal Manggis. Pertamina Patra Niaga menyalurkan sekitar 3 juta liter bahan bakar minyak (BBM) per hari ke Bali, melampaui konsumsi normal Pertalite sebesar 2,2 juta liter per hari. Sebanyak 66 stasiun pengisian BBM umum (SPBU) di Denpasar dan Badung beroperasi 24 jam, didukung 16 mobil tangki dan 100 personel TNI. Kebijakan ganjil-genap juga diperpanjang hingga 23 Oktober untuk mengurai antrean.
Secara nasional, cadangan Pertalite berada di kisaran 16–18 hari, sedangkan jenis BBM lainnya di atas 20 hari. Pemerintah menegaskan penambahan cadangan Bali menjadi 15 hari merupakan upaya menjaga kesinambungan pasokan, bukan batas waktu hingga BBM habis, karena distribusi terus berlangsung.
Sumber: Koran Jakarta ®. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.