Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Bencana Alam

Dosen Unitomo Tekankan Pentingnya Mitigasi Bencana bagi Mahasiswa

Kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu ditanamkan kepada generasi muda agar mampu mengenali risiko, mengurangi dampak, dan bertindak tepat saat keadaan darurat. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Dialog Kentongan program Tanjung Perak...

Sumber foto: RRI.co.id

Surabaya – Kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu ditanamkan kepada generasi muda agar mampu mengenali risiko, mengurangi dampak, dan bertindak tepat saat keadaan darurat. Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Dialog Kentongan program Tanjung Perak Pagi Pro 4 RRI Surabaya bertema “Dari Kampus untuk Kemanusiaan: Membangun Kesiapsiagaan Mahasiswa dalam Menghadapi Ancaman Bencana”, Rabu 21 Oktober 2026.

Dialog tersebut menghadirkan dua dosen Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, yakni Kresna Adhi Prahmana, S.Sos., M.AP., pengajar Manajemen Bencana dan Lingkungan, serta Ardiansyah Saifudin, S.AP., M.AP., dari Fakultas Ilmu Administrasi dan Pusat Studi Kebencanaan, Lingkungan dan Kepariwisataan. Pembahasan berfokus pada pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan mahasiswa terhadap ancaman bencana.

Indonesia memiliki beragam potensi bencana karena kondisi geografis dan geologisnya, termasuk aktivitas tektonik dan vulkanik. Di tengah perkembangan teknologi digital, generasi muda perlu meningkatkan kepedulian terhadap risiko bencana dan tidak hanya berfokus pada informasi yang beredar di media sosial. Pemahaman mengenai penyebab, dampak, dan penanganan bencana diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk lebih tanggap serta berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Salah satu upaya membangun kesadaran tersebut dilakukan melalui pendidikan kebencanaan di perguruan tinggi. Unitomo membekali mahasiswa dengan mata kuliah Manajemen Bencana dan Lingkungan yang membahas risiko bencana, mitigasi, kesiapsiagaan, penanganan darurat, hingga pemulihan pascabencana. Melalui pembelajaran ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

Dalam pembahasannya, bencana dijelaskan dalam tiga kategori, yaitu bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. Bencana alam dapat berupa gempa bumi, letusan gunung api, dan banjir. Sementara itu, bencana nonalam mencakup kejadian seperti kegagalan teknologi, epidemi, dan wabah penyakit, sedangkan bencana sosial berkaitan dengan peristiwa seperti konflik sosial. Pemahaman terhadap berbagai jenis bencana tersebut penting untuk menentukan langkah pencegahan dan penanganan yang sesuai.

Kesiapsiagaan juga membutuhkan perencanaan dan kerja sama berbagai pihak. Salah satunya melalui rencana kontingensi, yaitu perencanaan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana dengan mempertimbangkan risiko dan kebutuhan penanganan. Dalam pelaksanaannya, pemerintah, akademisi, relawan, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Program seperti Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.

Selain perencanaan, penanggulangan bencana perlu memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat. Kearifan lokal dan adat istiadat dapat memengaruhi cara warga memahami risiko serta mengambil keputusan ketika bencana terjadi, termasuk saat menghadapi proses evakuasi. Oleh karena itu, pendekatan kepada masyarakat perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kebiasaan dan nilai budaya setempat agar upaya kesiapsiagaan dapat diterima dan dijalankan secara efektif.

Melalui edukasi kebencanaan, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami risiko yang ada di lingkungan sekitarnya, tetapi juga mampu mengambil langkah yang tepat tanpa panik ketika menghadapi situasi darurat. Kesiapsiagaan perlu dibangun sejak sebelum bencana terjadi, dilanjutkan dengan respons yang terkoordinasi saat bencana, serta pemulihan yang memperhatikan kebutuhan masyarakat setelahnya. Dengan pengetahuan, perencanaan, dan kolaborasi yang baik, generasi muda dapat ikut berperan dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana. (Salsa Putri, MagangHub)

Sumber: RRI.co.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with