Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Nasional

Cerpen soal Krisis Air Bawa Siswi Karanganyar Juara III Nasional

Siswi SMAN 2 Karanganyar meraih juara III nasional FLS3N lewat cerpen tentang krisis air dan konflik perebutan air irigasi yang mengancam kehidupan warga.

Sumber foto: Espos.id

Esposin, KARANGANYAR — Persoalan kekeringan dan krisis air bersih mengantarkan Afifah Nur Khairunnisa, siswi SMAN 2 Karanganyar, meraih juara III cabang lomba menulis cerita pendek dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Jenjang Pendidikan Menengah Tingkat Nasional 2026.

Melalui cerpennya, Afifah mengangkat persoalan kekeringan, krisis air bersih, hingga konflik perebutan air irigasi yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Baginya, persoalan air bukan sekadar masalah pertanian, melainkan juga menyangkut kebutuhan dasar manusia.

BRI Dorong Pengusaha Ikan Sorong Naik Kelas Lewat Program Klasterku Hidupku

Gagasan itu berangkat dari berbagai pemberitaan mengenai kekeringan dan konflik perebutan air yang dibacanya. Salah satu peristiwa yang menarik perhatiannya adalah kasus pembunuhan yang dipicu perebutan air irigasi di wilayah Masaran, Sragen.

Namun, Afifah tidak menjadikan peristiwa tersebut sebagai pusat cerita. Ia lebih memilih menggambarkan kehidupan masyarakat yang harus bertahan di tengah keterbatasan air, termasuk ketika warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari dan harus menunggu bantuan.

“Bahkan untuk kebutuhan primer saja masyarakat harus menunggu bantuan. Jadwal bantuan itu juga tidak menentu. Menurut saya, kondisi tersebut sangat mengiris hati. Apalagi sampai terjadi konflik yang berujung pada pembunuhan hanya karena perebutan air,” kata Afifah saat menceritakan gagasan cerpennya kepada Espos, Jumat (16/10/2026).

Menurut Afifah, persoalan tersebut memiliki sisi kemanusiaan yang kuat karena air merupakan kebutuhan pokok yang semestinya dapat diakses masyarakat.

Pemilihan tema agraris juga bukan keputusan mendadak. Sebelum mengikuti kompetisi tingkat nasional, Afifah bersama guru pendampingnya telah mempelajari sejumlah isu sosial yang berkembang di Indonesia. Persoalan agraris menjadi salah satu tema yang dipersiapkannya untuk dikembangkan menjadi karya sastra.

Bagi Afifah, menulis cerpen tidak hanya berkaitan dengan kemampuan merangkai kata dan membangun alur cerita. Penulis juga perlu memahami persoalan yang diangkat agar cerita memiliki konteks dan pesan yang dapat dipahami pembaca.

Prestasi Afifah di tingkat nasional merupakan hasil perjalanan melalui kompetisi berjenjang, mulai dari tingkat Kabupaten Karanganyar hingga Provinsi Jawa Tengah.

Di tingkat kabupaten, ia meraih juara I lomba menulis cerpen melalui karya bertema “Suara Nusantara”. Tema tersebut merupakan salah satu dari tiga subtema dalam petunjuk teknis lomba, bersama “Jejak Budaya” dan “Cerita Akar”. Kompetisi itu diikuti 18 peserta.

Kemenangan tersebut mengantarkan Afifah ke tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pada tahap ini, peserta mendapat tema “Melestarikan Budaya Jawa Tengah melalui Tulisan". Afifah memilih tradisi rewang sebagai gagasan utama cerpennya.

Rewang merupakan tradisi saling membantu dalam kehidupan masyarakat. Afifah menilai nilai budaya tidak hanya tercermin melalui kesenian, seperti tarian atau upacara tradisional, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari yang menguatkan hubungan antarmasyarakat.

“Ketika mendengar kata budaya, teman-teman mungkin langsung memikirkan upacara tradisional atau tarian. Padahal, menurut saya, budaya yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah rewang,” ujarnya.

Cerpen tentang rewang mengantarkan Afifah meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah sekaligus memperoleh kesempatan mewakili provinsi tersebut dalam FLS3N tingkat nasional.

Di tingkat nasional, Afifah bersaing dengan 34 peserta lain dalam cabang lomba menulis cerita pendek. Ia berhasil meraih juara III, di bawah peserta dari Ponorogo, Jawa Timur, yang menempati juara I, serta peserta dari Sulawesi Utara yang meraih juara II.

Prestasi tersebut tercatat dalam sertifikat penghargaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bernomor 282103/PPN/DIKMEN/2026. Kompetisi nasional itu diselenggarakan Pusat Prestasi Nasional secara daring pada 5-10 Oktober 2026.

Ketertarikan Afifah terhadap dunia tulis-menulis tumbuh sejak kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), ia terbiasa menulis catatan harian tentang kegiatan yang dilakukannya. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi ketertarikan untuk menulis cerita.

Ketika memasuki sekolah menengah pertama (SMP), Afifah mulai mencoba menulis cerita pendek, meskipun awalnya hanya untuk memenuhi tugas sekolah atau menyalurkan hobi. Keseriusannya semakin berkembang ketika memasuki jenjang SMA. Ia mulai memikirkan kemungkinan mengirimkan karyanya ke media massa, tetapi memilih memusatkan perhatian pada persiapan FLS3N terlebih dahulu.

Kegemarannya membaca turut mendukung proses kreatif tersebut. Melalui bacaan, Afifah memperoleh pengetahuan, memperkaya kosakata, dan menemukan berbagai gagasan yang dapat dikembangkan menjadi cerita.

Prestasi di tingkat nasional juga menjadi bekal untuk membangun portofolio dalam melanjutkan pendidikan. Meski demikian, Afifah berharap pencapaian tersebut bukan menjadi titik akhir, melainkan langkah awal untuk terus mengembangkan kemampuan menulisnya. Di tengah ketertarikannya pada dunia sastra dan jurnalistik, ia bercita-cita mengikuti jejak ibunya menjadi guru.

Guru Bahasa Indonesia SMAN 2 Karanganyar sekaligus pendamping Afifah, Nanda Sidik, mengatakan bakat menulis siswinya mulai terlihat ketika sekolah menggelar kegiatan Bulan Bahasa. Kegiatan tahunan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan bersastra, termasuk melalui lomba menulis cerita pendek.

Dari karya para peserta, Nanda melihat kemampuan Afifah menonjol. Ia kemudian mendorong Afifah untuk mengembangkan potensinya dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi FLS3N.

“Dari seluruh siswa yang mengikuti lomba, memang sudah sangat kelihatan bahwa Afifah memiliki bakat menulis. Setelah itu, saya membimbing Afifah agar fokus mempersiapkan diri untuk FLS3N tingkat kabupaten,” kata Nanda.

Menurut Nanda, pendampingan intensif berlangsung sekitar tiga bulan, yakni pada Oktober hingga Desember 2025. Afifah didorong membaca berbagai cerpen untuk memahami karakteristik cerita pendek yang baik, memperkaya kosakata, dan mempelajari cara menyampaikan gagasan secara efektif.

Pendampingan itu tidak hanya berfokus pada teknik menulis. Nanda juga mengarahkan Afifah untuk mengikuti perkembangan berita dan membaca berbagai persoalan sosial di Indonesia. Mereka mendiskusikan isu agraris, kekerasan, dan peristiwa sosial yang menimpa masyarakat di berbagai daerah.

Langkah tersebut dilakukan untuk menyiapkan beragam gagasan sebelum tema lomba tingkat nasional diketahui. Nanda menilai salah satu kekuatan Afifah terletak pada kemampuannya menghubungkan persoalan sosial dengan cerita yang ditulisnya.

Kepala SMAN 2 Karanganyar, Sri Paminto, mengaku bangga atas prestasi Afifah. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa upaya sekolah membangun budaya literasi dapat mendorong siswa meraih prestasi hingga tingkat nasional.

“Kami sangat bangga dan mengapresiasi prestasi anak kami. Ini sudah tingkat nasional. Mudah-mudahan prestasi ini dapat mendorong seluruh siswa lain untuk terus berprestasi dan mengembangkan talenta di bidang masing-masing,” ujar Sri Paminto.

Ia menjelaskan, sekolah memiliki sejumlah kegiatan untuk mendukung pengembangan bakat siswa. Salah satunya melalui Bulan Bahasa yang menjadi agenda tahunan sekaligus sarana menjaring siswa potensial untuk dipersiapkan mengikuti FLS3N.

Dalam kegiatan tersebut, sekolah mengadakan berbagai perlombaan, mulai dari menulis cerpen, jurnalistik, pembuatan konten kreatif, hingga menulis puisi. Sekolah juga menjalankan kegiatan literasi rutin setiap Kamis dan Jumat Berbudaya Literasi sebulan sekali.

Dalam kegiatan Jumat Berbudaya Literasi, siswa membawa buku bacaan, menyelesaikan bacaan dalam waktu yang ditentukan, kemudian membuat rangkuman atau ulasan mengenai isi buku.

Menurut Sri Paminto, kegiatan literasi perlu dijalankan secara konsisten agar membaca dan menulis tidak hanya menjadi aktivitas akademik untuk memenuhi tugas sekolah, tetapi juga berkembang menjadi kebiasaan siswa.

"Sekolah juga berupaya menghidupkan kegiatan jurnalistik dan pengelolaan situs web sebagai ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan menulis dan menyampaikan informasi," katanya.

Bagi SMAN 2 Karanganyar, prestasi Afifah menjadi salah satu pengingat pentingnya menumbuhkan kemampuan literasi di kalangan siswa. Atas pencapaiannya di FLS3N tingkat nasional, Afifah telah menerima piagam penghargaan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sumber: Espos.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with