BPS Proyeksikan Produksi Beras Nasional Turun pada 2026
BPS memproyeksikan produksi beras Indonesia mencapai 33,11 juta ton pada 2026, turun 4,57 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi beras Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan mengalami penyusutan dibandingkan tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan hasil produksi nasional mencapai 33,11 juta ton, atau berkurang 1,59 juta ton setara 4,57 persen dari capaian 2025 sebesar 34,69 juta ton, dilansir dari Money.
Perkiraan penurunan produksi beras tersebut sejalan dengan melemahnya hasil panen padi dalam dua kategori pengukuran, yakni Gabah Kering Panen (GKP) dan Gabah Kering Giling (GKG).
Untuk kategori GKG, BPS memperkirakan produksi selama Januari-Desember 2026 mencapai 57,45 juta ton. Jumlah ini berkurang 2,75 juta ton atau 4,57 persen dibandingkan 2025 yang tercatat sebesar 60,21 juta ton.
Sementara itu, hasil produksi GKP diproyeksikan sebesar 68,65 juta ton. Angka tersebut lebih rendah 3,29 juta ton atau 4,58 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang mencapai 71,95 juta ton.
Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan perkiraan menyusutnya luas lahan yang memasuki masa panen. Kondisi luas panen menjadi salah satu komponen penting dalam penghitungan produksi beras nasional.
Penurunan yang lebih besar terlihat dalam perkembangan produksi bulanan. Berdasarkan perkiraan BPS, hasil produksi beras September 2026 mencapai 2,81 juta ton, sedangkan pada September 2025 jumlahnya masih sebesar 3,44 juta ton.
Dengan demikian, terdapat pengurangan sekitar 630.000 ton atau 18,25 persen secara tahunan. Penyusutan tersebut berjalan seiring dengan berkurangnya luas panen dan produksi padi pada periode yang sama.
Hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026 mencatat luas panen sebesar 914.334 hektare. Angka ini menyusut 220.096 hektare atau 19,40 persen dibandingkan September 2025 yang mencapai 1,13 juta hektare.
Produksi GKG pada bulan tersebut diperkirakan sebesar 4,88 juta ton. Jumlah itu turun 1,09 juta ton atau 18,29 persen dibandingkan periode setahun sebelumnya yang mencapai 5,97 juta ton.
Adapun produksi GKP diproyeksikan sebesar 5,81 juta ton. Capaian tersebut lebih rendah 18,30 persen dibandingkan September 2025 yang tercatat mencapai 7,11 juta ton.
Realisasi perkiraan produksi beras selama sembilan bulan pertama 2026 memperlihatkan perubahan yang cukup beragam. Maret menjadi periode dengan hasil tertinggi, sedangkan Juni mencatat angka paling rendah.
Produksi mengalami peningkatan sejak Januari hingga Maret sebelum bergerak turun pada April sampai Juni. Pada Juli, jumlahnya kembali meningkat dan mencapai 3,15 juta ton pada Agustus, kemudian melemah lagi pada September.
Memasuki tiga bulan terakhir tahun ini, BPS memperkirakan produksi beras masih berada di bawah capaian periode yang sama pada 2025. Hasil pengamatan KSA September 2026 menunjukkan potensi produksi sebesar 5,01 juta ton.
Angka tersebut lebih rendah sekitar 980.000 ton atau 16,32 persen dibandingkan Oktober-Desember 2025 yang mencapai 5,98 juta ton.
Dari sisi lahan, potensi luas panen diperkirakan mencapai 1,54 juta hektare. Jumlah tersebut menyusut sekitar 330.000 hektare dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi GKP selama Oktober-Desember 2026 diproyeksikan mencapai 10,36 juta ton. Sementara itu, hasil produksi GKG diperkirakan sebesar 8,69 juta ton.
Jika dirinci berdasarkan bulan, potensi produksi beras Oktober mencapai 2,23 juta ton. Selanjutnya, angka tersebut diperkirakan berkurang menjadi 1,61 juta ton pada November dan 1,17 juta ton pada Desember.
BPS menegaskan bahwa ketiga angka bulanan tersebut masih berupa proyeksi berdasarkan pengamatan KSA September 2026, bukan hasil penghitungan akhir.
Dalam memperkirakan luas panen, BPS mengamati perkembangan fase pertumbuhan tanaman padi atau standing crops. Tahapan yang diperhatikan meliputi fase generatif, vegetatif akhir, vegetatif awal, serta persiapan lahan.
Secara keseluruhan, luas panen nasional selama Januari-Desember 2026 diproyeksikan mencapai 10,78 juta hektare. Angka tersebut berkurang 543.510 hektare atau 4,80 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 11,32 juta hektare.
Jika dikelompokkan berdasarkan periode, Januari-April 2026 mencatat luas panen sebesar 4,51 juta hektare. Jumlah tersebut justru meningkat tipis 0,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berbeda dengan periode awal tahun, luas panen Mei-Agustus 2026 mencapai 3,81 juta hektare atau mengalami penurunan 0,26 persen dibandingkan 2025.
Penyusutan paling besar diperkirakan berlangsung pada September-Desember 2026. Luas panen dalam periode tersebut diproyeksikan hanya 2,46 juta hektare, turun 18,37 persen dibandingkan capaian sebelumnya sebesar 3,01 juta hektare.
Pergerakan luas panen tersebut juga tercermin dalam produksi beras berdasarkan pembagian periode. Pada Januari-April 2026, produksinya diperkirakan mencapai 14,03 juta ton, meningkat 0,12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk Mei-Agustus 2026, produksi beras tercatat diperkirakan sebesar 11,26 juta ton. Jumlah tersebut naik tipis 0,02 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sementara itu, produksi September-Desember 2026 diproyeksikan mencapai 7,82 juta ton. Angka tersebut lebih rendah 17,02 persen dibandingkan produksi periode yang sama pada 2025 sebesar 9,42 juta ton.
Persebaran produksi padi nasional masih memperlihatkan dominasi sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Berdasarkan catatan BPS, tiga provinsi dengan produksi padi tertinggi sepanjang 2026 adalah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Sebaliknya, wilayah dengan produksi padi paling rendah meliputi Papua Pegunungan, Kepulauan Riau, dan Papua Barat Daya.
Dari ketiga provinsi penghasil utama tersebut, Jawa Timur diperkirakan mencatat perkembangan luas panen positif. Luas panennya mencapai 1,85 juta hektare, meningkat 0,71 persen dibandingkan 2025.
Kondisi berbeda terjadi di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Luas panen Jawa Barat diperkirakan sebesar 1,63 juta hektare atau turun 6,98 persen, sedangkan Jawa Tengah mengalami penurunan 3,40 persen menjadi 1,62 juta hektare.
Penyusutan juga tercatat di luar Pulau Jawa. Kalimantan Barat mengalami penurunan luas panen sebesar 20,55 persen menjadi 209.394 hektare.
Di Sumatera Utara, luas panen berkurang 15,73 persen menjadi 450.838 hektare. Sementara itu, Sulawesi Selatan mencatat penyusutan 9,25 persen menjadi 945.377 hektare.
Penghitungan produksi nasional dilakukan dengan menggabungkan dua komponen utama, yaitu luas panen dan produktivitas. Produksi padi diperoleh melalui perkalian luas panen bersih dengan produktivitas tanaman.
Selanjutnya, hasil produksi padi dikonversi menjadi beras. Dalam proses tersebut, BPS memperhitungkan susut atau hasil yang tercecer serta penggunaan padi untuk kebutuhan nonpangan.
Sejak 2018, pengukuran luas panen menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Sistem tersebut melibatkan 31.313 segmen sampel lahan berbentuk persegi dengan ukuran 300 meter x 300 meter, setara 9 hektare.
Setiap bulan, petugas melakukan pengamatan visual pada sembilan titik di masing-masing segmen menggunakan telepon seluler berbasis Android. Pengamatan mencakup berbagai kondisi tanaman, mulai dari persiapan lahan hingga masa panen.
Selain itu, pemantauan juga mencatat fase vegetatif, fase generatif, serta kemungkinan terjadinya gagal panen. Dokumentasi berupa foto kemudian dikirimkan ke server pusat untuk menjalani proses pengolahan data.
Melalui mekanisme tersebut, BPS dapat memperkirakan potensi produksi padi dan beras untuk tiga bulan berikutnya berdasarkan kondisi pertanaman di lapangan.
Adapun pengukuran produktivitas dilakukan melalui Survei Ubinan. Sejak 2018, hasil pengamatan KSA digunakan sebagai dasar penentuan sampel ubinan guna mengurangi risiko lewat panen maupun non-response.
BPS menyatakan bahwa angka produksi padi dan beras untuk Januari-Desember 2026 belum menjadi hasil penghitungan final. Proyeksi tersebut masih memasukkan potensi luas panen pada Oktober-Desember 2026.
Sumber: Limapagi. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Ledakan terdengar di Qeshm dan Bandar Lengeh, Iran
Sejumlah ledakan terdengar pada Selasa pagi di wilayah selatan Iran, termasuk Pulau Qeshm dan kota pesisir Bandar Lengeh. Menurut laporan kantor berita pemerintah, IRNA, ANTARA...
Bendera Iran Berkibar, Potret Warga Sipil Mulai Dilatih untuk Perang
Iran buka pusat pelatihan militer bagi relawan sipil di Teheran, di tengah perang dengan AS-Israel yang telah berlangsung delapan bulan.
Jaga Stabilitas Keamanan Nasional, Kapolri Beri Arahan Tegas Kepada Kapolda hingga Kapolsek
Kapolri Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., memimpin kegiatan Analisis dan Evaluasi (Anev) Situas
AS Diam-diam Serang Pulau di Iran, Trump Justru Sebut Kesepakatan Damai Bisa Tercapai
AS dilaporkan diam-diam menyerang Pulau Qeshm di Iran. Lima ledakan terdengar saat Trump justru menyebut kesepakatan damai dengan Teheran memungkinkan