Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Bencana Alam

BPGMN Siapkan Pemulihan Gambut dan Mangrove Cegah Bencana

Pemulihan gambut via pembasahan lahan dan pengelolaan kanal, serta pengembangan mangrove berkelanjutan untuk menekan risiko bencana dan mendukung ekonomi warga.

Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) menyiapkan langkah pemulihan ekosistem gambut dan mangrove untuk menekan risiko bencana alam sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kepala BPGMN Satyawan Pudyatmoko mengatakan, gambut rentan terbakar ketika kondisi alaminya yang basah dan lembap berubah menjadi kering. Salah satu faktor pemicu kekeringan adalah kanal yang mengalirkan air keluar dari lahan gambut, terutama saat musim kemarau. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Gambut terbakar karena ada upaya untuk mengubah sifat alami gambut, dari yang sifatnya basah dan lembap menjadi kering. Ini adalah problem utama dalam pengelolaan gambut di Indonesia,” kata Satyawan seusai dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Menurut Satyawan, pemulihan akan dimulai dengan mengembalikan kondisi gambut agar tetap basah. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pemetaan kanal dan pembangunan sekat untuk menahan air agar tidak cepat terbuang dari lahan gambut.

Selain memperbaiki tata air, BPGMN akan mendorong masyarakat mengembangkan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lahan gambut. Sagu, jelutung, dan nanas menjadi beberapa contoh tanaman yang dapat dibudidayakan.

“Kami juga harus bekerja sama dengan masyarakat, mengaktifkan peran masyarakat dalam mengelola gambut agar tidak membudidayakan komoditas-komoditas yang tidak ramah air,” ujarnya.

Wakil Kepala BPGMN Mayjen TNI Sriyanto menekankan pemulihan gambut dan mangrove perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, kedua ekosistem tersebut memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Di kawasan gambut, sagu dinilai berpotensi menjadi komoditas unggulan yang mendukung ketahanan pangan sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga. “Sagu ternyata sangat potensial untuk dikembangkan di lahan gambut. Jadi, masyarakat harus langsung menerima manfaat dari penanaman sagu di lahan gambut,” kata Sriyanto.

Sementara itu, potensi ekonomi kawasan mangrove dapat dikembangkan melalui perikanan dan pariwisata yang tetap menjaga fungsi ekosistem. Sriyanto mengingatkan agar kegiatan ekonomi tidak merusak kawasan mangrove, termasuk melalui pembangunan tambak yang mengabaikan kelestarian lingkungan.

“Begitu juga di mangrove. Ada ikan-ikan yang bisa dikembangkan. Kita jangan membuat tambak yang merusak mangrove, tetapi bagaimana ekosistem yang dikembangkan bisa mendukung pariwisata dan pengembangan perikanan yang aman,” jelasnya.

Melalui pemulihan tata air gambut, pengembangan komoditas yang sesuai, serta pemanfaatan mangrove secara berkelanjutan, BPGMN berharap dapat menekan risiko karhutla dan kerusakan lingkungan. Langkah tersebut juga diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem.

Sumber: BeritaSatu.com. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with