Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Nasional

BNPB Gelar Simulasi Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami di NTT

Melalui simulasi ini BNPB berharap penanganan lebih terarah dan terpadu.

Sumber foto: BNPB

KUPANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Simulasi Penanggulangan Bencana Tahun 2026 pada 19–22 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami melalui latihan koordinasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan dalam situasi darurat.

Selama empat hari, kegiatan dilaksanakan melalui sesi akademik, Table Top Exercise (TTX) atau geladi ruang, Command Post Exercise (CPX) atau geladi posko, serta latihan evakuasi mandiri. Sesi akademik bertujuan menyamakan pemahaman peserta mengenai ancaman gempa bumi dan tsunami, rencana kontingensi, serta Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana sebagai landasan pelaksanaan latihan.

Pada geladi ruang, peserta membahas skenario bencana dan mengambil keputusan sesuai peran, rencana, serta prosedur masing-masing instansi. Tahapan ini juga digunakan untuk menguji kesesuaian rencana penanganan, alur koordinasi, dan mekanisme pertukaran informasi tanpa harus menjalankan operasi lapangan secara penuh.

Selanjutnya, geladi posko berfokus pada pengoperasian pos komando, pengelolaan informasi, komunikasi dalam sistem komando, koordinasi lintas instansi, serta dukungan pengambilan keputusan dan pengerahan sumber daya. Rangkaian latihan ini diharapkan dapat mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki sebelum bencana terjadi.

Simulasi melibatkan sekitar 40 peserta dari berbagai organisasi perangkat daerah, lembaga, dan organisasi. Unsur yang terlibat antara lain BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Basarnas, Korem 161/Wira Sakti, Polda NTT, dinas-dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT, BPBD Provinsi NTT dan BPBD kabupaten/kota, PT PLN, Palang Merah Indonesia (PMI), Radio Republik Indonesia (RRI), Forum Pengurangan Risiko Bencana, Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana NTT, akademisi, serta organisasi kemasyarakatan.

Ketua Tim Kerja 2 Pusat Pendidikan dan Pelatihan BNPB, Joko Sri Wismoko, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa simulasi disusun secara bertahap, mulai dari pembekalan akademik hingga geladi ruang dan geladi posko. Melalui tahapan tersebut, peserta berlatih membangun koordinasi, menjalankan komunikasi dalam sistem komando, dan menyelaraskan peran antarinstansi.

Menurut Joko, kegiatan ini diharapkan meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan kapasitas pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan latihan penanggulangan bencana. Dengan demikian, mekanisme respons dapat dijalankan secara lebih terarah ketika menghadapi keadaan darurat.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT, Mahadin Sibarani, S.T., M.T., menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Teknologi berperan penting dalam mendukung pemantauan dan penyampaian informasi, tetapi kesiapan manusia, termasuk pemahaman mengenai tindakan penyelamatan diri, tetap menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko dan dampak bencana.

Melalui simulasi ini, BNPB dan BPBD Provinsi NTT berharap koordinasi penanganan darurat dapat berjalan lebih terarah dan terpadu. Hasil evaluasi latihan diharapkan menjadi bahan rekomendasi untuk memperbaiki mekanisme koordinasi, komunikasi, dan penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB

Sumber: BNPB. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with