Berbeda dari SMRC, Survei Parameter Politik Indonesia (PPI) Ungkap Elektabilitas Prabowo Ungguli Dedi Mulyadi, Anies-Ganjar Potensi Jadi Kuda Hitam
Hasil temuan berbeda dirilis oleh lembaga survei Parameter Politik Indonesia (PPI) terkait peta kekuatan elektoral tokoh nasional menjelang bursa Pilpres 2029. Berbeda dengan hasil survei SMRC yang…

Hasil temuan berbeda dirilis oleh lembaga survei Parameter Politik Indonesia (PPI) terkait peta kekuatan elektoral tokoh nasional menjelang bursa Pilpres 2029. Berbeda dengan hasil survei SMRC yang sebelumnya menunjukkan petahana tersalip, survei terbaru PPI justru mencatat tingkat keterpilihan (elektabilitas) Presiden Prabowo Subianto tetap kokoh berada di posisi puncak teratas dalam berbagai simulasi.
Direktur Eksekutif PPI, Adi Prayitno, memaparkan temuan tersebut saat peluncuran hasil survei nasional bertajuk "Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran" di Jakarta, Minggu (18/10/2026). Survei ini digelar pada periode 26 September hingga 6 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi melalui metode wawancara tatap muka (multistage random sampling), dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error sekitar ±2,83%.
"Responden itu diminta untuk menjawab secara spontan. Pertama Pak Prabowo Subianto. Jadi elektabilitas presiden terbuka itu Prabowo Subianto 31,6 persen. Disusul Dedi Mulyadi 11,4 persen. Disusul Anies Baswedan 10,1 persen," ujar Adi Prayitno saat memaparkan hasil survei secara daring.
Dalam simulasi terbuka yang mencakup total 20 nama (melibatkan kepala daerah, menteri, hingga presiden), urutan lima besar teratas diisi oleh:
Sementara itu, dalam simulasi tertutup yang menguji 5 nama kandidat kuat poros utama politik nasional (Prabowo, Anies, AHY, Gibran, dan Pramono Anung), dominasi petahana semakin tak terbendung:
Adapun dalam simulasi tiga nama capres, elektabilitas Prabowo kian melesat mengantongi 41,5% dukungan suara, dibayangi Anies Baswedan di angka 21,8% dan Pramono Anung 6,7%. Menanggapi tingginya elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang menempati posisi teratas dalam bursa calon wakil presiden terbuka (21% disusul Gibran 14,2%), Adi Prayitno menjelaskan alasan lembaganya sengaja menghindari simulasi head-to-head antara Prabowo dan KDM sebagai capres.
Menurut Adi, hal tersebut dihindari karena kedua figur tersebut saat ini masih tercatat sebagai kader internal di bawah payung partai yang sama, yakni Partai Gerindra. "Makanya saya agak sedikit menghindari untuk meng-head-to-head-kan Pak Prabowo Subianto dengan Pak KDM dengan simulasi misalnya sejumlah nama. Karena per hari ini kita anggap itu Pak KDM masih menjadi bagian dari Partai Gerindra. Tidak mungkin misalnya di internal Gerindra itu saya memasukkan atau kita memasukkan dua nama yang kebetulan sesama Partai Gerindra. Bagi kita itu dianggap mengadu domba jadinya," tegas Adi. Secara keseluruhan, temuan survei PPI ini juga mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran berada di angka yang cukup solid, yakni mencapai 65,4%. (MAR)
Sumber: AFU.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...