Sabtu, 31 Oktober 2026

DVP Berita

Terkini
Perang

Bara Abadi di Semenanjung Korea

Bagi pemerintahan Presiden Lee Jae Myung di Seoul, situasi ini mendatangkan dilema antara mempertahankan kebijakan damai dan meredam aktivitas agresif militer Korut.

Sumber foto: Kompas.id

Suhu di perbatasan Korea Selatan-Korea Utara memanas lagi. Perang urat saraf meletus menyusul kunjungan Kim Yo Jong, adik Kim Jong Un, ke wilayah perbatasan.

Ketika mulai menjabat sejak pertengahan tahun 2025, Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung berupaya memperbaiki hubungan dengan Korea Utara (Korut). Ia, misalnya, menghentikan siaran propaganda melalui pengeras suara di perbatasan utara. Pyongyang belakangan menyusul langkah serupa.

Sejak momen itu, tebersit harapan bahwa ketegangan di salah satu titik panas konfrontasi di Bumi tersebut mereda. Korsel dan Korut terbelah zona demiliterisasi (DMZ) setelah Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata. Konfrontasi, perang urat saraf, dan perang propaganda mewarnai dua Korea hingga hari ini.

Perang propaganda dengan pengeras suara maupun cara lain, seperti penyebaran leaflet dan balon udara, merupakan bentuk perang psikologis era Perang Dingin. Model perang seperti itu digunakan oleh Korsel maupun Korut.

Dinamika dan ketegangan dipengaruhi juga oleh faktor pemerintah yang sedang berkuasa. Lee Jae Myung, Presiden Korsel dari Partai Demokratik yang berhaluan liberal, seperti pendahulunya, Moon Jae-in (memerintah pada 2017-2022), menginginkan hubungan damai dengan Korut sebagai fondasi menuju arah unifikasi.

Namun, keinginan hidup berdampingan secara damai antara dua negara bertetangga tak mungkin terwujud oleh hanya inisiatif satu pihak. Pada Oktober 2024, Pemimpin Korut Kim Jong Un menetapkan Korsel sebagai ”negara musuh (hostile state)”. Hal itu ditindaklanjuti Pyongyang dengan menanam ranjau, pembatas, dan pagar sebagai upaya membangun pembatasan permanen (fortifikasi) di DMZ wilayah Korut.

Di tengah fortifikasi itulah terjadi insiden. Seperti diberitakan, Korsel menuding tentara-tentara Korut melanggar garis demarkasi perbatasan sebanyak 50 kali sepanjang 2026 saat mengerjakan benteng. Seoul merespons pelanggaran perbatasan itu dengan tembakan dan siaran peringatan. Pertikaian kian sengit ketika pada 21 September 2026 tiga tentara Korsel terluka akibat ranjau di perbatasan (Kompas.id, 20/10/2026).

Pekan ini, seusai mengunjungi lokasi fortifikasi bersama sejumlah pejabat senior militer Korut, Kim Yo Jong—adik Kim Jong Un, yang disebut-sebut sebagai ”orang nomor dua” di Korut, mengancam mengaktifkan lagi pengeras suara-pengeras suara di perbatasan. Ia juga memperingatkan, jika Korsel terus melepaskan tembakan peringatan kepada tentara Korut yang mendirikan pagar pembatas, Pyongyang akan membalas.

Ketegangan seperti itu sudah sering terjadi di perbatasan dua negara tersebut, seolah sudah menjadi bara abadi di Semenanjung Korea. Bagi pemerintahan Lee di Seoul, situasi ini mendatangkan dilema antara mempertahankan kebijakan damai dan meredam aktivitas agresif militer Korut.

Sudah tepat upaya militer dan Kementerian Unifikasi Korsel mengajak bicara Pyongyang untuk menyelesaikan ketegangan ini. Namun, apakah Korut akan menurut begitu saja?

Sumber: Kompas.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with