Minggu, 1 November 2026

DVP Berita

Terkini
Nasional

Asap Karhutla Selimuti Taman Nasional Tanjung Puting

Asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Taman Nasional Tanjung Puting, mengganggu wisata alam dan mengancam habitat satwa liar.

Sumber foto: bsinews.id

Jakarta, Asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Taman Nasional Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Kondisi yang terlihat dalam video unggahan operator wisata pada Rabu (14/10/2026) tersebut membuat pemandu dan wisatawan harus mengenakan masker di kawasan yang menjadi habitat orang utan Kalimantan.

Dilansir dari Detik Travel, rekaman itu memperlihatkan hutan yang tertutup asap hingga menghalangi pemandangan. Pengunggah menyebut asap tersebut berasal dari karhutla, bukan efek visual ataupun kabut pagi, serta menggambarkan kondisi yang mengharuskan penggunaan pelindung pernapasan.

Dalam keterangan video, operator wisata menjelaskan bahwa rekaman diambil dua hari sebelum unggahan dipublikasikan. Pemandu diwajibkan menggunakan respirator, sedangkan wisatawan harus mengenakan masker selama beraktivitas di kawasan tersebut.

Pengunggah juga menggambarkan langit berwarna oranye dan jarak pandang yang menghilang akibat asap. Operasi udara disebut tertahan oleh kepulan asap tebal yang menyelimuti kawasan terdampak.

Besarnya upaya pemadaman turut disinggung dalam keterangan video tersebut. Pengunggah menyebut kebutuhan lebih dari 200 pompa air dan ratusan personel lapangan untuk menangani kebakaran yang melanda lahan gambut.

Dalam unggahan itu, operator wisata menyoroti situasi yang dihadapi pelaku wisata alam ketika kawasan yang mereka perkenalkan kepada pengunjung justru mengalami kebakaran. Mereka juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap luas lahan terdampak dan pertumbuhan kembali vegetasi setelah kebakaran.

Taman Nasional Tanjung Puting memiliki luas sekitar 415.040 hektare dan mencakup berbagai ekosistem, mulai dari hutan tropis hingga rawa gambut. Kawasan ini menjadi habitat alami orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) serta beragam satwa liar khas Kalimantan.

Selain orang utan, kawasan konservasi tersebut menjadi tempat hidup bekantan, beruang madu, dan buaya muara. Keberadaan berbagai spesies itu menjadikan Tanjung Puting sebagai salah satu kawasan penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati.

Laman Visit Kotawaringin Barat menyebut primatolog Birute Mary Galdikas memberikan predikat Taman Nasional Tanjung Puting sebagai ibu kota orang utan dunia. Kawasan tersebut juga dikenal sebagai tujuan wisata alam bagi pengunjung domestik maupun mancanegara.

Data Balai Taman Nasional Tanjung Puting yang diberitakan Antara mencatat 79.920 kunjungan wisatawan sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 78 persen merupakan wisatawan mancanegara, sedangkan 22 persen lainnya berasal dari dalam negeri.

Menurut data yang sama, wisatawan asal Spanyol menempati urutan pertama pengunjung mancanegara dengan 24.037 orang. Berikutnya adalah wisatawan asal Jerman sebanyak 6.361 orang dan Amerika Serikat sebanyak 6.106 orang.

Salah satu lokasi penting di kawasan ini adalah Camp Leakey, pusat penelitian orang utan yang didirikan pada 1971. Lokasi tersebut berperan dalam penelitian perilaku orang utan dan pelaksanaan upaya konservasi.

Selain Camp Leakey, Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui juga menjadi lokasi yang berkaitan dengan konservasi serta pengelolaan orang utan. Meski menjadi daya tarik wisata, pengunjung tidak selalu dapat melihat satwa tersebut secara langsung karena orang utan hidup di alam liar.

Sumber: bsinews.id. Baca selengkapnya di sumber

Artikel terkait

Berita terbaru

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with