AS Siapkan Bom MOAB untuk Serang Situs Nuklir Iran
Pejabat AS mengungkap rencana penggunaan bom MOAB untuk menyerang infrastruktur energi dan situs nuklir Iran jika Donald Trump melanjutkan operasi militer.

Jakarta, Amerika Serikat menyiapkan opsi penggunaan bom konvensional terbesar dalam persenjataan militernya untuk menyerang infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran apabila Presiden Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur. Dilansir dari Detikcom, Kamis (15/10/2026), sejumlah pejabat AS yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut rencana serangan dapat dijalankan sebelum atau sesudah pemilihan umum sela. Senjata yang dipertimbangkan adalah GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB), bom non-nuklir yang dirancang menghasilkan ledakan besar di permukaan.
Penggunaannya terhadap Iran akan menjadi peningkatan signifikan dalam eskalasi konflik, meskipun sejumlah sumber mempertanyakan efektivitasnya untuk mencapai sasaran strategis Washington. Rencana tersebut muncul ketika Trump menghadapi tekanan untuk mengakhiri perang yang tidak populer. Partai Republik juga bersiap menghadapi kemungkinan dampak politik menjelang pemilihan umum sela, sementara negosiasi untuk menyelesaikan konflik belum menunjukkan kemajuan setelah lebih dari enam bulan pengeboman AS di Iran.
Menurut laporan Detikcom, militer AS terus menyampaikan berbagai pilihan serangan kepada Trump. Namun, sejumlah pejabat secara pribadi mempertanyakan apakah Gedung Putih memiliki strategi menyeluruh yang dapat mengakhiri perang, meskipun presiden dan para penasihatnya telah berbulan-bulan membahas kemungkinan penyelesaian definitif.
Trump belum secara terbuka menyatakan kemenangan dalam konflik tersebut. Ia juga menolak pandangan sejumlah pihak yang menyarankan penarikan pasukan AS tanpa melanjutkan perang karena menilai langkah semacam itu dapat terlihat sebagai kekalahan. Dalam beberapa minggu terakhir, para penasihat Gedung Putih mengadakan serangkaian pertemuan untuk membahas pilihan militer terhadap Iran. Meskipun Trump menyatakan tidak akan mengambil tindakan baru sebelum pemilihan umum sela, sejumlah penasihat mengaku belum mengetahui apakah keputusan tersebut bersifat final atau masih dapat berubah.
Salah satu sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebut Trump telah memerintahkan militer menyusun paket serangan tambahan terhadap sejumlah target Iran, termasuk opsi penggunaan MOAB. Menurut sumber tersebut, serangan direncanakan berlangsung sebelum penarikan pasukan AS dari wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM). Sumber kedua menyatakan rencana serangan terhadap fasilitas nuklir Iran secara eksplisit mencakup penggunaan MOAB. Salah satu sasaran yang dibahas adalah lokasi bernama Pickaxe Mountain, yang diyakini AS dan Israel menyimpan komponen program nuklir Teheran.
Meski demikian, kemampuan MOAB untuk menghancurkan fasilitas yang berada jauh di bawah tanah masih dipertanyakan. Menurut sejumlah sumber yang memahami perencanaan militer, bom berpemandu GPS tersebut mampu menghancurkan area seluas sembilan blok kota, tetapi kemungkinan tidak dapat menembus cukup dalam untuk menghancurkan fasilitas di Pickaxe Mountain yang diyakini terlindungi lapisan batu granit. MOAB dikembangkan selama Perang Irak sebagai senjata dengan daya ledak besar.
Bom ini meledak di udara sebelum menyentuh tanah sehingga menghasilkan gelombang ledakan ke berbagai arah. Pada tahap akhir pengujian tahun 2003, pejabat militer AS menjelaskan bahwa senjata tersebut pada dasarnya dirancang untuk operasi psikologis. Ledakan besar diharapkan dapat mengguncang pasukan lawan dan mendorong mereka menyerah atau menghentikan perlawanan.
Awalnya, MOAB ditujukan untuk menghantam konsentrasi pasukan, peralatan militer, serta bunker yang diperkuat di permukaan tanah. Penggunaannya kemudian diperluas untuk mencakup sasaran di bawah permukaan yang lebih lunak, seperti gua dan terowongan.
Trump menjadi presiden AS pertama yang mengerahkan MOAB. Pada 2017, saat menjalani masa jabatan pertamanya, ia mengizinkan penggunaan bom tersebut terhadap posisi kelompok ISIS di Afghanistan, termasuk jaringan terowongan bawah tanah yang digunakan untuk menyerang pasukan pemerintah. Menurut pejabat Afghanistan saat itu, serangan tersebut menewaskan 36 petempur ISIS. Pejabat Afghanistan dan AS juga menyatakan ledakan menghancurkan tiga terowongan bawah tanah beserta senjata dan amunisi di dalamnya, tanpa menimbulkan korban sipil.
Sumber: bsinews.id. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
Festival Berlabuh Deli Serdang Tembus 125 Besar Event Nasional
Berawal dari inisiatif para alumni Duta Wisata sejak 2023, Festival Budaya Berlabuh di Deli Serdang terus berkembang hingga masuk dalam 125 besar Karisma Event...
Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan serangkaian arahan tegas dan peringatan keras kepada AS dan Israel.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah memerintahkan militer untuk memperbarui daftar target AS dan Israel serta bersiap untuk menanggapi ancaman apa pun, tanpa memandang...
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Presiden Prabowo Berikan Taklimat kepada Peserta P3MDI dan Rapimnas Kadin di Hambalang
Prabowo Terima 250 Anggota Kadin di Hambalang
Prabowo menerima 250 anggota Kadin dan 400 peserta P3MDI di Hambalang. Pertemuan membahas investasi domestik dan pengembangan industri masa depan.