AS Pertimbangkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Strategis Jadi Sasaran
Amerika Serikat dikabarkan mempertimbangkan serangan baru terhadap Iran. Pentagon menyiapkan opsi militer di tengah risiko konflik dan kenaikan harga energi.

JAKARTA – Amerika Serikat dikabarkan mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan militer berskala besar terhadap Iran. Opsi tersebut muncul di tengah ketegangan yang belum mereda antara Washington dan Teheran, meski peluang diplomasi untuk mengakhiri konflik masih terbuka.
Laporan The Atlantic yang dikutip sejumlah media menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan pilihan militer terhadap Iran menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada November 2026.
Sejumlah pejabat dilaporkan telah meminta Pentagon menyiapkan opsi serangan. Namun, hingga kini belum ada keputusan final mengenai waktu maupun pelaksanaan operasi tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) dilaporkan telah menerima instruksi untuk merampungkan persiapan jika operasi tempur kembali dilanjutkan. Pilihan yang dipertimbangkan mencakup serangan terbatas hingga pemboman berskala besar terhadap sasaran strategis Iran.
Fasilitas energi, infrastruktur militer, serta instalasi nuklir disebut sebagai beberapa kemungkinan sasaran. Meski demikian, rincian rencana tersebut belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah Amerika Serikat.
Seorang pejabat Pentagon menyatakan tugas departemen pertahanan adalah menyiapkan dan menyampaikan pilihan militer kepada presiden. Pernyataan itu tidak memastikan bahwa serangan baru akan benar-benar dilaksanakan.
Trump juga belum memberikan keputusan akhir. Pemerintahannya masih memiliki sejumlah opsi, termasuk melanjutkan tekanan diplomatik terhadap Teheran.
Rencana serangan baru menghadirkan risiko terhadap stabilitas kawasan dan perekonomian global. Jika konflik kembali meningkat, Iran berpotensi melakukan pembalasan terhadap kepentingan Amerika Serikat maupun sekutunya di Timur Tengah.
Eskalasi juga dapat memengaruhi jalur pelayaran dan distribusi energi internasional. Ketidakpastian keamanan di kawasan Teluk berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar, yang pada akhirnya menambah tekanan inflasi.
Sejumlah pihak di pemerintahan Amerika Serikat disebut menilai penggunaan kekuatan militer dapat menunjukkan ketegasan Washington. Namun, langkah tersebut juga berisiko memperpanjang konflik dan mengganggu stabilitas ekonomi.
Di tengah persiapan militer, upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan dengan Iran masih menjadi bagian dari perhitungan Washington. Perselisihan terkait program nuklir Iran dan keamanan jalur pelayaran menjadi sejumlah persoalan utama yang belum terselesaikan.
Serangan baru juga belum tentu menghasilkan kesepakatan yang diharapkan. Sebaliknya, operasi militer dapat memicu aksi balasan dan memperbesar risiko konflik regional.
Hingga keputusan resmi diumumkan, rencana serangan tersebut masih merupakan opsi yang dipertimbangkan, bukan kepastian bahwa Amerika Serikat akan kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!Klik 👉 Channel TIMES IndonesiaPastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Sumber: TIMES Indonesia. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...