AS Kurangi Personel Militer di Timur Tengah di Tengah Ancaman Iran
AS mengurangi personel militer di sejumlah pangkalan Timur Tengah dan memerintahkan staf nonesensial beserta keluarga meninggalkan Arab Saudi di tengah ancaman Houthi.

Ketegangan keamanan di Timur Tengah mendorong Amerika Serikat mengurangi personel militer di sejumlah pangkalan dan membatasi keberadaan staf diplomatiknya di kawasan tersebut. Langkah ini berlangsung di tengah ancaman serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi serta kekhawatiran akan meningkatnya konflik regional, menurut laporan sejumlah media pada 21 dan 22 Oktober 2026.
NBC News melaporkan, dengan mengutip dua pejabat AS dan dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa sejumlah tentara telah dipindahkan dari pangkalan militer AS di Yordania, Qatar, dan Kuwait. Departemen Luar Negeri AS juga mengurangi jumlah personel di sejumlah perwakilan diplomatiknya di kawasan itu.
Menurut sumber yang dikutip NBC News, langkah tersebut menyerupai pengurangan kekuatan AS menjelang perang dengan Iran pada Februari 2026. Namun, laporan mengenai pemindahan personel ini tidak memastikan bahwa Washington telah memutuskan untuk memulai operasi militer baru.
Secara terpisah, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan pegawai pemerintah nonesensial beserta anggota keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengonfirmasi bahwa perintah tersebut hanya berlaku bagi personel nonesensial dan keluarga mereka di negara itu, sekaligus membantah laporan bahwa perintah serupa diberlakukan secara luas di negara-negara Teluk.
Pigott menjelaskan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan peningkatan ancaman kelompok Houthi terhadap wilayah Arab Saudi.
"Kelompok Houthi yang didukung Iran semakin meningkatkan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban sipil serta gangguan perjalanan yang serius," ujar Tommy Pigott, juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Dalam pernyataan lain yang dikutip media, Pigott menekankan bahwa perlindungan personel diplomatik dan keluarga mereka menjadi pertimbangan utama pemerintah AS.
"Keselamatan dan keamanan personel Departemen beserta keluarga mereka tetap menjadi prioritas utama kami, dan kami akan terus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi serta mendukung mereka," ujar Tommy Pigott, juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Ancaman keamanan di Arab Saudi juga tercermin dalam serangan terhadap fasilitas sipil dan energi. Otoritas setempat melaporkan serangan di Bandara Internasional King Fahd di Dammam yang menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.
Kementerian Energi Arab Saudi sebelumnya melaporkan dua orang tewas setelah pertahanan udara mencegat sebuah drone yang berupaya menyerang fasilitas di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco. Kedua insiden tersebut menambah risiko terhadap warga sipil dan operasional infrastruktur strategis di kawasan Teluk.
Kedutaan Besar AS di Arab Saudi juga memperingatkan warga negaranya mengenai kemungkinan peningkatan serangan dan meminta mereka mengikuti panduan keamanan dari otoritas setempat. Kedutaan menyebut situasi dapat memburuk dengan cepat hingga meluas ke wilayah yang sebelumnya tidak terdampak langsung.
Dalam pembatasan perjalanan, pegawai pemerintah AS yang bertugas di Arab Saudi diwajibkan memperoleh izin khusus dari Kepala Perwakilan sebelum menggunakan bandara mana pun di negara tersebut. Menurut peringatan keamanan kedutaan, operasional Bandara Internasional King Khalid di Riyadh masih ditangguhkan, sedangkan Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam tetap beroperasi dengan penundaan serta pembatalan penerbangan.
Di tengah perkembangan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum mengetahui laporan mengenai perintah keberangkatan personel kedutaan dari sejumlah lokasi di Timur Tengah ketika ditanya wartawan pada Rabu.
"Saya tidak tahu apakah mereka diperintahkan untuk pergi. Anda baru saja memberi tahu saya sesuatu yang tidak saya ketahui," ujar Donald Trump kepada para wartawan.
Sementara itu, Axios melaporkan puluhan jet tempur Israel melintasi wilayah udara Suriah dan Irak menuju perbatasan barat Iran pada Senin dalam kegiatan yang disebut sebagai latihan militer. Menurut laporan tersebut, pejabat Israel telah memberi tahu pemerintahan Trump bahwa latihan itu dimaksudkan untuk memperlihatkan kemampuan militernya dan mencegah kemungkinan serangan Iran.
Sumber: Cirebon Times. Baca selengkapnya di sumber
Artikel terkait
Berita terbaru
500 Ribu Orang Diperkirakan Ikuti Demonstrasi Nasional di Prancis Hari Ini
Sebanyak 500.000 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis hari ini, Sabtu (31/10/2026), untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Pemerintah Prancis menyiapkan sekitar...
TechConnect Gelar Liga Matematika Nasional Berhadiah Rp 1 Miliar
TechConnect menggelar The Genius Math League 2026 untuk menjaring talenta matematika dari SD hingga mahasiswa dengan total hadiah Rp 1 miliar.
Harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam enam bulan di tengah kekhawatiran atas situasi AS-Iran.
Menjelang akhir pekan, harga minyak berbalik arah dan melonjak ke level tertinggi sejak akhir April 2026, karena kekhawatiran bahwa konflik dengan Iran dapat meningkat...